Perkembangan Jalan Raya Trans Timor dan Tapal Batas Timor Leste-Indonesia; Pariwisata Di Sini Sedang Bergerak

Jembatan Mota'ain penyambung hubungan Indonesia dengan Timor Leste.Sejak PLBN Mota'ain dibuka jembatan ini juga jadi daya tarik untuk mengabadikan momen di perbatasan bagi pengunjung.(Foto:YD)

Jembatan Mota’ain penyambung hubungan Indonesia dengan Timor Leste.Sejak PLBN Mota’ain dibuka jembatan ini juga jadi daya tarik untuk mengabadikan momen di perbatasan bagi pengunjung.(Foto:YD)

Kupang,(ITN-IndonesiaTouristNews): Jalan Nasional Trans Timor sepanjang 277,2 kilometer menghubungkan Kota Kupang di selatan hingga ke Mota’ain di Atambua, Kabupaten Belu di utara. Jalan penuh kenangan bagi warga dari rumpun keluarga yang sama di Pulau Timor dan sekarang terpisah garis batas teritori kedaulatan negara. Jalan ini tidak hanya dilalui oleh warga Nusa Tenggara Timur (NTT) tetapi juga warga dari Timor Leste yang hendak mengunjungi sanak famili hingga berbelanja kebutuhan sehari-hari dan keperluan adat. Kupang juga menjadi penghubung dengan titik paling selatan Indonesia, Pulau Rote, berjarak sepelemparan batu dari North Territory, Australia. Inilah jalan trans yang menguhubungkan dua tapal batas negara sekaligus.

Pertengahan bulan Oktober 2017. Sebagian besar pohon di sepanjang Trans Timor masih meranggas. Daun-daun berguguran menutupi sebagian besar permukaan tanah. Udara panas dan terik sinar matahari memekarkan bunga-bunga bugenvil berwarna-warni di halaman rumah warga. Memberi kesan kontras terhadap kayu-kayu pohon yang memutih keabuan hingga ke rantingnya menjulang ke langit biru bersih dengan guguran daun yang memberi warna kuning dan cokelat di seluruh permukaan tanah.

Begini kondisi jalan Trans Timor sekarang.(Foto:YD)

Begini kondisi jalan Trans Timor sekarang.(Foto:YD)

Di ruas jalan Trans Timor kita relatif tidak menemukan padang savana, tidak seperti di Pulau Sumba. Pemandangan seperti itu mendominasi antara Kota Kupang hingga memasuki Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Salah satu keajaiban alam lain di Nusa Tenggara Timur, tanaman padi tumbuh subur dengan dibantu pengairan yang baik. Di tepian sungai-sungai besar yang kekeringan dan berwarna kelabu, sawah menghijau terhampar.

“Tapi hasilnya hanya cukup untuk dikonsumsi sendiri,” kata Anton, pengemudi yang membawa kami dari Kupang menuju Pos Lintas Batas Negara di Mota’ain, Atambua.

Di sebelah kiri dari perempatan di tengah kota Kefamenanu ini ada sebuah rumah makan padang yang dijalankan warga lokal.Menyediakan makanan halal dan menyediakan tempat solat.Salah satu tempat beristirahat dalam perjalanan di Trans Timor.(Foto:YD)

Di sebelah kiri dari perempatan di tengah kota Kefamenanu ini ada sebuah rumah makan padang yang dijalankan warga lokal. Menyediakan makanan halal dan menyediakan tempat solat. Salah satu tempat beristirahat dalam perjalanan di Trans Timor.(Foto:YD)

Perjalanan dari Soe ke Kefamenanu di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) mendaki dan berkelok-kelok. Dikatakan, kelokannya tidak kalah dengan Kelok 9 di Sumatera. Kefamenanu berada di ketinggian. Di sini hujan lebih sering turun dibandingkan daerah lain di Pulau Timor. Suhu udaranya pun tidak sepanas di Kupang. Pepohonan di sepanjang Trans Timor hingga ke tengah dan keluar kota ini mulai menghijau. Kefamenanu juga cukup ramai. Sebagian warga mendirikan rumah permanen dengan batako. Selebihnya masih menggunakan batang pohon kelapa yang telah dipipihkan sebagai bahan dinding rumah. Karena berongga, rupanya itu bisa menyejukan udara di dalam rumah pada siang hari dan mengatur sirkulasi udara pada malam hari. Keunikannya, setiap rumah mempunyai satu gazebo beratap tinggi bergenteng ijuk. Rata-rata dibangun di depan atau samping rumahnya. Dari atas kendaraan kami lihat gazebo itu multifungsi.

