Melihat Kampung Warna-warni Jodipang di kota Malang.(Foto:YD)

Melihat Kampung Warna-warni Jodipang di kota Malang.(Foto:YD)

Bagian terakhir perjalanan famtrip media Arab Saudi menyuguhkan cerita kehidupan masyarakat Indonesia yang belum pernah mereka ketahui. Mulai dari perkembangan pesat transportasi udara dan konektivitas antarpulau di Indonesia hingga cerita mengenai masyarakat Indonesia di obyek wisata buatan dan wisata budaya yang menarik dan bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Dan minggu lalu mereka melihat langsung dan mengalaminya sendiri.

Dari Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno Hatta peserta famtrip agak sedikit kaget saat tiba di Bandara Abdulrahman Saleh di Malang yang jelas tampak jauh lebih kecil. Salah seorang jurnalis melontarkan pertanyaan apakah bandara di Bali kecil? Karena kami menumpangi pesawat ATR72 milik maskapai Wings Air dari grup Lion Air saat berpindah dari Malang ke Bali.

Sejak turun dari pesawat hingga memasuki ruang terminal kedatangan domestik di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tentu saja tampak dipenuhi dengan karakter dan nuansa Bali. Semua peserta sibuk mengabadikan dalam format foto dan video yang langsung diunggah ke media sosial seperti Snap Chat, Twitter dan Instagram.

Manar Shaheen,seorang dokter juga pembawa acara dan aktor terkenal di Arab Saudi mencoba simulator pesawat di Museum Angkut.(Foto:YD)

Manar Shaheen,seorang dokter juga pembawa acara dan aktor terkenal di Arab Saudi,mencoba simulator pesawat di Museum Angkut.Akun media sosialnya menjangkau kawasan Timur Tengah.(Foto:YD)

Sebelumnya, hujan baru saja berhenti di kota Malang seusai santap siang dan solat, kami langsung menuju Museum Angkut di Batu. Penjual suvenir dan aneka makanan ringan di lorong menuju museum telah menarik perhatian para peserta. Empat diantara peserta famtrip ialah laki-laki. Jadi koleksi kendaraan mulai dari sepeda, mobil, motor, kereta hingga pesawat amat menarik perhatian. Mereka mendengarkan dengan serius penjelasan pemandu lokal museum. Lebih antusias lagi saat mereka bertemu dengan salah seorang penggagas museum. Kebetulan sedang berada di Museum Angkut pada sore hari itu. Saat itu sedang dipamerkan beberapa armada pesawat TNI Angkatan Udara. Salah seorang peserta laki-laki mencoba merasakan dan berswafoto di salah satu pesawat tempur.

Suhu udara semakin dingin ketika kami memasuki Restoran Inggil di kota Malang untuk makan malam. Restoran itu menempati sebuah rumah yang dibangun pada tahun 1925. Tampil antik dan unik. Sang pemilik masih mempertahankan bentuk aslinya dan menempatkan barang-barang jadul di setiap sudutnya. Teh seduh hangat, sayur asem jawa dan ikan bakar masih meruapkan harumnya serta sambal tempe khas malang tandas dalam waktu tak terlalu lama. Kemudian, seorang penari membawakan tarian tradisional di atas panggung di bagian belakang rumah.

Seorang peserta perempuan dalam famtrip media dari Arab Saudi langsung berswafoto di depan tulisan "I AM in BALI" di begitu tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai.(Foto:YD)

Seorang peserta perempuan dalam famtrip media dari Arab Saudi langsung berswafoto di depan tulisan “I AM in BALI” di begitu tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai.(Foto:YD)

Menjelang siang keesokan hari kami sudah berada di ruang check-in Bandara Abdulrahman Saleh. Bandara kecil inipun tak luput dari jepretan kamera dan video yang langsung disiarkan melalui akun media sosialnya terutama melalui Snap Chat. Seorang peserta mengagumi bandara sekecil itupun fasilitasnya cukup lengkap. Penerbangan ke Bali hari itu terlambat sekitar 30 menit.

Mentari sudah semakin condong ke barat saat mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Suhu udaranya hangat dan lembab. Pintu gerbang dengan ukiran khas Pulau Dewata dan tulisan besar “I Am in Bali” sudah pasti jadi perhatiannya.

Dari bandara menuju kawasan Nusa Dua melintasi jalan tol Bali Mandara. Ini adalah satu-satunya jalan tol di Indonesia yang dibangun di atas permukaan laut sepenuhnya. Tak seorang pun yang tidak berdecak kagum.

