Dodol difestivalkan, di Garut. (Foto: Pitor)

Dodol difestivalkan, di Garut. (Foto: Pitor)

Pertama kalinya diadakan Festival Dodol Nusantara. Garut mendapat kehormatan menjadi tuan rumah gelaran perdana ini. Ya, memang Dodol praktis identik dengan Garut. Itulah kenapa Kementerian Pariwisata menggelar Festival Dodol Nusantara 2015 di kota itu. Dua hari pada 14-15 November 2015, berpusat di Lapangan Merdeka Kherkop.

Raseno Arya

Raseno Arya. (Foto: Ist)

Tujuannya besar, hendak menguatkan brand image kuliner Nusantara, termasuk dodol sebagai panganan khas Indonesia. Lebih dari 20 pelaku industri dodol asal Garut terlibat dalam Festival ini. Mereka memperkenalkan berbagai varian dodol Garut dan menjajakan produknya. Salah satu merk dodol terkenal, Dodol Picnic, bahkan menyediakan satu stand khusus dimana pengunjung bisa menyaksikan proses pembuatan Dodol Ngora secara langsung di tempat perhelatan festival.

Masyarakat umum jadi tahu bahwa dodol punya banyak varian, seperti dodol coklat, dodol kentang, dodol rasa buah-buahan, rujak dodol, dodol pedas, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa dodol selalu berkembang dari tahun ke tahun dan memiliki sisi-sisi baru yang senantiasa bisa dikembangkan lebih jauh.

“Ingat dodol, ingat Garut. Sejak kecil dodol sudah menjadi panganan khas Indonesia, terutama khas Garut. Sejak saya kecil, dodol selalu jadi oleh-oleh yang dibawa setiap berkunjung ke daerah Jakarta atau Jawa Barat,” ujar Raseno Arya, Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kemenpar, ketika meresmikan pembukaan Festival itu.

Raseno menambahkan bahwa dodol sebagai potensi wisata kuliner bisa berdampak pada banyak hal. Misalnya, dodol Garut bisa mempengaruhi tingkat kunjungan ke obyek-obyek wisata lain di sekitar. Terlebih Garut pun sudah memiliki julukan Swiss van Java dari turis-turis asing. Daerah yang sudah identik dengan salah satu jenis kuliner tertentu biasanya akan lebih mudah mengembangkan tipe-tipe wisata lain.

Selain itu, potensi dodol bisa dikembangkan ke experiential tourism dimana wisatawan tidak hanya sekadar membeli dodol sebagai buah tangan, tapi bisa ikut pengalaman membuatnya di sentra-sentra pembuatan dodol dan membawa pulang hasil buatannya sebagai kenang-kenangan. Hal ini bisa ditiru dari sentra batik di Solo atau Yogyakarta yang menyediakan kesempatan bagi wisatawan untuk ikut mengalami proses pembuatan batik.

Untuk terus memperkuat citra dodol sebagai kuliner khas Indonesia, Raseno berjanji Festival Dodol Nusantara 2016 lebih meriah. Bakal ada lebih banyak pelaku industri yang terlibat, tidak hanya dari Garut tapi juga dari daerah lain di Indonesia. Dodol memang ada di berbagai daerah, seperti dodol kandangan dari Kalimantan, lempok dari Sumatera, jenang dari Jawa Tengah, jawadah takur dari Ciamis, dodol nanas dari Subang, dodol sirsak dari Tasikmalaya, dan sebagainya.

Bupati Garut, Rudi Gunawan, mengaku bangga Garut dipilih untuk menggelar Festival Dodol Nusantara edisi perdana. Menurutnya, Garut memanglah ibukota dodol. Garut dan dodol tidak terpisahkan. Rudi bangga dodol asal Garut sudah terkenal dimana-mana, bahkan memiliki potensi besar untuk melebarkan sayap ke pasar internasional.

Selain pameran dodol, Festival Dodol Nusantara 2015 juga dimeriahkan oleh penampilan dari Wayang Ajen dan musisi legendaris Jawa Barat, Doel Sumbang. Selain itu, tarian tradisional Jawa Barat dan penampilan band-band lokal juga menghiasi festival ini. Untuk melengkapi Festival Dodol Nusantara 2015, juga diadakan lomba merangkai parsel dari produk-produk dodol yang diikuti oleh ibu-ibu dan anak-anak sekolah di sekitar Garut.***(Pitor Pakan)