Ary Sudarsono. (Foto:AH)

Ary Sudarsono. (Foto:AH)

 1). Sport Tourism, menjadi “hot commodity” di dunia kini. Kepada Ary Sudarsono, saya memang menganjurkan, katakanlah “melempar ide” agar membuka satu kegiatan semacam “sekolah vokasi olahraga”.  Itu dalam kaitan dengan ide-ide yang sedang diwacanakan untuk mengembangkan “sport tourism” di Indonesia.  Contoh ekstrim adalah kota Dubai, di tahun 2015 mencatat hasil ekonomi dari sport tourism US$ 1,7+ milyar setahun total pembelanjaan di kota itu yang berkaitan dengan “sport”,  dan US$ 670 juta total economc impact of sport in Dubai. (Sumber : dubai Sport Council 2017). Nah, itu baru satu kota saja, kendati harus disadari dan diakui “prestasi” tersebut tentu berkaitan dengan kemajuan pesat yang istimewa dari pembangunan dan pengembangan kota itu sebagai tempat yang serba ultra modern.

Lalu, di lain kesempataan seorang “ahli wisata olahraga” (Dr Peter E. Tarlow) menyimpulkan antara lain begini:  Ada banyak “sekolah olahraga” di seluruh dunia yang akan menerima kelompok atau individu. Misalnya, Akademi Sepak Bola Pierre de Coubertin Portugal, yang terletak di Santa Maria da Feira, tepat di luar Oporto akan mengajarkan bagaimana menggabungkan seni sepak bola ke dalam kehidupan bisnis seseorang. Pusat peningkatan ketrampilan ini merupakan cara yang bagus untuk meningkatkan potensi wisata masyarakat. (dari: tourismandmore.com)

2).  Ary Sudarsono sendiri merasa yakin dan teguh membawakan ide, bahwa di Indonesia kini sungguh diperlukan berkembangnya kegiatan bisnis atau profesi “kepromotoran” di bidang kegiatan event olahraga, lebih tepatnya lagi untuk pengembangan sport tourism.

Kekayaan potensi Indonesia demikian luas tersebar secara geografis di berbagai destinasi pariwisata, dan ada pertumbuhan semangat mengadakan “sport tourism” antara lain seperti lomba sepeda, lomba lari, dan, sebenarnya banyak cabang olahraga lain yang bisa dilaksanakan di Indonesia yang sekaligus menjadi daya tarik mendatangkan kunjungan wisman (selain wisnus).

Tetapi, ya seperti disebutkan tadi, menurut Arie Sudarsono, diperlukan pengelolaan event yang professional, berkelas internasional, kalau mau menarik kunjungan wisman. Ihwal pengelolaan event itulah Arie Sudarsono mengingatkan perlunya ditumbuhkan di daerah para “promotor”.

3). Yang menarik perhatian dan “menggembirakan” belakangan ini ialah Menteri Pariwisata Arief Yahya telah “mendalam” berbicara tentang sport tourism bagi Indonesia. Menpar bahkan meloncat cepat menyinggung dan “mengarahkan”  HOW TO pelaksanaan event olahraga untuk pariwisata itu, mendahului para pelaku bisnis pariwisata sendiri yang tampak tak “aware” alias tak cepat “mudeng” tentang  peluang bisnis sport tourism.

Berbicara penyeleggaraan event, salah satu kelemahan kita adalah tidak tepat waktu, kata Menpar. Satu contoh pada aspek ekonominya, Menpar menyebut event musik jazz di London, dengan biaya GBP 200K, (poundsterling Inggeris),  output-nya bisa hampir GBP 1 juta.

“Saya ingatkan,”ujar Menteri, kelemahan kita di daerah-daerah, uangnya dihabiskan hanya untuk membiayai event-nya. Mestinya, 50% untuk event dan 50% untuk media. Pembiayaan media untuk promosi, publicity, PR-ing tersebut, dibagi menjadi 50% untuk pre event, On event-nya 30%, post event-nya harus kita jaga 25%.

Kemenpar hanya memfasilitasi untuk melaksanakan strategi dan kegiatan promosi, pubisitas media, dan tidak akan menyentuh event. “Saya tahu kelemahan daerah tidak memikirkan promosi dan media. Maka Kemenpar menutupinya,” ujar Menpar Arief Yahya.

