Sapta Nirwandar

Sapta Nirwandar

Negara tetangga saling berpasangan

Persaingan dari negeri jiran, khususnya di ASEAN, muncul dari kecenderungan saling rangkul antara negara bersebelahan. Kegiatan ASEANTA – Asosiasi Travel Agent Asean – dipandang masih gagal dalam  konteks gagasan mendorong intra ASEAN travel. Kegagalan itu seakan dikompensasi oleh masing-masing anggota Asean dengan cara lain. Yakni, munculnya pasangan-pasangan negara destinasi yang mempererat kerjasama dua pihak. Telah dijalin kerjasama antara Malaysia-Brunei, antara Vietnam-Kambodia, antara Thailand dan Kambodia, antara Singapura-India,  dst.

Misalnya, Malaysia-Singapura.  Tourism Action Council di negara bagian Langkawi , Malaysia – setara dengan propinsi di Indonesia – perhatikan nama Dewan menggunakan kata Action – Ketuanya Othman Azis bilang : maskapai penerbangan Jetstar Asia akan meluncurkan penerbangan Singapura-Langkawi mulai Oktober yad. Tiger Airways telah beroperasi pada rute ini sebagai maskapai ke empat setelah MAS, AirAsia dan Silk Air melayani rute Singapura-Langkawi.

“Kami yakin penerbangan itu akan membawa lebih banyak turis dari Singapura ke Langkawi, termasuk turis dari mancanegara yang masuk ke Langkawi melalui Singapura”, kata Othman.

Bicara hal angkutan udara ini, Othman mengungkapkan keberhasilan menarik Southern China Airlines yang mengoperasikan penerbangan charter, sehingga penerbangan ini akan membawa 17.264 turis ke Langkawi.

Singapura dan India belum lama ini menandatangani kerjasama “special action plan” untuk memfasilitasi ‘players’ di industri mereka agar menjajagi dan mempromosikan ide-ide baru. Mencakup mulai dari penguatan kerjasama pemasaran, mendorong saling kunjung antara operator tour dan media dari kedua destinasi, dan tentu saja saling ikut serta pada event-event pariwisata setempat.

Brunei dan Malaysia memperbarui kerjasama pada awal bulan Agustus ini. Antara Brunei dan Sabah serta antara Brunei dan Sarawak juga telah berjalan kerjasama, maka sekarang mereka menjalin code-share agreement antara Royal Brunei Airlines – RBA – dengan Malaysia Airlines.

Muangthai – Kamboja dua minggu yll menanda tangani kerjasama mempercepat realisasi kebijakan satu visa – single visa plan – . Menteri-menteri dari kedua negara sama menyatakan bahwa dengan rencana itu maka turis asing yang sudah memiliki visa untuk salah satu destinasi, tak memerlukan lagi visa untuk masuk ke negara yang satu lagi.

Jangan abaikan Filipina dalam menggaet wisman China dan Taiwan sekaligus. Menteri Pariwisata Filipina, Joseph ‘Ace’ Durano, menceritakan minggu lalu: “Dengan bantuan dari Civil Aeronautic Board – CAB -, dan Civil Aviation Authority of the Philippines –CAAP-, Bureau of Immigration – BI – , Bureau of Customs – BOC , dan para anggota industri sebagai mitra, “ we have been aggressively pushing for these additional seats, to accommodate the inbound Chinese tourists.”

Di Indonesia kita memang belum memiliki badan semacam CAB tersebut. Adapun CAAP, setaralah dengan Dirjen Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan.

Upaya dan keberhasilan mengelola penambahan seat capacity dengan penerbangan langsung ke destinasi di dalam negeri Filipina, dapat terukur dan kita bisa melihat contoh bagian rincian tersebut: dari Kaohsiung ke Cebu charter flight lima kali seminggu; Guangzhou-Cebu, penerbangan charter dua kali seminggu, Shanghai-Kalibo dua kali seminggu charter; Hangzhou-Kalibo juga dua kali seminggu.

Maka disimpulkan, “More Chinese tourists are expected in the Philippines with the additional flights opening between mainland China and Taiwan to Cebu and Kalibo. The Department of Tourism said that the new flights are in anticipation of the tourist influx in the said destinations, which will last until the latter part of the year to the early months of 2010.”

Beberapa Negara sebagai pesaing destinasi itu, melakukan langkah-langkah tentu dalam antisipasi dampak krisis ekonomi global dan virus H1N1 yang mengancam menurunkan jumlah wisman.

Persaingan : (1)Aksesibilitas, (2)Produk, (3)Tour Operator, (4) Rangkul Tetangga

Indonesia dewasa ini menghadapi persaingan antar Negara destinasi dari dua faktor. Kapasitas angkutan udara, dan, peran operator tour berkaitan pengembangan produk dan destinasi wisata. Tidaklah mengherankan belakangan ini daerah-daerah sadar dan bertanya-tanya. Diparda Batam bertanya, bisakah airlines asing ditarik agar beroperasi ke destinasi, yang telah memiliki fasilitas bandara internasional yang bisa didarati oleh pesawat Boeing-747 itu? Industri pariwisata di DKI Jakarta mempertanyakan, bagaimana agar airlines asing jangan hanya mengangkut kebanyakan TKI yang keluar dan masuk Indonesia ? Dari Lombok disuarakan, saat ini hanya rata-rata 300 wisatawan per hari yang mendarat, padahal program Visit Lombok Sumbawa 2012 memasang target jumlah wisatawan per tahun satu juta. Ini membawa implikasi target tersebut terancam tidak akan terpenuhi.

Kita sedang menuju ASEAN 2015 : one vision, one identity, one community.

