Tahukah Anda bahwa dari jual beli batu mulia Perancis luar biasa meraup 17 milyar US Dollar per tahun, yaitu dari industri batu mulia dan perhiasan, Afrika Selatan mendapat 178 juta USD, serta Kolombia dan India meraih sekitar 45 juta USD? Indonesia diharapkan bisa meniru negara-negara tersebut mengingat setiap daerah memiliki keunikan batu mulia yang berbeda satu sama lain.

Lebih dari itu, menurut Esthy Reko Astuti, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, “Batu mulia harus dijadikan sebagai daya tarik wisata karena perannya untuk ekonomi tidak bisa dikesampingkan. Dengan batu mulia, kita bisa memajukan wisata belanja (shopping) dan wisata budaya sekaligus. Karena setiap daerah punya jenis batu mulia yang berbeda satu sama lain. Itu harus diangkat, maka diadakan festival ini.”

Kementerian Pariwisata mengadakan Festival Batu Mulia dan Perhiasan Indonesia (FBMPI) 2015 yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah, 23-25 Oktober 2015. Festival ini merupakan salah satu upaya Kemenpar dan stakeholders pariwisata terkait dalam menjadikan batu mulia sebagai daya tarik wisata Indonesia. Pariwisata yang terkait batu mulia bisa termasuk ke dalam wisata kreatif, wisata belanja, atau wisata budaya.

FBMPI 2015 diikuti oleh sekitar 160 peserta yang berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Maluku, Lampung, Sulawesi Tengah, dan Aceh. Selain pameran, kegiatan lain dalam FBMPI 2015 adalah workshop batu mulia dan kerajinan kulit, kompetisi batu mulia, lomba gosok batu mulia, pertunjukan musik, talkshow tentang tren batu mulia di Indonesia, dan lelang batu mulia.

FBMPI 2015 dibuka secara resmi melalui pemukulan alat musik jimbe oleh Esthy Reko Astuti selaku Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar dan Yanti Sukamdani selaku Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI). Pada acara pembukaan diadakan pula pertunjukan seni dan penyerahan batu mulia dari peserta kepada perwakilan Kemenpar dan BPPI.

“Wisata itu tidak hanya wisata alam, tapi juga wisata kreatif. Batu mulia ini adalah salah satu bagian wisata kreatif. Festival ini diadakan untuk mengangkat potensi batu mulia sebagai daya tarik wisata Indonesia yang patut kita banggakan. Soal ini, Indonesia tidak kalah dengan Brasil, Myanmar, atau India. Hanya saja kita kalah dalam hal desain dan pengemasannya. Makanya kurang memikat. Ya, sama seperti pariwisata kita secara umum,” ujar Yanti Sukamdani dalam sambutannya.

Disebutkan beberapa negara yang sudah merasakan limpahan ekonomi berkat batu mulia yang diolah menjadi perhiasan.

Di Indonesia, daerah Aceh terkenal dengan giok nefrit, Sumatera Barat dengan kecubung ungu, Riau dengan intan, Jambi dengan fosil kayu, Sumatera Selatan dengan kalsedon biru, Lampung dengan amber, Banten dengan opal, Jawa Barat dengan pancawarna, Jawa Tengah dengan giok Jawa, Jawa Timur dengan karnelian, Sulawesi Tenggara dengan opal hijau, Maluku Utara dengan jasper, Kalimantan Selatan dengan rodonit akik, Kalimantan Tengah dengan kuarsa asap, serta Sulawesi Tengah dengan serpentin.

FBMPI 2015 diharapkan bisa mengangkat kembali tren batu mulia yang agak menurun belakangan ini. Kendati demikian, penyelenggara percaya bahwa batu mulia sudah memiliki segmen penggemar khusus yang tidak akan melewatkan festival-festival seperti ini. Selain pasar penggemar batu mulia, FBMPI 2015 pun menargetkan para pengunjung TMII.***(Pitor Pakan)