Azamara Quest,salah satu kapal butik dalam grup Royal Caribbean Cruise Lines sedang sandar di Pelabuhan Benoa,Bali.(Foto:Pelindo 3 Benoa)

Azamara Quest, salah satu kapal butik dalam grup Royal Caribbean Cruise Lines sedang sandar di Pelabuhan Benoa, Bali.(Foto:Pelindo 3 Benoa)

Arus kunjungan kapal pesiar ke pelabuhan-pelabuhan yang dikelola oleh PT Pelindo III sepanjang Semester I tahun 2017 meningkat 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selama enam bulan pertama tahun 2017 telah singgah 70 unit kapal pesiar asing. Dari sisi jumlah penumpang memang mengalami penurunan 12 persen daripada tahun 2016 karena kapal-kapal yang masuk ukurannya lebih kecil. Kapal-kapal itu lebih mudah diakomodasi di pelabuhan-pelabuhan dengan panjang dermaga yang ada saat ini, lebih “lincah” saat menyinggahi destinasi-destinasi di daerah remote, dan paket-paket pelayarannya pada umumnya berada di level mid-up atau luxury cruising.

“Jumlah kunjungan kapal pesiar selama semester pertama 2017 meningkat 34 persen dibandingkan capaian tahun lalu di periode yang sama,” ujar Widyaswendra, VP Corporate Communication Pelindo III. Kendati demikian, jumlah penumpang kapal pesiar justru mengalami penurunan12 persen secara year-on-year. Selama Semester I tahun 2017 hanya 49.345 penumpang dibandingkan periode yang sama pada 2016 mencapai 55.803 penumpang.

Dari pengamatan Pelindo III, telah terjadi pergeseran tren dimensi kapal pada 2017. Semakin populer kapal pesiar dari kelas small ship dan butik mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di wilayah kerjanya.

Kapal pesiar Star Clipper berlayar di perairan Indonesia mulai tahun 2017.Ini saat berada di perairan di sekitar Pulau Bangka,Bangka Belitung pada bulan Maret lalu.(Foto:Ist.)

Kapal pesiar Star Clippers berlayar di perairan Indonesia mulai tahun 2017.Ini saat berada di perairan di sekitar Pulau Bangka,Bangka Belitung pada bulan Maret lalu.(Foto:Ist.)

Kapal pesiar kecil berkapasitas penumpang berkisar 251-750 orang. Dari 70 kunjungan (calls) tersebut, kapal pesiar berukuran kecil ini mencapai 44 persen atau sebanyak 31 kunjungan. Berbeda dengan tahun lalu, kelas small ship hanya mencatatkan kunjungan sebanyak 7 call atau 15 persen saja. Kunjungan kelas small ship meningkat 77 persen pada Semester I tahun ini.

Kapal pesiar kelas butik hanya berkapasitas 50-250 orang. Pada Semester I tahun 2016 hanya ada 1 kunjungan kapal pesiar butik, pada periode yang sama tahun ini tercatat 13 kunjungan. Peningkatannya mencapai 92% YoY.

Sedangkan jumlah kapal pesiar kelas medium menurun 26% atau sebanyak 9 kunjungan saja.

“Tahun 2016, kunjungan cruise didominasi oleh kapal dari kelas mid-size ship, berkapasitas 751-2.500 orang. Jumlah mid-size ship mencapai 34 calls atau 74 persen dari total kunjungan 46 calls ke pelabuhan-pelabuhan yang dikelola Pelindo III sepanjang tahun 2016,” tambah Widyaswendra.

Pelindo III menegaskan, penurunan jumlah penummpang dari tahun ke tahun (YoY) atau tren operator mengarahkan kapal-kapalnya yang berukuran lebih kecil ke perairan Indonesia tidak berkaitan dengan insiden kapal Caledonian Sky di Raja Ampat beberapa waktu lalu maupun infrastruktur pelabuhan yang belum tersedia.

