Satgas Bersih-bersih Rinjani Beroperasi, Pergub Diproses, Teknologi Pengelolaan Sampah Disiapkan di 3 Gili

Satgas Bersih Rinjani mulai beroperasi sejak Kamis (27/7) lalu.(Foto:Disparprov NTB)

Satgas Bersih-bersih Rinjani mulai beroperasi sejak Kamis (27/7) lalu.(Foto:Disparprov NTB)

Jakarta, (ITN-IndonesiaTouristNews): Ini sudah termasuk isu kritis. Massalah penanganan dan pengelolaan sampah dan limbah di daerah-daerah tujuan wisata di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)  Seiring dengan semakin meningkat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara berkunjung ke tetangga di sebelah timur Bali itu, isu yang satu ini juga menjadi keluhan paling banyak disampaikan. Baik oleh wisatawan maupun para pegiat dan pelaku pariwisata. Ibaratnya, pemda mempertaruhkan predikat sebagai Destinasi Wisata Halal Dunia dengan adanya isu sampah dan limbah tersebut.

Satgas Bersih Rinjani

Mulai hari Kamis, 27 Juli 2017, Satuan Petugas (Satgas) Rinjani mulai dioperasikan. Jumlahnya 16 orang dipersiapkan dan digaji oleh Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB.

Satgas itu ditugaskan untuk aksi bersih di empat pos di jalur pendakian Gunung Rinjani yang menjadi titik potensi sampah. Mereka bekerja pada hari Kamis, Sabtu dan Minggu. Di hari-hari lainnya dilakukan oleh petugas dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Selain melakukan pembersihan, mereka juga melaksanakan edukasi lestari lingkungan kepada para pendaki agar tidak membuang sampah sembarangan dan tetap menjaga kebersihan selama berada di Gunung Rinjani.

Pemprov NTB tengah memproses peraturan gubernur baru mengenai deposit sampah dan pendaftaran secara online kepada semua yang ingin mendaki Gunung Rinjani.

Lalu Moh. Fauzal, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB mengatakan,” Kami optimis, Satgas Rinjani Bersih ini akan jadi salah satu solusi. Sudah mulai ada dampak dari kerja keras mereka.”

Banyak wisman yang memilih ke Gili Air kagum degan kebersihan dan lokalitas kehidupan pulau kecil yang terjaga.Isu pengelolaan sampah dan limbah serta keberadaan kendaraan konvensional menjadi pemikiran para pelaku industi pariwisata di gili ini.(Foto:YD)

Wisman yang memilih ke Gili Air kagum dengan kebersihan dan lokalitas kehidupan pulau kecil yang terjaga.Isu pengelolaan sampah dan limbah serta keberadaan kendaraan konvensional diperhatikan terus oleh para pelaku industi pariwisata di gili ini.(Foto:YD)

Teknologi ramah lingkungan pengelolaan sampah di 3G

Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar dikabarkan telah menetapkan langkah-langkah s terkait permasalahan sampah di Desa Gili Indah yang terdiri dari Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air (3G).

Diantaranya, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) akan menata kelembagaan terkait dengan sistem penanganan sampah. Untuk penataan tersebut pemkab bekerja sama dengan LSM Waste for Change dan Kementerian PUPR. Dari kerja sama itu Pemkab KLU terutama akan mendapatkan sarana juga sistem pendukung dan biaya (fund).

Pemkab telah menganggarkan pembelian lahan untuk pengelolaan sampah di tiga gili tersebut. Saat ini tenaga kerja dan peralatan sudah dikirimkan ke Gili Trawangan, gili paling ramai dikunjungi turis.

Dinas PU Provinsi NTB saat ini tengah mempersiapkan teknologi tepat guna untuk pengelolaan sampah di Desa Gili Indah. Targetnya tahun depan sudah siap dan terlaksana. Direktur dan Kepala Sub Bidang Persampahan Direktorat PPLP Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR pun telah melihat langsung lokasi yang akan dijadikan pengolahan sampah ramah lingkungan di Gili Trawangan.

“Semoga ikhtiar bersama ini akan segera menampakkan hasilnya dan membawa manfaat bagi tuntasnya permasalahan sampah di semua destinasi wisata di seluruh NTB pada umumnya, di Gili Trawangan khususnya,” ujar Taufan Rahmadi, anggota Tim Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, PIC Mandalika.

Berbagai upaya yang tengah dilakukan oleh pemda ini sepatutnya didukung penuh oleh para pelaku industri pariwisata dan masyarakat di NTB. Sudah tentu wisatawan juga berperan menjaga kebersihan, keindahan dan keteraturan di destinasi yang dikunjunginya. Seluruh pemangku kepentingan pariwisata di NTB selain harus tetap gencar berpromosi juga mesti bisa meyakinkan para pengunjung yang sebelumnya pernah dikecewakan untuk mau datang lagi, dan datang lagi.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.