Ikuti saja penunjuk semacam ini untuk mengeksplorasi keindahan persawahan di Jatiluwih.(Foto:YD)

Ikuti saja penunjuk semacam ini untuk mengeksplorasi keindahan persawahan di Jatiluwih.(Foto:YD)

Bali, (ITN-IndonesiaTouristNews):Sekitar 2,5-3 jam perjalanan darat dari bagian selatan Pulau Bali (Sanur, Kuta, Nusadua), kita akan sampai di Desa Jatiluwih di Tabanan. Itu sebenarnya pusat dari situs warisan dunia UNESCO, gelarnya diberikan untuk menghargai dan melestarikan sistem pengairan subak. Intinya: kehidupan gotong royong, saling bahu-membahu antar petani. Hamparan sawah di kaki Gunung Batukaru itu memang mengagumkan. Namun yang belum banyak diketahui dan dikunjungi, ada tempat-tempat mengagumkan lain di sekitarnya.

Nama ‘Jatiluwih’ tidak tersohor hebat seperti nama Bali umumnya. Sampai sebelum mencarinya di Google, tidak pernah terpikir Jatiluwih adalah tempat sistem pengairan subak yang diakui oleh UNESCO, badan PBB yang menaungi pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya, sebagai warisan budaya tak benda dunia.

Pusat desa itu ditandai dengan tugu yang menerangkan di situ adalah UNESCO heritage site. Sepanjang mata memandang hamparan sawah hijau sebelum menguning lalu dipanen. Ada satu jalan tidak terlalu lebar yang telah dilapisi paving block sepanjang beberapa ratus meter. Di situ wisatawan bisa berjalan-jalan menikmati suasana tenang di tengah persawahan Jatiluwih. Di beberapa titik, ada pemilik-pemilik sawah memasang tanda pengunjung dilarang memasuki area. Pengunjung bisa menelusuri pematang sawah yang tidak ada tanda larangan memasuki area namun tetap harus hati-hati agar tidak merusak tanaman padi petani.

Ini hamparan sawah dan suasana pedesaan di Desa Mengesta,salah satu desa di sekitar Jatiluwih,juga sama mengagumkan.(Foto:YD)

Ini hamparan sawah dan suasana pedesaan di Desa Mengesta,salah satu desa di sekitar Jatiluwih,juga sama mengagumkan.(Foto:YD)

Beberapa pura kecil di pinggir dan tengah sawah berisi sesaji kepada Dewi Sri. Pura itu tampak bak para penjaga yang sepanjang waktu melindungi tanaman padi agar tumbuh dengan baik dan menghasilkan beras yang diharapkan oleh petani.

Di situ pengunjung bisa soft trekking. Dengan mengikuti penanda penunjuk di sepanjang jalan dan pematang. Atau dibantu oleh petani-petani yang bisa merangkap juga sebagai pemandu dan berbagi keahlian pertanian organik.

Di pusat Jatiluwih telah berdiri beberapa restoran yang menyajikan makanan Indonesia dan Barat. Restoran-restoran itu umumnya berada di tanah yang agak lebih tinggi sehingga tamu-tamunya bisa bersantap siang atau sekedar coffee break sambil memandangi sawah, petani yang sedang bekerja dibelai hembusan angin sepoi-sepoi nan sejuk dan relatif bebas polusi. Menu nasinya menggunakan beras putih dan beras merah yang diproduksi langsung dari situ.

Sejak mulanya restoran-restoran di Jatiluwih beroperasi sampai dengan pukul 3 sore. Setelah itu hanya suasana tenang dan damai khas pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk kota dan pusat keramaian.

Begini air yang mengaliri sawah di Desa Mengesta.Ditengarai mengandung belerang dilihat dari warnaya.(Foto:YD)

Begini air yang mengaliri sawah di Desa Mengesta.Ditengarai mengandung belerang dilihat dari warnaya.(Foto:YD)

Sekitar 40 menit, apabila dihitung dari pusat Jatiluwih, ada sumber air panas Belulang di Desa Pakraman Belulang, Desa Mengesta. Jangan takut, tidak ada tulang-belulang di tempat air panas dan sekitarnya. Mata air panas alami itu berada di dalam sebuah pura yang disucikan. Air panas tersebut kemudian dialirkan ke tiga pancuran, satu kolam kecil dan dua kolam yang berukuran lebih besar. Suhunya tidak sepanas seperti air panas alami pada umumya. Seperti air hangat yang biasa dipakai mandi di rumah. Airnya pun tidak berbau belerang.

Warga lokal, rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, memanfaatkan air panas itu selepas bekerja di sawah pada sore hari dan hari-hari libur. Kebiasaannya, sebelum berendam di kolam atau mandi di pancuran, warga akan memakai canang dahulu kemudian berdoa di depan pura yang berada persis di sebelah kolam dan pancuran air hangat Belulang.

Sumber air hangat Belulang di Desa Pakraman Belulang,Desa Mengesta.Sekitar 40 menit dari pusat Jatiluwih.(Foto:YD)

Sumber air hangat Belulang di Desa Pakraman Belulang, Desa Mengesta. Sekitar 40 menit dari pusat Jatiluwih.(Foto:YD)

Dari pagi hingga siang hari, di pancuran dan kolam air hangat Belulang, beberapa orang wisatawan asing tampak menikmatinya. Sambil relaksasi di dalam air hangat alami mereka juga bermeditasi. Mereka menginap di akomodasi di desa-desa sekitar Jatiluwih. Tapi, ada juga yang jauh-jauh datang dari bagian selatan untuk menikmati air panas di situ.

Batukaru adalah gunung berapi yang tidak aktif lagi. Jejak gunung berapi masih bisa dilihat dari keberadaan sumber-sumber air panas alami dan air mengandung belerang yang mengairi sawah-sawah di sekitar Jatiluwih. Ya, air yang mengairi sawah-sawah di tepi Sungai Yeh O di Desa Mengesta mengandung belerang. Warna kuning sulfur melekat pada tanahnya. Boleh tidak percaya, tanaman padinya tampak subur sekali.

Pengunjung dan wisatawan di Jatiluwih dan desa-desa sekitarnya relatif tidak ramai. Paling enak menyusurinya dengan jalan kaki atau bersepeda. Sehingga betul-betul bisa merasakan kembali suasana pedesaan di Pulau Dewata yang membuat banyak maestro dan wisatawan dari mancanegara jatuh cinta pertama kali kepada pulau ini.

Air hangat mengalir di tepi jalan Desa Mengesta.Di sini petani membersihkan diri setelah bersawah sebelum pulang ke rumah.(Foto:YD)

Air hangat pun mengalir di tepi jalan Desa Mengesta. Di sini petani membersihkan diri setelah bersawah sebelum pulang ke rumah.(Foto:YD)

Untuk mencapai Jatiluwih dan sekitarnya dari kantong-kantong turisme di bagian selatan Pulau Bali, perlu waktu antara 2,5-3 jam perjalanan darat. Menuju kawasan pegunungan ke arah barat. Perjalanan selama itu setimpal dengan pengalaman yang didapatkan. Melepaskan diri sejenak dari keramaian. Merengkuh kembali kedamaian otentik di Pulau Dewata.*** (Yun Damayanti)