Beberapa kali kita angkat di sini, topik betapa para pemerintah daerah perlu mengambil inisiatif agar bersama pelaku bisnis wisata setempat memberi perhatian pada statistik dan indikasi-indikasi lain bulan ke bulan, tentang arus kunjungan wisman. Tentu saja bagi daerah yang sungguh ingin meningkatkan pariwisata internasionalnya. Bagi pemda yang masih berpikir setengah-setengah, ya, apa boleh buat, tinggal ditunggu saja kapan akan mau “bangkit”. Contohnya periode Januari-September 2015, beberapa pintu masuk (bandara) wisman di daerah masih menunjukkan “turun” dibandingkan tahun lalu:  Kuala Namu, Medan, Juanda, Surabaya, Husein Sastranegara, Bandung, Adi Sucipto, Yogyakarta, Minangkabau, Padang, Hasanuddin, Makassar, Sepinggan, Balikpapan, Adi Sumarmo, Solo.

   Statistik kunjungan wisman periode Januari-September 2015 menurut pintu masuk lengkapnya terlihat seperti ini: TTI ah berita wisman s.d september utk feature

   Di Kementerian Pariwisata dicatat, akumulasi kunjungan wisman Januari – September 2015 naik tipis secara keseluruhan namun kurang menggembirakan jika ditinjau performance per pintu masuk. Hanya 7 (tujuh) dari 12 (dua belas) pintu masuk yang memiliki akumulasi kunjungan wisman lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kalau khusus melihat perkembangan pada 3 The Great yakni Jakarta, Bali, Batam, terlihat begini: 

TTI ah berita wisman s.d september konten

   Memang, agar tercapai target jumlah wisman setidaknya 10 juta di tahun 2015 ini, maka tentulah rata-rata per bulan pada Oktober-Desember ini diperlukan setidaknya 1 juta wisman.

   Dengan kata lain, diperlukan kegiatan lebih banyak Selling, penjualan produk wisata di pasar wisman untuk masing-masing daerah. 

Grafis indikator peningkatan jumlah wisman ke Indonesia.(Sumber: Kemenpar)

Grafis indikator peningkatan jumlah wisman ke Indonesia.(Sumber: Kemenpar)

***