Wisman dari kapal pesiar yang singgah di Lombok menggunakan tender untuk sampai di jetty Pelabuhan Lembar.Ini sudah comply dengan ISPS Code.(Foto:Dok.Pelindo 3 Cab.Lembar Lombok)

Wisman dari kapal pesiar yang singgah di Lombok menggunakan tender untuk sampai di jetty Pelabuhan Lembar.Ini sudah comply dengan ISPS Code.(Foto:Dok.Pelindo 3 Cab.Lembar Lombok)

Reputasi Pulau Bali yang sudah mendunia pun berdampak pada tingginya intensitas kunjungan kapal pesiar terutama ke Pelabuhan Benoa dibandingkan pelabuhan lainnya di wilayah kerja Pelindo III, yakni sebanyak 38 kunjungan. Bahkan, intensitas kunjungannya belum dapat disaingi oleh tujuh pelabuhan Pelindo III lainnya jika digabungkan. Tujuh pelabuhan tersebut adalah Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang), Pelabuhan Lembar (Lombok), Pelabuhan Tanjung Tembaga (Probolinggo), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), Pelabuhan Celukan Bawang (Bali), Pelabuhan Kalabahi (Alor, NTT) dan Pelabuhan Badas (Sumbawa, NTB).

Peak season kunjungan kapal pesiar di kedelapan pelabuhan tersebut terjadi pada triwulan pertama 2017, yaitu antara bulan Januari sampai dengan Maret. Sepanjang triwulan pertama 2017 jumlah kunjungan kapal pesiar tercatat sebanyak 45 calls. Selanjutnya pada kuartal kedua jumlah kunjungan menurun 25 calls.

Kecenderungan ini merupakan imbas pergantian musim di negara-negara Eropa maupun Amerika Serikat yang masih mengalami musim dingin. Para pelancong mancanegara pun banyak memanfaatkan masa liburannya menuju negara-negara beriklim tropis tak terkecuali Indonesia.

Kondisi tersebut telah mendorong Pelindo III meningkatkan pelayanannya agar dapat memperlancar aksesibilitas wisatawan mancanegara melalui laut menuju destinasi-destinasi wisata menarik di Indonesia. Pertama adalah meningkatkan fasilitas yang sudah ada. Pelindo III tengah berupaya menambah panjang Dermaga Timur di Pelabuhan Benoa hingga menjadi 340 meter agar mampu mengakomodasi kapal pesiar dengan panjang keseluruhan (length overall) di atas 240 meter. Selain itu, melakukan pembangunan 11 terminal penumpang baru di pelabuhan-pelabuhan yang melayani kapal penumpang, baik domestik maupun internasional.

Salah satu operator pelabuhan yang paling banyak menerima kunjungan kapal pesiar ini pun berinisiatif mengembangkan pelabuhan-pelabuhan yang berorientasi pada industri pariwisata. Ini tidak lepas dari kondisi geografis Indoneisa dengan panorama perairan yang memikat. Daerah-daerah yang akan dikembangkan oleh Pelindo III antara lain, Banyuwangi, JawaTimur; Lombok Barat, NTB; Labuan Bajo, NTT; dan Benoa, Bali. Semakin besar jumlah kunjungan kapal pesiar ke Indonesia maka akan semakin besar potensi meningkatkan jumlah wisatawan luar negeri dalam rangka mencapai target nasional 20 juta wisman pada 2019 mendatang.

Pelindo III juga semakin gencar mempromosikan agenda pengembangan pelabuhan-pelabuhan guna mengakomodasi kapal pesiar di wilayah kerjanya kepada para operator kapal.

Mengenai rencana penurunan biaya sandar masih menjadi pembahasan antara Pelindo III dengan kementerian terkait. Karena itu terkait dengan besaran penurunan, klasifikasi kapal pesiar, peruntukan, pembayaran serta inovasi yang mengikuti rencana penurunan biaya tersebut.*** (Yun Damayanti)