Peserta famtrip media dari Arab Saudi berbaur dengan pengunjung mancanegara lainnya di Desa Adat Penglipuran,Bangli.(Foto:YD)

Peserta famtrip media dari Arab Saudi berbaur dengan pengunjung mancanegara lainnya di Desa Adat Penglipuran,Bangli.(Foto:YD)

Sambil menunggu proses check-in, dua orang staf Sofitel membawa kami tur keliling hotel. Salah satu luxury brand dalam jaringan hotel Accor ini membuat beberapa orang diantara peserta langsung menanyakan harga sewanya. Mereka tidak percaya akomodasi semewah itu di Bali bisa didapatkan sekitar setengah dari harga yang mereka bayarkan di Dubai, salah satu destinasi wisata utama bagi warga Arab Saudi. Seorang peserta juga langsung menanyakan bagaimana memesan romantic dinner di tepi pantai.

Pada esok harinya mengunjungi Desa Adat Penglipuran di Bangli. Penjor masih tampak segar. Baru beberapa hari lalu masyarakat Bali merayakan hari Galungan dan seminggu sebelumnya merayakan Hari Raya Nyepi. Tidak lama kemudian, hujan deras mengguyur desa yang mendapatkan penghargaan dari UNESCO itu. Kami mondok di rumah salah seorang warga. Di teras bangunan rumah baru keluarga Nyoman itu digelar barang-barang suvenir seperti kain batik motif bali, topeng dan beberapa produk kerajinan tangan lainnya. Peserta melihat-lihatnya. Seorang diantaranya mengeksplorasi rumah adat itu dan bertanya-tanya kepada tuan rumah. Pak Nyoman sang tuan rumah menawarkan meminjamkan payung dan mengantar kami hingga ke ujung desa setelah hujan reda.

Pemandangan sawah terasering jadi andalan restoran dan kafe di Tegalang,Ubud.Sebelum makan peserta famtrip dari Arab Saudi mengabadikannya.(Foto:YD)

Pemandangan sawah terasering jadi andalan restoran dan kafe di Tegalang,Ubud.Sebelum makan peserta famtrip dari Arab Saudi mengabadikannya.(Foto:YD)

Setelah menjadi lokasi pengambilan gambar film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts, kini di tepi jalan di Tegalalang, yang langsung menghadap sawah terasering, telah berdiri deretan restoran dan kafe serta toko-toko suvenir. Di ujung dari deretan restoran dan toko disediakan lahan parkir kendaraan. Makan siang dengan menu masakan Indonesia sambil menikmati pemandangan sawah berundak-undak.

Hujan pun belum kunjung berhenti di Bali. Apa boleh buat kami mesti melewatkan pertunjukan tari kecak di Pura Uluwatu sore hari tersebut. Kami langsung pulang ke hotel dan menikmati sisa malam dengan beristirahat. Keesokan paginya cuaca cukup cerah. Mentari bersinar sedikit malu-malu. Beberapa tamu Sofitel dari Cina bersama anak-anak mereka tengah bermain-main di tepi pantai. Sepasang turis lansia, juga dari Cina, tengah mengabadikan momen mentari pagi dari sebuah gazebo. Di kejauhan tampak sebuah kapal pesiar berwarna putih tengah berlayar memasuki alur Pelabuhan Benoa.

Setelah menginap dua malam di Pulau Bali, Minggu (9/4) pukul 12.00 WITA, pesawat Garuda Indonesia take off untuk membawa kami semua kembali menuju Jakarta. Dari bandara peserta diajak berbelanja di pusat Ibu Kota. Setelah makan malam di restoran Aljazeera Signature di Jalan Wahid Hasim, peserta membuang penat di Taman Sari Spa. Dan sebelum kembali ke negaranya pada hari Senin (10/4), peserta famtrip beraudiensi dengan Asdep Pengembangan Pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika dan Afrika Nia Niscaya di kantor Kementerian Pariwisata.

Yang bisa saya bayangkan saat itu ialah, mereka akan “menceritakan” pengalaman pada pubik mereka. Dan calon-calon wisatawan dari Arab Saudi akan cenderung ingin mencobaya, lalu, berwisata ke Indonesia. Menginap menkmati  hotel-hotel dan fasilitas-fasilitas bintang 4 dan 5.*** (Yun Damayanti. Selesai)