Pembaca, mari kita bandingkan beberapa pemandangan dan perjalanan dari sungai-sungai yang berbeda ini. Di sepanjang tepian Sungai Singapura di kawasan Boat Quay, suasana menjadi lebih hidup selepas pukul sebelas siang dan terus berlanjut hingga tengah malam. Di satu sisi sungai, berderet gedung-gedung pencakar langit modern yang menjadi kantor berbagai institusi finansial terkemuka global di kawasan Asia Tenggara dan Asia. Di sisi lainnya, museum-museum menempati gedung-gedung peninggalan masa kolonial yang indah. Jika dilihat dari atas kapal wisata yang berpesiar di atas sungai, gedung-gedung perkantoran dan museum-museum yang menjadi latar belakang shop houses tua yang dijaga dan dirawat dengan sangat baik untuk kemudian dimanfaatkan kembali jadi aneka toko, restoran dan pub, seolah tampak sebagai pelindung ingatan kisah dan histori dari negara kota Singapura. Suara pemandu berbahasa Inggris yang direkam dan diperdengarkan selama perjalanan di atas kapal memperjelasnya.

Selepas pukul sebelas siang, pekerja dari kawasan center business district di situ mulai turun dan meramaikan kawasan di sepanjang tepian sungai. Saat jam makan siang tiba, undakan di tepian sungai dipenuhi berbagai macam orang dari berbagai etnis dan bangsa. Sebagian besar tampaknya ialah pekerja kantoran, terselip diantara keriuhan ialah wisatawan mancanegara. Rata-rata mereka memanfaatkan waktu dan tempat itu untuk makan siang, beristirahat dan bersosialisasi.

Restoran dan kafe juga dipadati pengunjung. Sebagian besar restoran dan kafe punya dua bagian ruang, di dalam shop house dan di luar yang menghadap ke sungai. Banyak meja di luar sudah dipesan. Sebagian pengunjung yang memesan meja itu menggelar meeting baik bersama kolega ataupun kliennya.

Sebagian lain restoran, kafe, pub dan klub di kawasan Boat Quay buka mulai sore hingga larut malam. Permainan cahaya dan musik menghentak selalu menghidupkan kawasan di tepian sungai ini setiap hari. Wisatawan turut memenuhi kawasan itu bersama dengan warga dan residen lokal.

Di sisi lainnya dimana museum-museum berada, pohon-pohon besar nan rindang menaungi pedestrian yang lebar dan nyaman. Orang-orang yang tidak menginginkan suasana ramai hanya perlu menyeberang melalui jembatan-jembatan cantik nan kaya cerita sejarah pula dari kawasan yang ramai tadi. Memanfaatkan waktu istirahat siang sambil membaca buku, beberapa pekerja bangunan terlihat tidur siang, di sini juga terlihat lebih banyak turis, terutama lansia dan keluarga kecil yang membawa balita berjalan-jalan santai. Sesekali mereka berhenti di depan karya-karya seni rupa yang dipajang permanen di depan sebuah museum.

Wisata menyusuri Sungai Kahayan dan Rungan di Palangkaraya.(Foto:YD)

Wisata menyusuri Sungai Kahayan dan Rungan di Palangkaraya.(Foto:YD)

Kalimantan

Masih sekitar waktu makan siang, antara pukul sebelas hingga dua belas, gerombolan kera abu-abu (Macaca fascicularis) gaduh diantara pohon-pohon di dalam hutan sekunder di sepanjang tepian Sungai Kahayan yang membelah kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Di Pulau Hampapak, orang utan (Pongo pyegmaeus) dengan tenang mendatangi pos-pos yang menyediakan pakan kesukaan mereka. Yup, ini adalah saatnya makan siang bagi mamalia paling dekat dengan manusia. Gerombolan kera abu-abu tampak tidak terganggu dengan kegaduhan suara motor dari hillir mudik kelotok-kelotok dan kapal-kapal berukuran sedang yang membawa pelancong lokal, wisatawan domestik dan mancanegara berwisata menyusuri sungai. Dengan mematikan motor di kelotok dan kapal saat melewati pulau kecil di tengah sungai, orang utan menikmati makan siangnya dengan santai dan wisatawan sibuk dengan kameranya masing-masing.

Masih di Kalimantan Tengah, kelotok-kelotok tradisional yang telah dimodifikasi menjadi kapal liveaboard menyusuri sungai-sungai beserta hutan tropis dan wetland Borneo yang masih tersisa. Percakapan santai dalam bahasa asing dan ‘gado-gado’ mendominasi di atas kapal-kapal itu. Banyak pula turis hanya duduk terpekur di bagian depan atau di atas kapal menghayati perjalanan menuju Taman Nasional Tanjung Puting.

Sungai Musi Sumsel

Nadi perekonomian di hilir Sungai Musi masih berdenyut cukup kencang di kota Palembang. Hilir-mudik kapal dan tongkang berukuran sedang hingga besar membawa berton-ton batubara dari pedalaman Sumatera Selatan. Kelotok-kelotok yang membawa penumpang meskipun jumlahnya diperkirakan terus menyusut, tampak juga hilir-mudik. Pada sore hari, warga dan turis beramai-ramai berkunjung ke dermaga di depan Benteng Kuto Besak. Jembatan Ampera memang cukup cantik kala gelap mulai menyelimuti Palembang.

