Great Wall Janjang Saribu Koto Gadang,Sumatera Barat.(Foto:srijayaholiday.com)

Great Wall Janjang Saribu Koto Gadang,Sumatera Barat.(Foto:srijayaholiday.com)

Konsumen wisata halal mancanegara terutama dari sumber pasar utamanya, Timur Tengah, ternyata juga senang melakukan aktivitas menantang di antaranya paralayang, arung jeram, trekking, dan off-road,—selain menyukai daya tarik wisata alam. Itu diceritakan berdasarkan pengalaman para pelaku industri wisata halal di Bali dan Lombok. Mereka rata-rata bepergin bersama keluarga, minimal keluarga inti antara 2 sampai 5 orang. Maka mereka mencari destinasi ramah keluarga, punya berbagai atraksi dan aktivitas yang bisa dilakukan oleh seluruh anggota keluarganya.

Masih hangat informasi viral di dunia maya mengenai great wall di Sumatera Barat. Namanya Janjang Koto Gadang. Berada di kawasan Ngarai Sianok, tidak jauh dari Bukittinggi. Sekarang di situ wisatawan dapat melakukan soft atau hard trekking. Untuk soft trekking melalui rute menurun mulai dari Koto Gadang menuju Bukittingi. Ada juga rute menanjak penuh tantangan dari Kampung Perak ke Koto Gadang. Aktivitas itu dapat dilakukan siapa saja dari berbagai rentang usia. Pengalaman dari satu operator tur di Padang yang membawa wisman dari Timur Tengah mengatakan, tamunya menyukai program itu.

Teluk Bayur dilihat dari jalan raya dari Bunguih menuju kota Padang.(Foto:YD)

Teluk Bayur dilihat dari jalan raya dari Bunguih menuju kota Padang.(Foto:YD)

Sekarang sedang dibangun jalan antara Padang-Painan, Pesisir Selatan. Jalan itu diproyeksikan bisa mempersingkat waktu tempuh dari dua jam menjadi 30 menit saja. Seperti jalan di tepi Teluk Bayur, satu sisi di jalan itu adalah laut dan di sisi lainnya dinding bukit yang masih hijau oleh pepohonan.

Dari Painan wisatawan bisa menyewa kapal, berkeliling ke pulau-pulau di kawasan Mandeh. Menurut satu operator tur lokal, di sana sekarang telah tersedia kapal-kapal mulai dari yang bertarif murah sampai yang mahal.

Ada dua pilihan berkunjung ke Mandeh dari Padang. Pertama, lewat jalan darat kemudian naik kapal dari Painan. Kedua, dari Padang naik kapal sampai ke Pesisir Selatan langsung mengelilingi pulau-pulau di Mandeh dan kembali ke kota melalui jalan darat. Untuk pilihan kedua ini, wisatawan dapat menikmati perjalanan di perairan pesisir barat Sumbar di atas kapal mewah. Biaya sewanya Rp 25 juta untuk 1-day tour dari Padang ke Pesisir Selatan.

Mandeh adalah nama sebuah kawasan terdiri dari pulau-pulau kecil. Setiap pulau mempunyai potensi berbeda-beda. Ada yang mempunyai tempat bagus untuk snorkeling dan pantai-pantai indah. Sementara, akomodasi yang tersedia di sana masih sederhana.

Novotel Bukittingi,Sumatera Barat.(Foto:novotel.com)

Novotel Bukittingi,Sumatera Barat.(Foto:novotel.com)

Di seluruh Sumbar telah tersedia akomodasi mulai dari non-bintang sampai bintang 4. Di Padang sekarang sudah ada 10 hotel bintang 4. Di ibu kota provinsi tersedia sekitar tiga ribu kamar. Saat ini di Bukittinggi pun sudah tersedia tiga hotel bintang 4.

Hotel berjaringan internasional telah masuk, yakni Mercure, Novotel dan Ibis dari grup Accor. Merek-merek hotel tersebut dapat ditemui di kota Padang dan Bukittinggi. Selain itu, resor-resor pantai mulai tumbuh khususnya di Kepulauan Mentawai. Di sana salah satu destinasi paling diincar para peselancar dunia. Dan sebentar lagi akan tersedia akomodasi condotel di Padang.

Setelah Mandala Tiger berhenti beroperasi, sampai saat ini praktis Bandara Internasional Minangkabau hanya terkoneksi dengan Kuala Lumpur, Malaysia oleh AirAsia. Wisman bisa memanfaatkan hub Bandara Kualanamu, Bandara Hang Nadim di Batam dan bandara di Jakarta ke Padang. Membuka akses penerbangan langsung dari Timur Tengah ke Sumbar bukan hal mudah dilakukan.

“Wisatawan dari Timur Tengah tidak mau repot. Mereka akan mencari penerbangan langsung. Kalau belum adapun mereka akan mencari penerbangan yang tidak mempersulit perjalanannya. Jakarta bisa jadi hub bagi Sumbar karena rute Jakarta-Padang masih lancar,” kata Ian Hanafiah, Ketua ASITA Sumbar.

Peluang wisata halal berkembang di Indonesia sangat besar. Tetapi tantangan terbesar juga ada di situ, begitu menurut Ian. Pada awalnya di Sumbar demikian. Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini membuat kita sedikit lengah ketika mengemas produk-produk pariwisata dan mempersiapkan destinasinya. Lupa pula untuk mempromosikannya.

Wisatawan muslim mancanegara mau berkunjung ke Indonesia bukan hanya karena ingin menikmati keindahan alamnya saja, tetapi mereka ingin merasakan kerukunan hidup masyarakat Indonesia, mencicipi makanan khas Indonesia seperti yang diceritakan atau dimasakkan oleh pekerja rumah tangganya asal Indonesia, dan membeli muslim apparel buatan Indonesia yang beragam dan inovatif.***