Yah, setidaknya ke Singapura orang kita tetap ramai. Dan ini foto tur river cruise di kota. Kapan kita punya seperti itu? Atau, lebih dari itu? (Foto: AH)

Yah, setidaknya ke Singapura orang kita tetap ramai. Dan ini foto tur river cruise di kotanya. Kapan kita punya seperti itu? Atau, lebih dari itu? (Foto: AH)

Rupiah melemah, apakah berarti harus menyetop hobi traveling sama sekali? Yang terbiasa traveling dengan memakai mata uang dolar AS tentu akan sangat terpengaruh. Namun, menurut lansiran TTG Asia, orang Indonesia tidak serta merta menghentikan aktivitas traveling mereka saat kondisi moneter tidak stabil seperti sekarang. Traveling tetap, yang berubah adalah pola travelingnya.

Memang samalah dengan masyarakat di negeri kuat ekonominya, ketika ekonomi galau dan dekat-dekat ke resesi, mereka mengubah pola traveling agar tetap bisa beepergian.

Mereka yang sudah menyiapkan budget untuk traveling sejak jauh-jauh hari akan menyesuaikan diri dengan situasi terkini. Misalnya, dengan traveling ke destinasi yang lebih dekat atau berpergian dalam waktu yang lebih singkat. Rencana untuk berpergian ke tempat yang jauh atau dalam waktu lama mungkin tak bisa terealisasi, tapi hasrat traveling bisa tetap terpuaskan.

“Karena krisis, orang-orang tidak akan berwisata jauh, sebagian besar dalam negeri, atau ke negeri tetangga seperti Singapura,” ujar Gaery Undarsa, managing Director dan Co-Founder Tiket.com, seperti dikutip National Geographic Indonesia.

Selain traveling ke destinasi yang lebih dekat dan dalam waktu yang lebih pendek, solusi lain yang bisa ditempuh adalah dengan mengunjungi negara-negara yang depresiasi mata uangnya terhadap dolar AS lebih parah dari Indonesia. Contohnya, nilai mata uang rubel Rusia merosot 47 persen terhadap dolar AS, lira Turki 27 persen, dolar Australia 22 persen, krona Swedia 19 persen, dan krone Denmark 22 persen. Data itu didapat hasil kompilasi Bank Indonesia terhadap performa mata uang asing terhadap dolar AS selama 52 pekan sejak 30 Juni 2014.

Dibandingkan Rusia, Turki, Australia, Swedia, dan Denmark, apa yang dialami Indonesia relatif lebih baik. Rupiah “hanya” merosot sebesar 14 persen terhadap dolar AS. Oleh karena itu, berpergian ke lima negara tersebut bagi orang Indonesia akan terasa lebih murah dibanding sebelumnya. Fakta itu sudah ditelaah Panorama Tours Indonesia yang akan segera mempromosikan lima destinasi itu dengan menawarkan paket-paket spesial kepada konsumen di Tanah Air.

Situasi tersebut mirip dengan yang dialami turis-turis Cina. Meski kondisi Cina sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, beberapa negara tetap merasakan curahan pendapatan dari pengeluaran para turis Cina. Jepang, Thailand, dan Australia adalah beberapa negara yang tetap ramai dikunjungi wisatawan Negeri Tirai Bambu. Sementara itu, kedatangan dan pengeluaran wisatawan Cina di berbagai negara lain mengalami penurunan.

Oleh karena itu, wisatawan lokal dan pelaku bisnis pariwisata harus bisa jeli di tengah ketidakstabilan moneter seperti saat ini. Masyarakat mesti pandai mencari celah agar tetap bisa traveling. Sedangkan, pelaku bisnis wajib memutar otak dan mengembangkan inovasi agar tidak merugi serta mampu meraup laba.

Bisnis agen perjalanan, misalnya, tengah dihadapkan pada situasi pelik karena rupiah melemah. Rata-rata mengalami penurunan omzet dibandingkan tahun lalu akibat sepi peminat. Menggenjot destinasi lokal dan menawarkan terobosan ke negara-negara yang mata uangnya merosot lebih parah dari rupiah bisa menjadi solusi. Jadi, perlu juga kreativ dan inovatif, ya?***(Pitor Pakan)