Goa Santa Maria Bitauni.Tampak satu rombogan keluarga dari Dili,Timor Leste tengah melaksanakan misa.Mereka dalam perjalanan menuju Kupang.Kidung yang dinyanyikan menambah syahdu di tengah suasana sunyi di sekitarnya,meskipun ini berada di pinggir jalan Trans Timor.(Foto:YD)

Goa Santa Maria Bitauni.Tampak satu rombogan keluarga dari Dili,Timor Leste tengah melaksanakan misa. Mereka dalam perjalanan menuju Kupang.Kidung yang dinyanyikan menambah syahdu di tengah suasana sunyi di sekitarnya, meskipun ini berada di pinggir jalan Trans Timor.(Foto:YD)

Sekitar setengah jam sebelum memasuki Atambua, ada Goa Santa Maria Bitauni. Lokasi goa berada di atas tebing yang bisa didaki dengan meniti anak tangga yang masih bisa dilewati. Di pelatarannya ditempatkan bangku-bangku kayu dan bangku permanen yang dibuat dari beton. Sebuah bangunan kecil berada di satu sisi. Di terasnya, pastor dibantu seorang suster memimpin misa yang diminta oleh pengunjung.

Begini awal memasuki kota Atambua,Belu.Kota perbatasan.(Foto:YD)

Begini awal memasuki kota Atambua,Belu.Kota perbatasan.(Foto:YD)

Setelah melewati gerbang “Selamat Datang di Kota Atambua, Kota Perbatasan”, lagi-lagi kami disambut dengan deretan pohon hijau di kiri-kanan jalan. Meneduhkan jalan dan menyejukkan pandangan. Tidak lama kemudian mobil memasuki pusat kota ke kawasan perniagaan. Beberapa nama bank nasional, bank daerah NTT, tempat penukaran mata uang asing, hingga toko-toko yang menyediakan berbagai kebutuhan tersedia. Lalu lintasnya juga ramai.

Menurut pengemudi, banyak warga Timor Leste berbelanja di Atambua. Mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga menikmati hiburan. Sungguh di luar dugaan kami yang membayangkan satu kota kecil nan sepi di perbatasan.

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota’ain berjarak sekitar 30 menit berkendara dari tengah kota Atambua. Meskipun pintu perbatasan telah ditutup sejak pukul 16.00 WITA atau pukul 15.00 waktu Timor Leste, masih ada saja pengunjung berdatangan ke pintu perbatasan. Baik dari arah Timor Leste, tetapi lebih banyak lagi dari Indonesia. Prajurit TNI penjaga perbatasan tidak membuka portal yang telah diturunkan. Tetapi mengingatkan pengunjung Indonesia bisa melintasi jembatan Mota’ain I hingga di depan pintu sebelum check point pos lintas batas Timor Leste.

Satu sungai kecil yang mengering di bawah Jembatan Mota’ain I itu sekarang dibagi dua bagian, wilayah Indonesia dan wilayah Timor Leste. Pos lintas batas kedua negara ternyata berada di tepi pantai. Jadi, selain mengabadikan diri di depan pos lintas batas Indonesia dan Timor Leste, pengunjung pun berfoto dengan latar belakang pantai landai.

Saat menuju PLBN Mota’ain, sepeda motor dan parabola untuk menangkap siaran TV tampak di halaman-halaman rumah warga. Di setiap rumah ada satu bangunan mungil berwarna biru dari atap hingga dindingnya. Itu sarana MCK yang dibangun oleh pemerintah guna mengatasi isu sanitasi warga. Di sekitar pemukiman tampak hewan-hewan ternak serta petak-petak sawah dan ladang. Listrik pun sudah menerangi rumah-rumah warga. Meskipun belum bisa menerangi penghujung Trans Timor.

Jalan Nasional ini menghubungkan Kota Kupang dengan kota Atambua, Kabupaten Belu. Jaraknya sepanjang 277,2 kilometer. Dengan kondisi jalan Trans Timor sekitar 1 tahun terakhir ini rentang jarak tersebut bisa ditempuh selama 6 jam 20 menit perjalanan darat. Sedangkan dengan pesawat terbang waktu tempuhnya sekitar 40 menit. Perjalanan di darat tidak terlalu melelahkan. Karena ada beberapa titik pemberhentian cukup menarik, salah satunya Goa Santa Maria Bitauni di Kefamenanu itu.

Peserta post tour Komodo Travel Mart 2017 ke Atambua bersama prajurit TNI di perbatasan dan pengunjung lainnya.Seorang peserta post tour berasal dari Singapura.(Foto:YD)

Peserta post tour Komodo Travel Mart 2017 ke Atambua bersama prajurit TNI di perbatasan dan pengunjung lainnya. Seorang peserta post tour berasal dari Singapura.(Foto:YD)

Rute di darat dilintasi oleh warga NTT dan warga dari Timor Leste. Tidak lama lagi rute di udara pun akan dilintasi oleh warga dari kedua negara dan turis asing. Secara kedaulatan negara, warga di Pulau Timor terpisah. Sudah hampir 20 tahun lamanya. Hingga saat ini, mereka tetap merasa bersaudara, berkawan dan berbisnis. Selama melintasi Trans Timor hingga berdiri di palang pintu PLBN Mota’ain, saya hanya bisa merasakan bangga sebagai bangsa Indonesia. Perasaan itu bersemi, secerah warna-warni bunga bugenvil di sepanjang jalan tadi.

Saat memandang tugu “Timor Leste” dari balik pagar, saya teringat seorang kawan satu angkatan saat kuliah dulu. Di awal pertemuan dia mengira saya juga dari Dili. Meskipun sekarang kami dua orang dari warga negara yang berbeda, kami tetaplah berkawan.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.