Seperti Apa Melihat Bunga Rafflesia dan Bunga Bangkai Langsung di Habitatnya di Bengkulu?

Setelah bunga bangkai layu muncullah buah ini.Uniknya,batang penopang buah seperti batang talas.(Foto:YD)

Setelah bunga bangkai layu muncullah buah ini.Uniknya,batang penopang buah seperti batang talas.(Foto:YD)

Seolah menjadi pemandangan lumrah melihat spanduk-spanduk dibentangkan di tepi jalan lintas Bengkulu. Spanduk-spanduk itu ditempatkan di kelokan-kelokan tajam di jalan trans yang tidak terlalu lebar, menanjak dan menurun, diapit bukit dan jurang terjal di kedua sisinya. Spanduk itu ada yang dibuat dengan rapi ada pula yang dibuat “asal jadi’. Spanduk-spanduk tersebut ditempatkan oleh komunitas-komunitas lokal pengamat bunga di dalam kawasan hutan lindung.

Pejalan yang melintas dan ingin melihat bunga rafflesia mesti sangat berhati-hati dan memperhatikan saat memarkir kendaraannya. Pun ketika berjalan di atas tanah atau rerumputan sempit di tepi jalan. Sulit menemukan tempat parkir yang representatif. Terkadang, “Pintu” masuk menuju tempat puspa langka itu mekar berupa sela terbuka di antara pembatas keselamatan jalan raya dari baja.

Bunga rafflesia tidak suka polusi udara dan suara. Untuk menuju tempatnya, pengunjung mesti melewati lembah-lembah yang kadang-kadang kemiringannya cukup curam. Ada yang menyediakan tongkat-tongkat dari sisa-sisa kayu pohon, di beberapa titik ada yang berinisiatif menancapkan bekas batang kayu pohon sebagai pegangan. Lembabnya udara di bawah naungan kanopi pohon-pohon nan rindang membuat permukaan tanah tetap licin meskipun tidak hujan pada malam sebelumnya. Jika hujan turun, tanah itu akan jadi lebih licin atau lumpur.

Bunga rafflesia (Rafflesia arnoldii) pada hari ketiga mekarnya di dalam hutan lindung Taba Penanjung,Bengkulu Tengah.(Foto:YD)

Bunga rafflesia (Rafflesia arnoldii) pada hari ketiga mekarnya di dalam hutan lindung Taba Penanjung,Bengkulu Tengah.(Foto:YD)

Seperti ini medan jalan menuju tempat bunga rafflesia dan bunga bangkai mekar.Akan sangat membantu dengan mengenakan alas kaki bersol karet agar tidak licin.(Foto:YD)

Seperti ini medan jalan menuju tempat bunga rafflesia dan bunga bangkai mekar.Akan sangat membantu dengan mengenakan alas kaki bersol karet agar tidak licin.(Foto:YD)

Mengenai ini, ada dua alasan. Pertama, tempat bunga rafflesia mekar berpindah-pindah dan tak selalu sama. Jadi buat apa menyediakan fasilitas seperti tangga atau pegangan hanya untuk selama 7 hari. Belum tentu juga setiap hari akan ada tamu yang datang. Kedua, jika bunga rafflesia yang mekar berada di dalam kawasan cagar alam, Kementerian Kehutanan selaku pengelola hanya mengizinkan untuk melihat bunga ikon Bengkulu itu. Tidak ada peraturan agar bagaimana komunitas lokal dan operator tur bisa menyediakan sesuatu yang dapat membantu pengunjung melihat bunga tersebut beserta cagar alamnya dengan lebih aman.

Tidak ada retribusi untuk melihat bunga rafflesia dan bunga bangkai. Belum ada peraturan dibuat. Sampai dengan saat ini, masih diberlakukan sistem donasi dari pengunjung.

Dari perspektif traveler,bagaimana agar dapat memanfaatkan nilai ekonomi puspa langka

Warga lokal semakin tahu keberadaan puspa-puspa langka itu bisa membawa dampak ekonomi. Sayangnya, belum ada pembekalan pemahaman dan manajemen praktis yang baik kepada mereka. Tak jarang persaingan kurang sehat terjadi diantara kelompok-kelompok itu disebabkan jumlah pengunjung yang didapatnya. Paling sering terjadi dengan merusak puspa langka di bawah pengawasan kelompok lain. Ada juga oknum yang sengaja memindahkan bunga dari tempat asalnya ke tempat yang lebih dekat dengan tepi jalan raya.

Komunitas warga dan pegiat pariwisata yang telah bergerak di Bengkulu patut mendapat dukungan dari pemda dan pemerintah pusat. Dukungan infrastruktur, membangun kapabilitas sumber daya manusia, dan membuka ruang-ruang dialog untuk menemukan ‘win-win solution’ dibutuhkan dalam jangka pendek dan menengah.

Kemudian, mendorong komunitas lokal dan pegiat pariwisata menemukan ide-ide kreatif, inovatif dan solutif serta mudah diaplikasikan. Agar mereka bisa memberikan layanan yang aman dan tetap ramah terhadap lingkungan kepada para pengunjung yang ingin menyaksikan bunga raflesia dan bunga bangkai di habitatnya. Selagi berswafoto ataupun sedang meneliti puspa-puspa langka itu mereka pun sekaligus bisa menikmati hutan hujan tropis Sumatera alami yang masih tersisa.

Sudah banyak bukti menunjukkan, dengan adanya kegiatan pariwisata yang memberi dampak ekonomi, komunitas dan pegiat pariwisata lokal malah lebih bersemangat dan berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan. Bukankah ini akan membuat upaya konservasi tidak sesulit daripada awal mulanya?

Saat berusaha agar tidak terpeleset di dalam kawasan hutan lindung Taba Penanjung untuk melihat bunga raflesia yang sedang mekar, teringat akan tangga kayu yang dapat dipindah-pindahkan yang disediakan di dalam perahu-perahu nelayan yang membawa wisatawan snorkeling dan diving. Tangga dari beton tentu hal yang tidak ingin saya lihat di dalam kawasan yang masih natural. Alam memberi kebebasan berkreasi. Tinggal bagaimana kita, yang berkuasa atas teknologi, membuat kreasi itu selaras dengan alam dan seminimal mungkin memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.