Ada sebuah pulau tampak terpisah beberapa ratus meter dari pantai di satu titik di pesisir selatan Pulau Jawa. Pulau itu berbentuk bukit tunggal yang garisnya seperti tarikan garis gambar gunung anak-anak. Konon tanah dan bebatuan yang membentuk pulau tersebut berwarna merah sehingga penduduk lokal menyebutnya Pulau Merah.

Vegetasi yang sudah tumbuh lebat menjadikan Pulau Merah kini berwarna hijau. Tetapi, jejak penamaan pulau masih bisa dilihat. Dari pantai wisata Pulau Merah yang berada di daratan utama berjalanlah sedikit ke arah selatan. Dari pantai kita bisa melihat dinding tebing pulau yang  berwarna merah kecoklatan hingga kuning keputih-putihan.

Tunggulah sampai sekitar jam dua siang. Saat air laut menyurut, pulau itu seakan tampak menyatu dengan pantai. Pakailah alas kaki ketika menyeberang ke Pulau Merah. Sebab kita akan melalui batu-batu karang yang licin, ketam-ketam bercangkang hitam yang mengeras dan menyatu di karang, dan bulu babi yang bersembunyi di rongga-rongga karang. Pengunjung bisa meminta bantuan kepada penjaga pantai untuk memandu jika kurang yakin menyeberanginya sendiri.

Batu matahari di Pulau Merah.(Foto:YD)

Batu matahari di Pulau Merah.(Foto:YD)

Begitu tiba di pantai berpasir Pulau Merah yang sempit, sebongkah batu matahari akan menyambut kita. Bongkahan batunya lumayan besar dan berwarna merah menyala bagaikan bola matahari. Itu petunjuk pertama Pulau Merah. Dari situ kita berjalan ke sebelah kiri pulau. Perhatikan bebatuan yang terhampar di dasar laut yang menyurut. Bebatuannya berbentuk oval menyerupai ubi ungu. Ada juga patahan bebatuan berwarna biru gradasi. Batu berwarna biru ini tidak terlalu keras dan berbau mirip bau mercon. Lalu tumpukan batu karang hitam legam menghadang. Butuh kehati-hatian saat menaiki dan menitinya. Sekitar seperempat perjalanan mengelilingi pulau, kita sampai di bawah dinding tebing berwarna merah kecoklatan hingga kuning keputih-putihan yang tadi dilihat dari pantai. Dinding tebingnya tegak nyaris sembilan puluh derajat. Kokoh bagaikan dinding benteng dari masa silam.

Di bawah dinding tebing itu ada pantai sempit berbatu-batu. Pasirnya halus kuning keemasan dan batu-batunya berwarna putih dihiasi dengan guratan-guratan coklat dan keemasan. Di bagian bawah dinding tebingnya komposisi warna hijau toska tua, merah, coklat dan semburat kuning dengan garis-garis halus berwarna coklat pekat hingga hitam membentuk lukisan abstrak alam yang indah.

Pulau Merah tidak berpenghuni. Warna-warna yang kita lihat di dinding tebing sampai bebatuan yang terserak di dasarnya konon mencerminkan mineral yang dikandungnya. Warna-warna itu merepresentasikan kandungan emas (Au), tembaga (Cu), sulfur/belerang (S), fosfor (P), pipih dan mineral berharga lainnya. Warga setempat sudah sepakat, pulau ini tidak boleh ditambang.

Bagian pulau yang menghadap ke laut lepas dihantam gelombang-gelombang tinggi nyaris tiada henti. Mengitari pulau keseluruhan membutuhkan waktu sekitar dua jam. Belum ada jalur khusus bagi pengunjung agar lebih nyaman mengitarinya.

Jikalau saja penduduk lokal dibekali dengan pengetahuan dan informasi geologis yang bisa dibaca oleh semua pengunjung, Pulau Merah bisa menjadi obyek wisata edukasi sekaligus petualangan yang menarik. Apalagi dilengkapi dengan sarana transportasi publik yang menghubungkan kota Banyuwangi ke obyek wisata Pulau Merah. *** (Yun Damayanti)