Taman Hutan Raya Ir.Juanda di Bandung sekarang.(Foto:YD)

Taman Hutan Raya Ir.Juanda di Bandung sekarang.(Foto:YD)

Kedua persoalan tersebut tidak hanya ada di Taman Nasional Gunung Rinjani saja. Itu juga dihadapi di taman nasional lainnya seperti Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Taman Nasional Wakatobi, bahkan di Taman Nasional Bali Barat sekalipun. Juga di taman-taman wisata alam seperti Taman Wisata Alam Ijen di Jawa Timur dan Taman Hutan Raya Ir. Juanda di Jawa Barat.

Wisatawan, terutama wisman, menikmati akomodasi resor yang sophisticated di dalam zona pemanfaatan Taman Nasional Bali Barat. Tapi pengalaman itu berubah jadi menjengkelkan ketika masuk ke dalam taman nasional untuk trekking, snorkeling/diving dan kegiatan luar ruang lainnya. Tidak disangka di sana mereka menemui sampah.

Ini pengalaman dua tahun lalu. Betapa terkejutnya, saat sedang menikmati panorama hamparan pasir putih dengan perairan laut yang tenang di pagi hari di sekitar pantai Cemara di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi, seorang ibu muda, penduduk lokal, menuangkan isi keranjang sampahnya ke laut itu. Ya, Tuhan! Menurut penduduk lokal, mereka telah dihimbau tidak membuang sampah rumah tangga ke laut. Tapi, mereka tidak tahu bagaimana memperlakukannya pun belum ada upaya mengumpulkan sampah warga ke satu tempat pembuangan akhir yang terkelola, waktu itu. Gugusan pulau di Wakatobi adalah sebuah wilayah administrasi kabupaten yang juga merupakan taman nasional.

Ini pantai Cemara,tak jauh dari Sombu Dive wharf,salah satu titik memulai snorkeling dan diving di Pulau Wangi-wangi,Wakatobi.(Foto:YD)

Ini pantai Cemara, tak jauh dari Sombu Dive wharf, salah satu titik memulai snorkeling dan diving di Pulau Wangi-wangi,Wakatobi.(Foto:YD)

Gunung Bromo, ikon wakil semua gunung di Nusantara dalam materi promosi pariwisata Indonesia terutama ke mancanegara, sejak dahulu. Sekarang gunung berapi aktif ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.

Ketika pertama kali mengunjunginya melalui pintu Malang, bulan April 2014 lalu, jip-jip berhenti di depan sebuah pos sebelum memasuki kawasan taman nasional. Tidak ada penerangan di sana. Sinar bulan yang sedang purnama waktu itupun nyaris tak bisa menerangi. Para driver jip sekaligus pemandu memasuki salah satu ruangan untuk registrasi. Menurut seorang petugas di sana, tidak tersedia air di toilet di pos. Air ditampung saat hujan turun.

Tahun lalu mengunjunginya lagi lewat pintu Pasuruan. Ada sebuah pendopo dengan lahan parkir cukup luas dan fasilitas toilet. Berada di ujung desa sehingga cukup penerangan di sana. Di situ kemudian berganti dengan jip menuju Bromo.

Di Pananjakan bulan April 2016.Tidak ada lagi bangku-bangku kayu untuk duduk.(Foto:YD)

Di Pananjakan, gunung Bromo, bulan April 2016. Tidak ada lagi bangku-bangku kayu untuk duduk.(Foto:YD)

Dua kali berkunjung ke Bromo, sulit menemukan perbedaannya. Toilet umum berada di bawah warung-warung yang berderet menuju menara pandang Pananjakan. Toilet umum berbayar itu berupa ruang-ruang kecil dan mesti menuruni/menaiki anak tangga yang sempit. Pada kunjungan kedua tahun lalu, saya baru mengetahui ada toilet umum lainnya persis di bawah Gunung Bromo tak jauh dari jip-jip diparkir. Lumayan bersih dengan mengandalkan cahaya dari luar. Perbedaan lainnya, papan-papan kayu untuk duduk di Pananjakan sudah tidak ada lagi, tinggal tiang-tiang penyangga yang diantaranya dengan besi-besi yang mencuat.

