Ini rasanya cocok bertepatan saat Presiden JKW “blusukan” ke Sumatra, mulai Lampung, Bengkulu, Riau. Dan pernyataannya, trans sumatra dan jalur kereta api akan mulai dilaksanakan lagi tahun 2015. Laporan travel writer berikut ini semoga menjadi bahan informasi relevan dengan cita-cita mempercepat menyempurnakan jalan-jalan raya dan kereta api di “pulau emas” atau “pulau harapan”, dua julukan yang berabad silam pernah diberikan untuk Sumatra.

Danau Kembar di Solok Selatan. (Foto: YD)

Danau Kembar di Solok Selatan. (Foto: YD)

Di kawasan Asia Tenggara, orang Indonesia ‘paling gila’, bisa bertahan dalam kendaraan berjam-jam menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer. Yang terjadi setiap akhir pekan di jalur Jakarta-Bogor-Puncak dan setiap tahun khususnya menjelang Hari Raya Idul Fitri adalah contohnya. Ada saja yang rela mengantri dan bermacet-macetan di jalan. Perjalanan yang sebenarnya bisa ditempuh dalam 2-12 jam paling lama, bisa menjadi 2-3 kali lipat.

Kecepatan menjadi daya saing utama antarmoda transportasi di darat, laut dan udara. Meskipun ditengarai perjalanan di darat cenderung menurun sebab infrastruktur yang belum memadai dan kemacetan lalu lintas di jalan raya cenderung meningkat, tetap saja mengandalkan kendaraan dan jalan raya.

Mengapa paket overland klasik tetap diminati?

Paket-paket klasik overland Sumatera, Jawa dan Bali masih diminati terutama di pasar negara-negara Eropa. Kabanyakan oma-opa yang tur dalam grup dengan menggunakan coach, bis pariwisata mewah dan berukuran cukup besar. Dari generasi yang lebih muda, mengkombinasikan perjalanannya dengan bis dan kereta api.

Bukit Barisan yang membujur dari utara hingga selatan Pulau Sumatera menciptakan labirin kelokan tiada terputus. Di antara bukit itu ada gunung-gunung berapi aktif. Di kaki-kakinya persawahan, ladang dan perkebunan tumbuh dengan subur. Membentuk cekungan-cekungan menjadi danau-danau vulkanik yang indah. Sungai-sungai mengalir bagaikan ular raksasa. Di daerah patahan, air mengalir deras kemudian jatuh terjun bebas. Nun jauh di bawah permukaannya mengandung kekayaan mineral untuk memenuhi kebutuhan manusia modern. Bekas-bekas garukan ekskavator memperlihatkan seakan ringkih bumi kita ini.

Jarak antara destinasi dan obyek wisata yang menarik dan menantang di Pulau Sumatera cukup berjauhan. Rata-rata waktu tempuhnya lebih dari empat jam perjalanan darat. Di dataran rendah, jalur yang melewati perkebunan sawit dan karet memang sedikit membosankan. Tetapi, di perkampungan-perkampungan kita masih bisa melihat rumah-rumah panggung dari kayu dan beton. Nuansa komunal tampak kental.

Salah satu perjalanan darat di Sumatera yang mempunyai potensi wisata besar adalah di jalur Padang, Sumatera Barat-Kerinci, Jambi. Terhitung dari bandara internasional Minangkabau sampai ke Kabupaten Kerinci ditempuh selama 8 jam. Di perbatasan Padang-Solok jalan mulai mendaki. Dari satu titik ketinggian, di antara celah pepohonan hutan sempit, kita bisa melihat kota Padang dan pantai di tepi Samudera Indonesia.

Di sepanjang Solok sampai Solok Selatan, selain rumah-rumah panggung, kita masih bisa melihat rumah gadang asli dalam berbagai ukuran, dari yang sederhana sampai yang  dilengkapi dengan ornamen-ornamen  cantik. Hamparan hijau sawah dan kebun menjadi halaman nan luas. Di belakangnya, perbukitan tidak terputus bagaikan penjaga yang setia kepada tuannya.

Di jalur ini, banyak warga membuka usaha tempat makan. Menyediakan masakan khas orang Minang dalam bangunan yang rata-rata masih sederhana. Pada umumnya, mereka juga menyediakan toilet umum dan surau.

Di Muaralabuh, Danau di Atas dan Danau di Bawah seperti anak kembar. Kedua danau itu memang tidak spektakuler seperti Danau Singkarak atau Maninjau. Keramba ikan di tengah danau jarang terlihat. Sebuah mesjid yang masih dalam tahap penyelesaian persis berdiri di tepi danau. Berdiri di halaman mesjid setelah beribadah, ah, sungguh damai rasanya.