Wisata menyusuri di tengah kota Surabaya dari Taman Prestasi. (Foto:Ist.)

Wisata menyusuri di tengah kota Surabaya dari Taman Prestasi. (Foto:Ist.)

Surabaya

Di tengah-tengah Kota Surabaya, ada beberapa perahu kecil ditambatkan. Pengunjung bisa menaikinya dari Taman Prestasi sampai Jembatan Gubeng dekat Monkalsel dengan membayar sekitar Rp 10 ribu per orang untuk menyusuri sungai secara singkat. Air sungainya berwarna coklat, tidak ada yang terlalu istimewa untuk dilihat. Tetapi itu menjadi sesuatu yang masih langka saat ini dapat melihat kota dari atas sungai di tengah kota metropolitan di Indonesia.

Sungai Singapura, Chao Praya, Sungai Mekong, Sungai Han kini menjadi atraksi wisata kota di Singapura, Bangkok, Vietnam dan Seoul. Sebelum menjadi keadaannya seperti sekarang, beberapa dekade lalu sungai-sungai itu juga menjalani kisah pengabaian oleh warganya. Sempat nyaris dilupakan sebab infrastruktur di darat seperti jalan raya dan jembatan memobilitas manusia dan barang lebih cepat. Padahal kepada sungai-sungai itu mereka menggantungkan sebagian kualitas hidupnya mulai dari sebagai sumber air bersih, pengairan, jalur transportasi hingga pengendali banjir.

Sungai-sungai di seluruh negeri Indonesia kini sedang menjalani kisah yang sama dengan sungai-sungai tersebut beberapa dekade lalu. Jumlah manusia akan selalu bertambah begitupun dengan kebutuhannya. Terhadap ketersediaan sumber air bersih, pengairan untuk pertanian dan perikanan darat, mengendalikan banjir dan seterusnya. Kita lupa bahwa memeliharanya berarti menjaga eksistensi hutan dan kawasan tangkapan air di hulu yang berada di pegunungan dan perbukitan di mana sumber mata air sungai-sungai itu berasal. Kita kurang menyadari sebagian besar limbah yang dihasilkan ditranportasikan melalui sungai-sungai secara langsung maupun tak langsung. Beban semakin berat karena lumpur sungai-sungai itu mengandung mineral berharga seperti emas. Jadi, berapa dekade yang dibutuhkan untuk menyadari sunga-sungai itu sama seperti urat nadi di dalam tubuh kita?

Di salah satu tower apartemen yang menghadap ke sungai di Seoul, Korea Selatan. (Foto:Ist.)

Di salah satu tower apartemen yang menghadap ke sungai di Seoul, Korea Selatan. (Foto:Ist.)

Kamar-kamar di hotel dan unit-unit apartemen yang menghadap langsung ke sungai-sungai di Singapura, Bangkok, dan Seoul disewa dan dijual dengan harga yang tinggi. Sebab ada prestise di dalamnya. Begitupun dengan kapal-kapal pesiar yang menyusuri Sungai Mekong melintasi negara-negara di Indocina Vietnam, Kamboja dan Myanmar dijual dalam paket-paket berharga ribuan dolar. Operator wisata menyusuri sungai-sungai di Kalimantan Tengah sudah membuktikannya. Pasarnya ada. Jumlah peminat dari luar negeri lebih banyak, bahkan ada agen dari luar negeri yang mau menjualkan paket-paket wisata menyusuri sungai di Kalimantan dengan harga lumayan tinggi di negaranya.

Sungai di sore hari.Mengubah kebiasaan dan pola pikir menjadikan sungai dan tepiannya sebagai halaman depan tidak mudah.(Foto:YD)

Sungai Musi di sore hari.Mengubah kebiasaan dan pola pikir menjadikan sungai dan tepiannya sebagai halaman depan tidak mudah.(Foto:YD)

Tetapi para operator wisata itu bukan hanya membutuhkan dukungan finansial dan infrastruktur keras transportasi air saja, tetapi yang lebih penting adalah dukungan dari kita semua dengan mengontrol diri atas kemauan untuk memuaskan semua kebutuhan materi dan fisik dengan mengeksploitasi alam dan lingkungan secara masif.

Terbangun karena badan bergoyang-goyang, lupa sedang berada di atas kelotok. Saat mata ini terbuka, mentari baru saja bangun dari peraduannya. Berkano menuju danau-danau tersembunyi yang terbentuk dari sungai-sungai besar di bawah langit nan biru jernih di siang hari dan mendapati hutan yang tenggelam (the sinking forest) itu nyata adanya. Kawanan kunang-kunang seakan mengantar kita menjemput malam setelah Sang Dewi kembali ke peraduan. Sepanjang perjalanan di atas sungai bukan hanya menunggu kesempatan bertemu langsung dengan kawanan pongo, sesekali burung kingfisher berwarna cerah menukik di atas permukaan air dan terlihat lebih memikat daripada gambar di dalam buku atau majalah. Ketika turun ke daratan, menari bersama dengan warga di kampung-kampung diiringi tetabuhan musik penuh semangat. Saat bulan purnama, bulatnya sempurna menggantung di langit hitam, membagi sinarnya untuk menerangi kampung-kampung berpenerangan redup.

Itu baru sekelumit gambaran saat menyusuri sungai di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dan masih begitu bnyaknya sungai menyimpan keeksotisan Nusantara menunggu pembukaan tabirnya. *** (Yun Damayanti)