Pengalaman pertama mengunjungi Taman Wisata Alam Gunung Ijen, pada pertengahan tahun 2014, hampir mirip dengan ketika pertama kali ke Bromo. Penerangan redup berasal dari beberapa warung yang buka tengah malam. Di sebuah bangunan yang dipergunakan sebagai toilet umum gelap gulita, air pun terbatas. Selama melalui rute trekking hingga ke puncak Gunung Ijen relatif bersih. Bukan saya sendiri saja, ada beberapa orang pengunjung asing lainnya, sama-sama mencari fasilitas toilet di atas. Sebagian besar memilih bertahan hingga berada kembali di lapangan parkir di bawah. Waktu itu hanya saya dan seorang perempuan paruh baya berbahasa mandarin yang mengikuti saran seorang pengambil belerang menggunakan “toilet”. Yang dimaksudnya itu, sebuah lubang yang digali di atas tanah dan dihalangi papan-papan kayu sebagai dindingnya. Walaupun pada kunjungan kedua tahun 2015 tidak naik ke atas, ada perubahan di area pelataran parkir TWA Ijen, termasuk toilet umumnya.

Di 'Rumah Bunuder' atau pos terakhir sebelum puncak Ijen tak sedikit wisatawan menanyakan toilet.(Foto:YD)

Di ‘Rumah Bunuder’ atau pos terakhir sebelum puncak Ijen tak sedikit wisatawan menanyakan toilet.(Foto:YD)

Taman Hutan Raya Ir. Juanda berada di kota Bandung. Mengikuti ajakan seorang kawan yang “menemukan” less visited place. Dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun, THR ini sudah banyak berubah. Jalan-jalan di dalamnya beraspal, bersih, dengan petunjuk-petunjuk di setiap persimpangan. Di balik gazebo-gazebo yang tersedia, barulah terlihat sampah berserakan. Semakin ke dalam malah bingung, kok hutannya telah beralih fungsi jadi kebun-kebun sayur? Namun, keinginan menghirup udara segar dan menikmati bebas dari suara hiruk-pikuk tengah kota Bandung sejenak, tak seperti yang diharapkan. Banyak sekali ojek motor melintas di dalam THR. Hanya karena saya pengunjung lokal bukan berarti saya malas jalan kaki untuk menikmati THR. Menurut kawan saya itu, ada desa di atas THR dan ojek motor tersebut alat transportasinya.

Ojek motor. Antara annoying dan manfaatnya. Mendengar deru suara motor ojek di lintasan trekking di Taman Nasional Gunung Rinjani mengingatkan pada pengalaman tidak enak di THR Juanda dulu. Sampai akhirnya, keberadaan ojek motor tersebut juga yang menolong saya. Terlintas apa yang bisa terbaik dilakukan terhadap keberadaan ojek motor ini? saat berada di atas ojek sambil menahan sakit dan nyeri, menerobos kegelapan malam diantara bukit-bukit savana.

Beberapa taman nasional dan taman wisata alam yang pernah dikunjungi juga dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Mereka tidak hanya berkunjung dalam hitungan jam tetapi juga sampai menginap. Bukan tidak mungkin diantara mereka telah berpengalaman mengunjungi taman-taman nasional di negerinya dan di berbagai belahan dunia lainnya. Bagi turis umum, tentu mereka berharap tersedia fasilitas dasar dengan standar pariwisata selama berada di dalam taman nasional/taman wisata alam.

Terkadang tak sengaja mencuri dengar percakapan antarkawan atau gumaman diantara wisman. Yang paling sering terdengar, “This is not what we expect it”. Pernah juga ditanya langsung, “You don’t like the nature’s beauty?” Barangkali itu sanksi bagi pencuri dengar. Bagaimanapun, tidakkah itu terasa menikam dan mengusik kebanggaan kita sebagai orang Indonesia?***(Yun Damayanti)