Penerbangan ke Bandara Silangit Danau Toba, Meningkat “Istimewa” Secara Kuantitatif, Juga Segera Pariwisatanya?

Dari bandara Silangit menuju Parapat, pusat turis di Danau Toba, kita akan melewati kota Balige dan tampak di sisi jalan raya pasar tradisional dengan bangunan menampilkan wajah arsitektur tradisional lokal.(Foto:AH, Agustus 2017))

Dari bandara Silangit menuju Parapat, pusat turis di Danau Toba, kita akan melewati kota Balige dan tampak di sisi jalan raya pasar tradisional dengan bangunan menampilkan wajah arsitektur tradisional lokal.(Foto:AH, Agustus 2017))

Jakarta, (ITN-IndonesiaTouristNews):Sudah mencoba terbangkah Anda ke bandara Silangit itu? Penerbangannya cenderung penuh penumpang.

“Sabtu (14/10) Presiden Jokowi didampingi Menhub Budi Karya sudah berkunjung ke Bandara Silangit untuk mengecheck progress kesiapan fasilitas bandara dan fasilitas pendukungnya untuk peresmian menjadi bandara internasional akhir Oktober ini”, ujar Agus Santoso Dirjen Perhubungan Udara.

“Sejak diterbangi maskapai penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta tahun lalu, jumlah pertumbuhan penumpang di Bandara Silangit melonjak tajam, tercatat pada semester I Tahun 2017 berjumlah 120.749 penumpang, naik sebesar 304.40 % dibandingkan semester I Tahun 2016 yang hanya berjumlah 29.859 penumpang”, jelas Agus.

Humas Ditjen Perhubungan Udara memberitakan itu, dan menyebutkan selanjutna, bahwa setelah Garuda, penerbangan ke Bandara Silangit dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) Jakarta kian bertambah, dengan beroperasinya ke sana Sriwijaya Air menggunakan Boeing B 737-500, disusul baru-baru ini oleh Batik Air.

Selain dari Jakarta, Garuda juga terbang dari Kualanamu dan Bandara Dr Ferdinand Lumban Tobing (FLZ) di Pinangsori, Sibolga, Tapanuli Tengah menggunakan pesawat ATR 72-600 berkapasitas 72 penumpang. Rute Silangit-Kualanamu juga diterbangi oleh Wings Air dengan ATR 72-500/600 berkapasitas 72 penumpang. Sementara itu, penerbangan perintis yang dilakukan Susi Air dengan pesawat Cessna Caravan berkapasitas 12 penumpang masih berlangsung dari Kualanamu dan Bandara Binaka (GNS), Gunungsitoli.

Penerbangan dari Jakarta ke Silangit dioperasikan oleh Garuda menggunakan pesawat Bombardier CRJ1000 bekapasitas 96 penumpang. Sementara Sriwijaya Air menggunakan pesawat Boeing 737-500 berkapasitas 120 penumpang dan Batik Air dengan pesawat Boeing 737-800 berkapasitas 162 penumpang.

Jadi, frekuensi penerbangan masing-masing maskapai juga naik cukup signifikan dari tahun ke tahun. Tahun ini, dari Jakarta ada 30 penerbangan per minggu, terdiri dari Garuda dua kali, Sriwijaya 21 kali, dan Batik 7 kali. Dari Medan (Kualanamu) ada 11 penerbangan per minggu, terdiri dari Garuda 4 kali dan Wings 7 kali. Selain itu, masih ada juga penerbangan perintis Susi Air dengan frekuensi satu-dua kali per minggu.

“Seiring dengan melonjaknya jumlah pergerakan penumpang, pergerakan kargo pun melesat tajam. Tercatat tahun 2015 hanya 258.272 kg dan tahun 2016 melonjak naik menjadi 2.960.593 kg. Bahkan sampai akhir tahun ini diperkirakan bisa mencapai hampir 6 ton. Pergerakan pesawat di Bandara Silangit memang meningkat, dari 36 pergerakan tahun 2014 menjadi 804 pergerakan tahun 2015, lantas naik tajam tahun 2016 menjadi 3.974 pergerakan dan 6.441 pergerakan pada paruh waktu tahun 2017”, tambah Agus.
Diharapkan Bandara Silangit menjadi bandara percontohan sebagai prasarana penunjang untuk meningkatkan sektor pariwisata dan pertumbuhan ekonomi masyarakat

Agus mengatakan, Presiden Jokowi tahun lalu telah memerintahkan agar Garuda menerbangi rute commercial non subsidi dari dan ke Bandara ini. Saat itu hanya diterbangi penerbangan perintis bersubsidi dengan penumpang yang hanya 12 sampai 24 orang sekali angkut dengan pesawat kecil. Namun demikian, saat ini diluar dugaan dimulai dengan Pesawat ATR capasitas 72 lalu kapasitas 96 CRJ bahkan pesawat kapasitas diatas 100 penumpang dengan pesawat B 737 pun penumpang tujuan Silangit semakin meningkat.

Sejak bandara ini diperluas dan ditingkatkan kapasitasnya ditambah lagi dengan promosi gencar dari Presiden Jokowi jumlah penumpang di Bandara Silangit ini meningkat lebih 14 kali lipat atau 1.400 %. “Dengan keberaniannya Presiden Jokowi mematahkan stigma teori transportasi yang selama ini secara konvensional dianut yakni ‘Ship follow the trade’ menjadi ‘Trade follow the ship”, ujar Agus.(dari: inaca.or.id)

Jadi, peningkatan kuantitatif dapat dikatakan “istimewa” dalam jumlah penumpang penerbangan, frekuensi penerbangan, maskapai yang beroperasi, tonage kargo, maka diharapkan peningkatan kualitatif dari sudut pariwisata akan segera menyusul. Khususnya dengan akan masuknya penerbangan luar  ngeri. Patut kita sampaikan salut pada maskapai nasional yang  akan memulainya. Yaitu,meningkatnya jumlah “wisman dan wisnus” dengan isimewa pula. Sebagai dimaklumi, ditargetkan oleh Kemenpar sekitar satu juta wisatawan akan mengunjungi destinasi Danau Toba di tahun 2019.***

Leave a Reply

Your email address will not be published.