Ketika anda mengadakan sport tourism, memang diakui, direct impact-nya kecil. Tapi, perhatikan media value-nya yang besar.

Dengan kata lain, media value yang besar itulah dimanfaatkan atau “diproduktifkan” agar menarik wisatawan datang berkunjung ke destinasi di mana event sport tourism itu diselenggarakan.

4). Dr Tarlow tadi menambahkan: Dari perspektif pariwisata, olahraga benar-benar dua komoditi yang berbeda, komoditi pasif yang disebut “olahraga penonton” dan komoditas aktif yang disebut “olahraga partisipatif.” Tontonan olahraga benar-benar bagian dari industri hiburan. Olahraga penonton dan partisipan dapat memainkan peran utama dalam industri pariwisata masyarakat dan dalam kualitas hidupnya.

Di tengah olahraga profesional dan akademis (di lingkugan kampus) dan olahraga partisipatif inilah yang bisa disebut olahraga liga armatur. Turnamen ini bisa sangat membantu industri pariwisata selama musim di luar musim puncak (peak season) dan para pemain sering membawa seluruh keluarga mereka ke seri terlokalisasi ini. Untuk membantu Anda mengembangkan program wisata olahraga yang tepat untuk masyarakat,  Anda dianjurkan mempertimbangkan beberapa gagasan berikut: Gunakan wisata olahraga untuk memberi citra baru kepada masyarakat Anda. Dari perspektif pariwisata jangan campurkan dengan pendapat atau kegiatan politik. Tentukan fasilitas apa yang dimiliki komunitas Anda dan bangun program wisata olahraga Anda sebaik mungkin yang bisa Anda tawarkan. Tawarkan kepada pengunjung Anda fasilitas dan peralatan terbaik yang mungkin ada. Kelilingi fasilitas olahraga Anda dengan lingkungan yang menyenangkan, juga untuk mendorong orang untuk tinggal di kota setelah acara olahraga berakhir. Ketahui kondisi di mana tim turnamen harus bersaing. Atlet ingin tahu apa yang diharapkan, kondisi permainan apa yang akan terjadi, dan tantangan apa yang akan mereka hadapi.

Wisata olahraga, seperti bentuk pariwisata lainnya, mengharuskan Anda memelihara daftar komunitas yang baik, dan nomor-nomor kontak untuk situasi darurat.

Sensitif usia. Terutama jika Anda mempromosikan kegiatan yang partisipatif, tahu apa dan mana yang kebutuhan khusus.

Gunakan olahraga sebagai alat untuk mengajari orang keterampilan baru. Banyak orang suka menggabungkan perjalanan dengan peningkatan kemampuan. Pertimbangkan untuk mengembangkan daftar atlet, pembentuk atlet profesional atau pusat pendidikan yang mungkin bersedia menerima turis untuk tujuan mengajar mereka atau membantu mereka meningkatkan keterampilan sport tertentu.

 5). Terkait yang terakhir itulah, saya mengajukan ide pada Arie Sudarsono. Tentu dengan harapan, pemerintah pun akan memberikan dukungannya.

Bahkan, promotor adalah satu aspek. Ada aspek lain. Mengingat pengembangan yang relatif cepat diperlukan untuk sport tourism ini, semangat dan keinginan mengadakan event olahraga pariwisata di banyak daerah pun memerlukan “guidance” alias “panduan” yang memberikan panduan secara idil, tekhnis plus komersial, hingga mekanisme HOW TO melaksanakan event yang sekaligus bisa mendatangkan kunjungan wisman dan wisnus lebih banyak dari biasanya. Potensi Indonesia relatif besar dalam hal itu. Menpar telah mulai mengarahkan beberapa detil HOW TO untuk menyelenggarakan sport tourism event. Elaborasi lebih lanjut dari awal yang telah diungkapkan oleh Menpar tersebut tadi, — lalu dijadikan SOP perencanaan dan penyelenggaraan event dimaksud di setiap daerah, — tentu akan sangat membantu semua sport tourism di semua daerah dari Sabang sampai Merauke, dengan pelaksana-pelaksana yang akan dikelola oleh para “promotor”.***(Arifin Hutabarat)