Ini cerita ringkas dari perjalanan wisata ke Sulawesi Selatan. Mendarat di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, jam satu siang. Terminal bandara itu tampak megah, modern, atapnya selain menjulang tinggi, dikelilingi oleh dinding kaca maka serba transparan. Ketika berada di dalamnya, kita bisa merasa seperti di salah satu bandara di luar negeri.

Program terbaik adalah menginap satu malam di kota Makassar dan menikmati suasana kota sore hari hingga matahari terbenam. Tentu saja ke pantainya yang terkenal : Losari. Esoknya, berangkat jam 8 pagi menuju Tator, singkatan Tana Toraja. Siapa saja yang disapa, sikap ramah akan kita terima. Sulsel memang merupakan salah satu DTW, Daerah Tujuan Wisata, dengan kata lain, merupakan satu di antara untaian zamrud di katulistiwa. Sebutan itu pernah menjadi tag line untuk pariwisata Indonesia ketika berpromosi ke mancanegara, di tahun 1980an.

Sejak dahulu sampai sekarang, jarak 328 KM dari Makassar ke Rantepao, kota kabupaten Tana Toraja, ditempuh antara tujuh sampai delapan jam. Meliwati kota pantai Pare-pare. Saat ini, sepanjang jalan raya dari Makassar sampai Parepare sedang dalam pengerjaan up grading, aspal diganti lapisan beton, tampaknya akan rampung sekitar pertengahan tahun ini. Dapatlah diperkirakan perjalanan akan menjadi lebih singkat, boleh jadi bisa ditempuh sekitar lima jam.

Jarak tempuh dengan mobil lebih tujuh jam itu, selama ini tetap saja dinikmati oleh para wisman. Tana Toraja dengan budaya yang etnik khas, pernah menarik banyak wisman datang dari ujung-ujung dunia di Eropa dan Amerika. Jauh lebih banyak dari sekarang ini. Ya, di masa lalu itu para wisman dari negeri Baratlah yang kebanyakan ditarik oleh magnit Tator. Ketika sama sekali belum ada tempat persinggahan yang ”representative” untuk istirahat atau makan siang, diperjalanan tadi, maka grup wisatawan dalam bus turis disediakan lunch box. Mereka tetap enjoy.

Nah, ketika tiba di Tator, sebelum atau sesudah masuk kota kecil Rantepao, terdapat beberapa hotel berbintang. Hotel non-bintang atau penginapan kecil terdapat lebih banyak. Sore hari pertama sampai malam, wisatawan menikmati kesejukan udara, lingkungan yang rindang, di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.

Esok harinyalah kesempatan berkeliling menghampiri kehidupan sehari-hari masyarakat Toraja. Objek wisata pertama, ke desa Palawa. Satu kawasan rumah-rumah adat Toraja, kita lihat ibarat museum hidup. Sederetan rumah adat Toraja, yang berbaris berhadap-hadapan mengelilingi suatu tanah lapang, rumah-rumah itu ditempati oleh penduduk, dan kehidupan dengan adat asli mengalir di situ entah sejak berapa ratus tahun yang lalu.

Penghuni rumah-rumah adat itu akan beramah tamah dengan pengunjung, menceritakan riwayat adat mereka, dan akan menjawab pertanyaan yang diluncurkan oleh hati dan pikiran pengunjung yang niscaya akan penuh ‘curiosity’.

Dari Palawa, usai bercengkerama dan usai mengabadikan dengan kamera tampilan rumah-rumah adat yang atapnya mengerucut menjulang ke langit, kunjungan berikutnya menuju ke desa lain, namanya Londa. Lokasi ini pun seakan magnit yang menarik keingintahuan pengunjung. Itulah perbukitan, yang rimbun menghijau, dan persis di lokasi yang telah menjadi objek wisata itu, sentuhan kepariwisataan memang semakin terasa.

Di bukit Londa, tradisi masyarakat Tator dilaksanakan, di mana keluarga yang telah almarhum, dibuatkan patung yang menampilkan wajah dan postur semasa hidup, lalu patung tersebut ditempatkan di lereng perbukitan Londa, dan goa-goa yang terdapat di bawahnya.

Pengunjung niscayalah ingin memasuki goa. Karena gelap, sekitar 15an orang muda bersiap dengan masing-masing lampu petromaks di tangan mereka. Sewanya Rp 20.000. Tapi jika ingin ditemani sekaligus berfungsi guide, untuk “tur ke dalam gua” maka tips untuk fungsi guide ini ”tidak ada tarif”. Terserah pengunjung.

Berkeliling dan mengapresiasi kehidupan dengan adat istiadat masyarakat Tator, setidaknya bisa dihayati dengan menginap dua malam di kawasan ini. Namun sebagian wisman dari negeri Barat selama ini mengapresiasi kehidupan di Tator dengan tinggal dua sampai tiga hari. Bahkan ada yang lebih lama lagi. Manakala Indonesia dilanda krisis ”image” di pasar internasional, berkaitan isyu keamanan keselamatan sebagai dampak rentetan peristiwa bom teroris, peristiwa Mei 1998 dan seterusnya, kunjungan wisman ke Tator memang anjlok.

Kini saatnya sungguh tepat untuk bangkit kembali. Dimulai dari tersedianya infrastruktur  bandara yang megah, dan tak lama lagi, jalan raya lebih mulus dari Makassar hingga Tator.

Di penerbitan lain, saya menulis : Wahai orang muda, kunjungilah Toraja…