Pesan Menteri Pariwisata Arief Yahya pada CEO / Kepala Daerah ; Bagaimana agar Sukses Mengadakan Event

Menteri Pariwisata Arief Yahya (ketiga kanan) bersama para Deputi Menteri ketika memberikan keterangan pers di sela Rakornaspar III 2017 di Jakarta 26-27/10/2017. Juga mendampingi Menteri adalah Ketua Umum GIPI Didien Junaedy (kedua kanan). (Foto: Humas Kemenpa)r

Menteri Pariwisata Arief Yahya (ketiga kanan) bersama para Deputi Menteri ketika memberikan keterangan pers di sela Rakornaspar III 2017 di Jakarta 26-27/9/2017. Juga mendampingi Menteri adalah Ketua Umum GIPI Didien Junaedy (kedua kanan). (Foto: Humas Kemenpar)

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan pesan-pesan yang dicatat ini ketika jumpa pers di tengah pelaksanaan Rakornaspar III di Jakarta, 26-27/9/2017. “Ini saya ingatkan kepada CEO atau kepala daerah,” demikian antara lain dinyatakan oleh Menpar, ibaratnya kalau CEO atau kepala daerah memimpin perusahaan atau industri dan industrinya tumbuh di bawah pasar maka lebih baik mundur saja. Karena (dengan pertumbuhan demikian) sesungguhnya usaha atau industri yang Anda pimpin itu menuju pada stagnansi atau mati. Kalau pertumbuhan lebih kecil daripada pertumbuhan regional, lebih kecil daripada pertumbuhan market berarti market share kita akan mengecil dan akhirnya habis.

Berbicara lagi mengenai penyelenggaraan event di Indonesia, salah satu kelemahan kita adalah tidak tepat waktu, kata Menpar. Pelaksanaan event masih berorientasi dengan kehadiran gubernur ada atau tidak, apakah bupati ada atau tidak. Padahal semestinya untuk menepati janji jadwal pelaksanaan event, ada atau tidak ada haruslah tetap jalan seperti yang sudah dipromosikan atau dijanjikan pada publik.

Pada aspek ekonominya, Menpar menyebut satu contoh, event musik jazz. Dengan biaya GBP 200K, yaitu poundsterling Inggeris 200 ribu,  output-nya bisa hampir GBP 1 juta.

Daerah-daerah yang committed dengan pariwisata terutama dengan strategi mengadakan festival, atau event, contohnya adalah Bali yang sudah mencapai tahap tiada hari tanpa festival. Hitunglah pendapatan per kapitanya. Buat index kebahagiaannya. Bali dan Kepri adalah 2 daerah yang core industry-nya pariwisata. Di sana pendapatan per kapita dan index kebahagiaannya tertinggi. Contoh (terbaru) ialah Banyuwangi.

Ketika anda mengadakan sport tourism, memang, direct impact-nya kecil. Tapi, perhatikan media value-nya yang besar.

Untuk menyelenggarakan event, peran kurator wajib ada. Supaya kita mempunyai 100 top events di Indonesia, (diproyeksikan di tahun 2018) jangan membuat 100 tanpa melihat potensinya. Buatlah event secara profesional, setiap provinsi terwakili. Jadi, meskipun misalnya tidak masuk rangking top 100 karena sebab potensi, akan ada tiga klasifikasi, yaitu #1 primer, #2 promising, #3 potensial. Jadi nanti total kita bisa dapatkan 100 events.

“Saya ingatkan,” ujar Menteri, kelemahan kita di daerah-daerah, uangnya dihabiskan hanya untuk membiayai event-nya. Itu tidak boleh. Mestinya, 50% untuk event dan 50% untuk media. Manakala kita sudah melakukan sesuatu yang akan membuat event berjalan untuk berhasil, maka kita harus meng-attract tamu/wisatawan agar datang. Karenanya publisitas dan publikasi dengan media values itu penting dalam suatu event. Bisa saja terkesan maraknya lebih heboh di media daripada kenyataannya. Tapi begitulah publisitas dan promosi suatu event berpeluang berkelanjutan selama bulan-bulan pre event, pada saat berlangsung on event dan periode post event. Uangnya justru 50% untuk pre event, kata Menteri. Laksanakan launching di Jakarta di Kemenpar,  mengingat media itu adanya di Jakarta. Biaya media saat On event-nya 30%. Lalu post event-nya harus kita jaga 25%.

Menpar lalu mengingatkan konsistensi jadwal, seperti diuraikan di atas tadi.

Diingatkan oleh Menteri bahwa Kemenpar hanya memfasilitasi untuk melaksanakan strategi dan kegiatan promosi, publisitas media dan tidak akan menyentuh event. “Saya tahu kelemahan daerah tidak memikirkan promosi dan media. Maka Kemenpar menutupinya,” ujar Menpar Arief Yahya.

Menteri akhirnya menyinggung juga ihwal komitmen kepala daerah terhadap pariwisata. Ada yang menyatakan committed, namun ketika ditanya kepada kepala daerah berapa anggaran untuk pariwisata, dan jikalau jawabannya “praktis tidak ada”, maka sesungguhnya itu berarti “tidak ada komitmen.” ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.