VLS 2012 sampai Yogya, Aceh dan Manado

Syamsul Lussa

Syamsul Lussa

Visit Lombok Sumbawa 2012 menarget 1 juta wisatawan setahun, berarti memerlukan sekitar 1,7 juta seat capacity dari angkutan udara maupun angkutan laut. Agar bisa dicapai rata-rata 2,777 orang per hari wisatawan tiba. Saat ini rata-rata baru 300 arrival per hari. Itupun kebanyakan domestik , dengan angkutan udara Garuda Indonesia , Merpati, Lion, dari luar negeri yskni Singapura hanya Silk Air.

Kalangan pemerintah dan industri wisata di Lombok kini kian merasakan urgensinya untuk menapaki langkah kearah upaya menarik airlines agar beroperasi langsung dari luar negeri ke bandara di Lombok . Tanpa itu, kendala akan mengancam tak tercapainya target satu juta wisatawan tahun 2012. Kalau ke pulau Bali, akhir-akhir ini telah mencapai rata-rata di atas 7000 direct arrivals, maka pulau ini mulai berharap lebih 2 juta wisman setahun yang tiba langsung dari luar negeri.

Ditjen Perhubungan Udara, konon mengambil sikap “sangat hati-hati” dalam mempertimbangkan pemberian izin operasi airlines asing ke Indonesia .  Indonesia menandatangani bilateral air agreement dengan lebih 70 negara, tetapi baru separuhnya yang direalisasi. Artinya, sekitar 30 an saja Negara lain yang mengoperasikan maskapai penerbangannya ke Indonesia . Pertanyaannya, mengapa airlines asing belum tertarik terbang ke Indonesia ? Alasan bisa bermacam: mungkin secara komersial dipandang belum menguntungkan, lantaran jumlah penumpang yang diharapkan tidak mencukupi; mungkin keterbatasan armada pesawat yang dimiliki seperti halnya dialami oleh Garuda Indonesia ; mungkin sebab tekhnis lain seperti pelayanan dan kondisi di bandara, dukungan tekhnis, dls.

Ke bandara di propinsi Aceh, penerbangan luar negeri kini hanya dilakukan oleh AirAsia dari Kuala Lumpur . Maka sangat patut sekiranya dipercepat pelaksanaan “persetujuan prinsip” yang dikemukakan oleh Presiden SBY untuk memberikan fasilitas VoA – Visa on Arrival – di bandara Bandaaceh. Maskapai penerbangan nasional Indonesia , mestinya juga membuka penerbangan Kuala Lumpur-Bandaaceh.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan Provinsi Aceh diupayakan segera memiliki sekolah pariwisata agar dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, sehingga dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata di provinsi tersebut.

“Kami akan bekerjasama dengan Pemda Aceh mempersiapkan sekolah pariwisata mungkin setingkat akademi seperti yang ada di Medan ,” kata Menbudpar minggu lalu.

Lain lagi Yogyakarta . Sudah mendapatkan penerbangan setiap hari dari Kuala Lumpur dan Singapura. Tapi merasa bahwa jumlah wisman ke destinasi itu masih belum maju secara “signifikan”. Tahun 1997 konon tertinggi jumlah wisman ke Yogyakarta berjumlah sekitar 300 ribu saja.

Tazbir, kepala Diparda Yogyakarta mengungkapkan minggu lalu, “akan segera membangun konsorsium para agen dengan agen-agen di Malaysia untuk memasukkan wisman ke Yogyakarta dari Kuala Lumpur .” Yogyakarta dihubungkan oleh Garuda Indonesia dan AirAsia dengan Kuala Lumpur .

Beberapa hari lagi akan usai sudah “pesta” besar di Manado. Dari WOC – World Ocean Conference – sampai Sail Bunaken yang diikuti 37 kapal perang Negara undangan dan 10 kapal perang RI, berpuncak ke pesta bawah laut dengan lebih 2000 penyelam, memang 57 di antaranya warga asing alias wisman. Selama lebih dua minggu  antara 3 sampai 4 ribu orang berhimpun di Manado di antaranya 1500 an orang pengunjung dari mancanegara.

Nah, usai peristiwa besar itu, Manado tentu akan dikenang dan dikenal oleh masyarakat di mancanegara berkat laporan berita, newsstory dan tayangan-tayangan di TV di luar negeri berkaitan dengan ‘pesta besar internasional’ tersebut. Niscaya akan tertinggal kini pertanyaan, bagaimana upaya agar wisatawan berkunjung lagi dan kian banyak, karena haruslah mengisi kamar-kamar hotel yang kini sudah mencapai sekitar 5000 adanya di Sulawesi Utara itu.

Jalan wisatawan ke Manado hampir 90 persen bergantung pada layanan penerbangan dari dalam negeri, mulai dari Jakarta, Surabaya, Bali, Makassar. Manado kini hanya dihubungkan oleh SilkAir dan AirAsia dengan Kuala Lumpur dan Singapura.

Ya, bersamaan memerlukan kapasitas angkutan udara dari luar negeri, daerah destinasi juga memerlukan para tour operator yang “aktif” mencari partner di luar negeri, untuk memasukkan wisman. Aceh, Yogyakarta dan Manado itu menunjukkan adanya harapan besar. Siapa yang akan mengambil insitiatif agar menambah penerbangan dan operator tour ?

Syamsul Lussa, Direktur Pengembangan Pasar Depbudpar, memberi perhatian dengan menyatakan betapa kapasitas aksesibilitas udara kita memang jauh tertinggal. Dia pernah mengungkapkan, penerbangan internasional ke Malaysia kapasitasnya berjumlah 50 juta seat, ke Muangthai 40 juta seat, ke Singapura 60 juta seat. Indonesia baru mencatat 13 juta seat.

Gubernur dan Bupati pun agaknya boleh berpikir melakukan pendekatan langsung pada maskapai penerbangan di negeri-negeri jiran, kalau bukan untuk schedule flight, boleh jadi dimulai dengan penerbangan charter. Malaysia-Lombok, misalnya, atau Australia-Lombok, Manado-Hongkong, dst. Who knows ? ===