Memasuki Kabupaten Kerinci, sekumpulan-sekumpulan pohon kayu manis dengan ujung daun berwarna-warni bak sedang berada dalam musim gugur di tengah hutan tropis Taman Nasional Kerinci Seblat. Dari perbatasan Solok Selatan hingga Kabupaten Kerinci, selama sekitar dua jam perjalanan nyaris tidak ada permukiman yang dilewati. Saatnya menikmati sisa-sisa hutan tropis sumatera. Di kawasan ini kawanan babi hutan paling sering terlihat. Dan jauh di dalam hutan sana, penduduk sekitar masih menemukan jejak-jejak harimau.

Kentang kerinci sangat terkenal di kawasan perbatasan yang menghubungkan Jambi, Sumbar, dan Bengkulu. Di dusun-dusun sebelum memasuki kotif Sungai Penuh, kebun-kebun kentang tersebar. Hasilnya, selain dijual dan dikonsumsi sendiri, juga dijadikan camilan seperti keripik dan dodol. Penganan itu kini menjadi oleh-oleh khas Kerinci.

Kota administratif Sungai Penuh hanya berjarak sekitar 15 menit dari Danau Kerinci. Berada di dataran tinggi Kerinci, kota ini tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin. Beberapa hotel kecil, restoran, dan warung kopi mulai berdiri. Kota ini cukup ramai karena menjadi tempat persinggahan para traveler maupun komuter dari Jambi, Sumbar, dan Bengkulu.

Di Kerinci, sudah ada warga yang mempersiapkan rumah-rumah menjadi home stay. Sayang, bagian depan rumah belum menghadap ke danau berair biru. Persawahan di pinggir danau rupanya menjadi tempat mencari makan burung bangau. Sesekali elang sumatera terbang dari arah perbukitan yang mengelilingi danau. Di beberapa bagian dibiarkan jadi padang rumput. Dan sapi-sapi milik warga bebas merumput di sana.

Komuter dan traveler butuh istirahat   

Jaringan jalan raya di utara dan selatan Pulau Jawa yang dilalui para pemudik setiap tahun berkembang sangat pesat. Kawasan manufaktur di hampir sepanjang utara pulau ini semakin mengakselarasi pembangunan di daerah-daerah pesisir. Masyarakat yang tinggal di dekat atau sekitar jaringan jalan raya itu cepat tanggap menangkap peluang dengan mendirikan restoran, warung makan, SPBU, toko swalayan kecil yang rata-rata mempunyai toilet yang bisa digunakan oleh siapapun yang mampir ke sana. Bahkan, sudah ada yang membangun tempat khusus oleh-oleh dari daerahnya, ada juga yang masih sporadis, berjualan pada saat musim mudik saja.

     Rest area di sepanjang jalan Cipularang sekarang menjadi bisnis menggiurkan. Jaringan restoran dan kafe waralaba serta mini market bersaing dengan usaha lokal. Selain memenuhi urusan perut dan kebutuhan atas toilet umum dan tempat ibadah yang layak, ada rest area yang menyediakan taman bermain mini untuk anak-anak dan adapula gerai yang menjual jasa pijat refleksi. Di saat musim mudik, banyak posko yang memberikan pelayanan ekstra agar pemudik bisa beristirahat dengan nyaman.

Untuk mengembangkan road trip tourism di Trans Sumatera, bolehlah terinspirasi dari yang sedang berlaku di Pulau Jawa. Alangkah nikmatnya perjalanan selama 8 jam itu jika kita bisa beristirahat di tempat-tempat yang dirancang dan dibangun layaknya sebuah rest area.

Dengan memperhitungkan daya tahan fisik komuter dan traveler, beberapa dusun bisa bersatu membangun sebuah rest area yang “gue banget”. Selain fasilitas minimal toilet umum yang bersih, tidak bau dan ada air serta tempat beribadah, banyak elemen yang bisa dikreasikan untuk memberi nilai tambah pada sebuah rest area. Misalnya, bangunan panggung atau beratap lancip khas Minangkabau, ada satu atau dua pilihan menu selain masakan Sumatera, ada kerajinan tangan atau penganan khas daerah setempat yang bisa dijadikan oleh-oleh, ada warga yang menghibur dengan kesenian asal nagarinya, atau menyediakan home stay di rumah panggung atau di rumah gadang.

Tantangan nyata dalam mengembangkan road trip tourism di Sumatera adalah belum meratanya infrastruktur jaringan jalan raya, kualitas jalan, dan keamanan.

Untuk mengembangkannya, pertama adalah peta tata ruang daerah. Lalu kemauan bekerja bersama dan berkoordinasi lintas sektor, antarkabupaten/kota di dalam provinsi maupun antarprovinsi. Kemudian, merangkul dan mendorong kreativitas para wirausahawan yang bergerak dalam bidang pariwisata dan yang terkait. Tidak kalah penting, terus-menerus memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa kebersihan, keamanan dan ketertiban akan memenangkan hati para komuter dan traveler untuk singgah. Dan, jangan pernah halangi pemandangan alam nan permai dengan nagari, dusun yang damai dari pandangan para komuter dan traveler dari dalam kendaraannya. *** (Yun Damayanti)