Hari ini Depbudpar melancarkan undangan pada operator tur dan hotel untuk ikut pada kegiatan direct consumers selling yang akan diadakan tanggal 18 Nopember di Singapura. Sasarannya? Fokus untuk menarik para expatriate yang ada di Singapura. Undangan diluncurkan ke Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan masih terbuka bagi siapa yang berminat kendati belum terundang.  Demikian kata seorang pelaku bisnis inbound tour di Jakarta.

Ya memang, bagaikan disuguhkan pertandingan sepakbola saja. Menggunakan istilah pertandingan olahraga ‘injury time’ untuk periode tiga bulan terakhir 2008. Upaya intensif dan kerja keras bulan November ini diperlihatkan lagi oleh Depbudpar dan industri pariwisata. Event-event di perbatasan seperti show penggoyang dangdut Inul Daratista di Entikong di perbatasan Kalimantan dan InternationalJazz2008 di Batam, contoh dari upaya menarik wisman border cross alias pelintas batas. Bulan lalu ada event ITB-Asia di Singapura dan beberapa event yang diselenggarakan oleh MATTA – Malaysia Association of Tour and Travel Agents – juga diikuti oleh industri pariwisata Indonesia. Pada event-event itu, pihak Depbudpar menyediakan booth bagi industri pariwisata Indonesia yang ikut serta. Para peserta menanggung sendiri ongkos tiket dan penginapan setempat. Di sanapun, ternyata direct consumers selling memberikan hasil yang memuaskan.

Mereka wisman itu bersemangat membeli langsung pada kami. Kan harga menjadi lebih murah, kata salah satu operator tur yang ikut sebagai peserta. Dari direct selling yang diikutinya di Singapura baru-baru ini, meminjam istilah yang digunakannya sendiri, dia sudah merasa kebanjiran pembukuan dari grup-grup turis yang akan berkunjung bulan November-Desember sampai Januari-Februari.

Para wisman yang akan ditanganinya dari hasil direct selling itu akan datang terbang dari Singapura, Kuala Lumpur, Johor Bahru, bertujuan Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali. Masing-masing destinasi itu umumnya dijual dengan paket 4 hari 3 malam.

Operator inbound yang ikut pada event semacam ini, biayanya bisa diperkirakan sebagai berikut: tiket pergi pulang Rp 1,7 juta, fiskal Rp 1 juta, airport tax Rp 100.000, dan katakanlah lima hari di Singapura dengan biaya Rp 5 juta untuk hotel, makan minum, transportasi dll. Tentu saja ditambah nilai brosure atau leaflet promosi dan souvenir yang dibawa.

Grup mahasiswa dari Malaysia ternyata menjadi pembeli paket tur yang potensial. Pulau Bali kali ini banyak diminati para holidaymakers dan honeymooners, demikian disusul oleh destinasi Bandung dengan wisata kuliner bagi orang Malaysia.

Untuk lintas batas melalui udara antara Singapura, Malaysia dan destinasi Indonesia, kali ini AirAsia menjadi favorit. Bisa dibayangkan penerbangannya yang lima kali sehari Singapura-Jakarta, dan Kuala Lumpur-Bandung lima kali sehari, akan padat dengan penumpang. Tidak diragukan juga penerbangananya ke Yogyakarta dan Bali.

Dimaklumi bahwa Desember merupakan periode peak season setiap tahun untuk pariwisata, namun penambahan kunjungan dari hasil direct consumers selling kali ini juga berkaitan dengan upaya mengejar target tujuh juta wisman dalam VIY2008.

Tercapai atau tidak target tujuh juta wisman tahun 2008 ini, berhubung krisis ekonomi global sebagai imbas dari krisis keuangan AS, hari-hari ini memang menjadi pertanyaan kembali. Maklumlah, selama Oktober-Desember diperlukan rata-rata 800 ribu kunjungan wisman per bulan agar terealisasi jumlah total tujuh juta setahun. Dari Januari sampai September 2008, sudah dicapai sejumlah 4.570.492 kunjungan wisman.

Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar menggunakan istilah pertandingan olahraga ‘injury time’ untuk periode tiga bulan terakhir 2008. Dalam periode itu hendak didorongnya berbagai upaya untuk bisa mendekati angka target. Daftar event dalam program VIY2008, menurut Sapta Nirwandar, masih terdapat 28 events yang mestinya dilaksanakan selama periode Oktober-Desember 2008. Termasuklah pertemuan massal kekeluargaan beberapa marga China, yang alan datang dari Malaysia dan RRC; ada marga Lee, marga, Shu dan marga Huang. Jumlah mereka ribuan, dikatakan oleh Dirjen Pemasaran Pariwisata.

Pihak industri, hari-hari ini, memberi acungan jempol terhadap kegiatan yang tampak dengan sungguh-sungguh dilakukan oleh Menteri Pariwisata yang menerjunkan diri sendiri sampai para staf pelaksananya di direktorat promosi luar negeri sampai di lapangan.