Tapi gagasan intra Asean travel belum efektif berjalan. Namun, MAS – Malaysian Airlines – kembali sejak bulan lalu memperkenalkan intra asean air fare. Tiket seharga US$ 299 bisa digunakan untuk mengunjungi 3 ibukota Negara anggota ASEAN. Adapun Garuda Indonesia, membungkus tiket semacam ini dalam paket-paket wisata oleh GIH – Garuda Indonesian Holiday, yang dijual di luar negeri, dan juga bisa dijual oleh agen-agen karena memang masih disediakan subject to agent commission.

Tazbir, kepala Diparda Yogyakarta mengungkapkan minggu lalu, “akan segera membangun konsorsium para agen dengan agen-agen di Malaysia untuk memasukkan wisman ke Yogyakarta dari Kuala Lumpur .” Yogyakarta dihubungkan oleh Garuda Indonesia dan AirAsia dengan Kuala Lumpur .

Syamsul Lussa, Direktur Pengembangan Pasar Depbudpar, memberi perhatian dengan menyatakan betapa kapasitas aksesibilitas udara kita memang jauh tertinggal. Dia pernah mengungkapkan, penerbangan internasional ke Malaysia kapasitasnya berjumlah 50 juta seat, ke Muangthai 40 juta seat, ke Singapura 60 juta seat. Indonesia baru mencatat 13 juta seat.

Imigrasi bicara turisme

Tak kurang menggelitiknya ialah ketika pimpinan Biro Imigrasi Filipina berbicara lantang bagaimana mendukung pariwisata negerinya. Salah satu pimpinan kantor imigrasi itu, Marcelino Libanan, mengeluarkan fasilitas bebas visa bagi pengunjung warganegara Cina yang “sering” datang. Libanan mengumumkan warga China yang memiliki visa kunjungan ke Amerika Serikat, Jepang , Australia , Kanada dan ke Uni Eropa, secara otomatis diberikan privilege visa-free entry ke Filipina.

Ya, pejabat imigrasi berbicara tentang pariwisata negerinya. Diberitakan begini: “We expect more Chinese businessmen and tourists to visit the Philippines and explore investment opportunities, thus opening more job opportunities to our countrymen,” Libanan said.
Bureau of Immigration said the governments efforts to develop its tourism industry got a big boost after it allowed Chinese nationals who are frequent travelers to enter and stay in the country for seven days without a visa.

Bahkan beberapa bulan yll., Biro Imigrasi juga telah mengeluarkan kebijakan, memberi “special visa” untuk tinggal dengan mudah di Filipina, bagi setiap pengusaha asing yang bisa menyediakan kesempatan kerja bagi sedikitnya 10 orang warga Filipina.

Masih belum cukup.. Biro Imigrasi itu tahun ini memberi petunjuk bagaimana “warga asing” yang lalai dan tinggal melebihi batas waktu visa, dapat bebas dari denda asalkan secara sukarela melaporkan diri, meng up date izin tinggal, dan membayar fee biasa.

Nah, tourist arrivals pada 16 tourism destinations di negeri yang geografisnya mirip negeri Indonesia, itu, mencatat kenaikan 16,5 persen, mendekati jumlah empat juta selama semester pertama tahun 2009 ini.

Filipina menegaskan pilihan 16 top tourism destinations yaitu : Camarines Sur, Cebu, Boracay, Baguio, Davao, Puerto Galera, Bohol, Negros Occidental, Negros Oriental, Ilocos Norte, Masbate, Camarines Norte, Puerto Princesa, Legaspi, Catanduanes, and Sorsogon.

Maka terasa juga, Indonesia dalam mengelola pariwisata mestinya memastikan mana major destination, secondary destinations, and the third. Indonesia kini mendapat saingan baru, Filipina dan Vietnam.

Pemasaran Kita

Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar minggu lalu mengajak berdiskusi berbagai kalangan pariwisata, pemerintah dan swasta, pusat dan daerah. Temanya : Kiat Menangkap Peluang di Tengah Krisis. Dia memimpin bersama Syamsul Lusa, Direktur Pengembangan Pasar, dan Pitana, Direktur Promosi Luar Negeri, Depbudpar. Ahli pemasaran Hermawan Kertajaya ikut aktif berdiskusi.

Saya sendiri mengamati, tampaknya, situasi sekarang cenderung sebagai periode “konsolidasi” ketimbang “recovery”. Target 6,4 – 6,5 juta wisman tahun 2009 rasanya juga sudah “niscaya” tercapai, kendati ada peristiwa terror bom Jakarta tanggal 17 Juli 2009.

Di tengah gejala persaingan baru yang dimunculkan oleh Negara-negara tetangga, salut perlu diberikan atas pencapaian Indonesia sekarang.. Lagi pula, melihat paparan-paparan yang selalu disampaikan oleh pemerintah akhir-akhir ini, kita dapat mencatat, bahwa:

1.Kita membangun kepariwisataan dengan filosofi, idealisme, nilai-nilai dan bukan sekedar pragmatisme.

2.Kita mencapai tertinggi jumlah wisman dalam sejarah pariwisata Indonesia (Inward looking).

3.Selalu mendekati secara holistik / integral.

4.Praktis semua daerah dan lapisan masyarakat kini mengalami demam pariwisata, telah bertebaran “semangat” ingin membangun pariwisata. Tahun 2009 ini, tiada minggu tanpa event pariwisata, yang dilaksanakan mulai tingkat internasional, nasional, kabupaten sampai tingkat kota .

Dan situasi sedemikian tampak memerlukan sikap dan aksi untuk “konsolidasi”, selain beralaskan inward looking, juga outward looking. Dirjen Pemasaran Sapta Nirwandar mengatakan : “Tahun 2010 kita akan memperhatikan product quality dan bench marking.”. ==