Potensi Indonesia mengadakan event untuk menarik wisman, memang besar, muai olah raga, budaya hingga festival, karnaval, dan lainnya.

Potensi Indonesia mengadakan event untuk menarik wisman, memang besar, mulai olah raga, seni budaya hingga festival, karnaval, dan lainnya.

Mengharapkan wisman datang berkunjung menyaksikan event di daerah? Beberapa persiapan “dasar” ini perlu diperhatikan dan dilaksanakan. Yaitu:

  1. Pastikan 8-10 bulan dimuka mengenai: waktu, tempat, mata acara kegiatan, informasinya terinci. Dan, nama kegiatan apakah festival, karnaval, lomba olahraga, atau lainnya, disebut event title name.
  2. Mencari Agen Travel atau operator tur setempat yang berminat membuat paket tur dan itinerary tur setempat, dan harga-harganya. Paket itu menjadikan event sebagai hari puncak kegiatan tur-nya; maka disusunkannya itinerary khusus sebagai pre and post event tour.
  3. Tentukan dengan pasti jadwal dan tempat di mana bis-bis wisman itu akan parkir dan tempat-tempat di mana wisman akan menyaksikan acara kegiatan, atau di mana mereka mungkin ada yang bisa ikut terlibat? Terlibata dalam arti apakah sebagai peserta, atau sebagai penggembira, atau sebagai pendamping peserta pada event yang sifatnya massal seperti event olahraga marathon dan lomba lari, sepeda, dan lainnya.
  4. Mulai menebar informasinya, melalui media apa saja yang bisa digunakan. Pada tahap berikutnya, semakin fokus apakah menyasar pasar wisnus di dalam negeri atau menginginkan wisman dari luar negeri.
  5. Tentukan pasar wisman yang cocok untuk event tersebut, apakah pasar terdekat seperti Singapura, Malaysia, atau sampai regional jarak medium seperti Jepang, Korea, Taiwan, Australia?
  6. Mungkin juga cocok untuk menarik wisman, sebagai peserta, atau sebagai penggembira, atau sebagai pendamping peserta pada event yang sifatnya massal seperti event olahraga marathon dan lomba lari, sepeda, gerak jalan, dan lainnya, dari pasar jarak jauh, Eropa, Timur Tengah hingga Amerika? Maka para agen lokal tadi bisa memasarkan hingga menjual paketnya melalui internet, email, media sosial, dan lainnya. Akan lebih efektif lagi bila bisa mencari Agen di luar negeri yang berminat memasarkan/menjual paket wisatanya.
  7. Agen yanag sudah punya kontak bisnis di luar negeri, atau sudah biasa menangani wisman dari agen di luar negeri, tentu berpeluang pertama bisa memanfaatkan adanya event untuk menjual produk wisatanya.
  8. Mulai menjual paket di pasar luar negeri.

Itu memang beberapa proses dasar. Masih bisa dirinci lagi.  Sebagian atau semua kita mungkin sudah menyadarinya. Memahaminya. Tapi baik kita telaah pengalaman empiris.

Ada saja pimpinan di daerah mengaku yakin dia dan anak buahnya sudah bisa menangani event internasional. Tak perlu lagi menerima saran pendapat. Apa yang terjadi? Ada programnya menjadwalkan satu grup yang terdiri atas jurnalis, penulis, pengusaha agen perjalanan dan operator tur dari luar negeri di satu hari khusus meninjau tourist spot. Yaitu tempat penangkaran gajah. Setelah menjalani trip di atas bus wisata sekitar tiga jam, tiba di tempat ternyata tak ada gajah di situ karena sehari sebelumnya telah diangkut semua ke tempat lain untuk satu acara yang lain. Satu festival. Betapa kesal dan marahnya para peserta trip tersebut. Dan betapa buruknya citra destinasi pada kalangan travel trade dan media dari mancanegara itu.

(Maafkan cerita di atas diulang di sini, karena pernah ditulis juga di ruangan ini.) Beberapa peristiwa yang “kecelakaannya” mirip, juga terjadi pada beberapa event internasional seperti antara lain di Manado, dan di Toraja.

Tapi satu contoh mutakhir yang bisa dicatat di sini adalah ketika dilaksanakan Festival Bunga di Tomohon beberapa bulan yang lalu. Festival itu sendiri diberitakan sukses, berlangsung marak. Syukurlah. Dapat dipastikan bahwa setidaknya dua hasil berharga dari suksesnya festival tersebut. Pertama, memperkuat dan meluaskan sadar wisata.  Kedua, mendorong dan meningkatkan wisata nusantara.

Dari pengalamannya, seorang operator tur di Manado menceritakan, saat itu festival bunga itu berlangsung, kebetulan tengah menangani grup wisman. Itinerary-nya untuk tur setempat tentu sudah ada sejak awal. Tapi dengan adanya Festival Bunga Tomohon, maka operator tur merasa kreatif hendak membawa grup wismannya untuk menyaksikan festival bunga itu.

Setiba di venue di mana festival berlangsung, rupanya pihak panpel (panitia pelaksana) alias OC, memang tidak punya dalam konsepnya, bagaimana mengatur kalau sungguh wisman datang, baik dalam grup atau individual? Kalau wisman datang berkunjung, di mana mereka sebaikya memarkir kendaraan, di mana titik atau lokasi (apalagi kalau disediakan juga tempat duduk penonton) agar grup wisman bisa menikmati menyaksikan “daya tarik festival” itu, dan seterusnya?

Sang operator tur itu merasa kecewa.(Bisa diduga, wismannya pun tentu kecewa.)

Itulah yang kemudian diceritakannya pada Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara, pada satu forum pertemuan resmi.

Bagusnya, dia pun menyarankan, agar lain kali setiap rencana mengadakan event yang mengharapkan wisman datang berkunjung, hendaknya ada pengaturan persiapan sejak awal mengenai hal-hal yang disebutkannya tadi. Dan, tentu saja beberapa dasar-dasar persiapan seperti dicatat di atas. Semoga.***