Ada 248 juta perjalanan wisnus tahun lalu. (Foto: YD)

Ada 248 juta perjalanan wisnus tahun lalu. (Foto: YD)

Siapa yang tidak suka jalan-jalan? Katakanlah jalan-jalan itu dilakukan pada saat libur di akhir pekan atau hari libur. Jalan-jalan sekedar mencari jajanan di kawasan penjaja kaki lima, makan di restoran atau gerai di mal-mal, atau rekreasi mengunjungi suatu tempat, dan lain sebagainya.

Ketika seseorang memutuskan untuk berekreasi ke sebuah tempat, tentu yang diingat adalah nama kawasan atau daerah/kota. Di akhir pekan ini misalnya, saya merencanakan hanya akan menghabiskan akhir pekan di sebuah mal di pusat kota tempat saya tinggal. Saya ingin menonton film di bioskop, kemudian makan-minum di salah satu restoran, mungkin kalau ada yang menarik dan dibutuhkan saya akan belanja juga. Ah, sebelum pulang beli comro dan martabak dulu di kawasan kuliner kaki lima.

Akhir pekan berikutnya saya ke Bandung bersama keluarga. Di sana kami menginap di kawasan Lembang. Wisata kuliner adalah hal wajib yang dilakukan di kota “sejuta kulinari” ini. Setiba di sana, kami menyambangi dulu tempat-tempat kuliner di sekitar penginapan yang telah direferensikan oleh keluarga dan teman-teman yang tinggal di sana. Ada juga pilihan-pilihan di media sosial, koran dan program-program wisata di TV.

Mengingat kondisi lalu lintas di tengah Kota Bandung  luar biasa padat di akhir pekan, maka pada  keesokan harinya kami memarkir kendaraan di salah satu kawasan yang terkenal sebagai pusat factory outlet (FO). Di sana, cukup berjalan kaki di atas pedestrian yang tidak terlalu lebar dan tidak semuanya dalam kondisi mulus, bisa masuk-keluar deretan FO. Tidak jauh dari sana ada satu ruas jalan yang kini dipenuhi aneka restoran dan kafe. Terjadi perdebatan kecil saat kami memasuki ruas jalan tersebut untuk memutuskan di mana akan bersantap siang.

Untuk menghindari kemacetan panjang saat akan keluar dari Kota Bandung, kami sengaja pulang lebih awal. Meskipun sudah ada tahu bandung dan nanas subang yang kami beli di Lembang dimuat dalam bagasi mobil, rasanya belum ke Bandung kalau tidak membawa aneka bolen, pisang sale, aneka bolu, keripik, batagor dan lain-lain. Belanja di salah satu toko oleh-oleh favorit kami merupakan agenda wajib sebelum memasuki jalan tol Padaleunyi.

Saya tidak ambil pusing kawasan atau kota tempat ketika saya hendak memutuskan untuk jalan-jalan atau berekreasi di wilayah adminsitrasi mana beradanya. Selama kawasan atau kota/daerah itu dapat dijangkau dan tersedia transportasi, dan terdpat tempat-tempat menarik untuk dikunjungi dan bisa berkegiatan di sana-termasuk kegiatan bersantap, harga-harga yang ditawarkan pun bisa terjangkau, ya saya akan datang  ke sana.

Sama seperti Andrew J. Wood, mantan Presiden SKAL, menceritakan dalam sebuah tulisan di eTN (Mar 16, 2014), “tourists vote and travel with their wallets and if they perceive the cost and time required to gain visas, plus the cost of additional charges and levies imposed by both central and local governments, are too high, they will reconsider where they travel to.”

Tentu maksudnya, tamu akan datang bila dia pikir dan rasakan bahwa yang dikeluarkannya akan sepadan dengan yang akan dia alami di tempat tujuan. Yang dialaminya itu termasuk pemenuhan kebutuhan fisik maupun kualitas pelayanan yang diterimanya.

Apakah tamu akan mencari tahu Lembang itu berada di Kabupaten Bandung atau mal itu berada di tengah sebuah kotamadya? They don’t care. (Yun Damayanti)