Pelayaran Wisata di Labuan Bajo Sungguh Maju, Masyarakat Mestinya Senang, Perlu Tambahan Sarana di Pelabuhan!

Jasra Irawan,Kepala Syahbandar Unit Pelaksana Pelabuhan Labuan Bajo.(Foto:YD)

Jasra Irawan,Kepala Syahbandar Unit Penyelenggara Pelabuhan Labuan Bajo.(Foto:YD)

Labuan Bajo, (ITN-IndonesiaTouristNews): Antara 5.000-6.000 kapal singgah di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, setiap tahun. Sekitar 90 persennya kini bertujuan wisata.

Total ada sekitar 300 kapal, sandar dan labuh di sepanjang perairan di depan Labuan Bajo yang berbentuk teluk-teluk. Di beberapa bagiannya ada pulau-pulau kecil yang memberikan perlindungan. Kapal-kapal kecil berukuran sampai dengan 7 GT (gross ton) mendominasi perairan. Kapal-kapal milik nelayan yang dahulu digunakan melaut mencari dan menangkap ikan semakin hari kian banyak yang beralih fungsi menjadi kapal-kapal wisata. Karena masyarakat merasakan penghasilan dari kegiatan wisata jauh lebih besar.

Kapal-kapal kecil sampai dengan 7 GT itu umumnya digunakan untuk full day trip. Berangkat setelah matahari terbit dan kembali petang saat mentari akan tenggelam. Umumnya kapal-kapal bekerja sama dengan trip organizer ataupun agen-agen perjalanan kecil yang mencari tamu-tamu. Rute yang ditawarkan meliputi Pulau Padar, melihat komodo di Pulau Komodo atau Pulau Rinca, snorkeling di Pink Beach, bahkan ada juga yang sampai ke Manta Point. Diikuti oleh wisman dan winsus.

Sedangkan kapal-kapal lebih besar, semi phinisi dan phinisi, berukuran lebih dari 50 GT. Umumnya digunakan untuk menginap. Paling umum selama 2 hari dan 3 hari. Phinisi yang kerap disebut liveaboard (LOB) itu menawarkan dua hal sekaligus, alat transportasi dan sarana akomodasi. Operator-operator LOB menawarkan paket-paket leisure dan paket-paket menyelam. Bahkan untuk paket-paket menyelam durasinya bisa mencapai 5 hari hingga 6 hari. Itu hanya di sekitar kawasan Taman Nasional Komodo. Paket-paket wisata selam multidestinasi akan lebih lama lagi.

Menurut catatan Syahbandar Unit Penyelenggara Pelabuhan Labuan Bajo, tidak banyak kapal-kapal phinisi yang home base di Labuan Bajo. Kebanyakan home base kapal berada di Bali, Lombok atau Surabaya. Jadi kapal datang/singgah di Labuan Bajo untuk mengangkut penumpang/wisatawan yang akan berlayar di sekitar kawasan Taman Nasional Komodo.

Dermaga pelabuhan Labuan Bajo yang senantiasa ramai.(Foto:YD)

Dermaga pelabuhan Labuan Bajo yang senantiasa ramai.(Foto:YD)

Dalam 2 tahun terakhir ini lebih dari 100 kapal berbendera asing singgah di kota pelabuhan kecil di pesisir barat Pulau Flores itu. Kehadiran kapal-kapal wisata dalam ukuran besar dan kecil – termasuk yacht— terasa sekali pasca Sail Komodo 2013.

Masih dari data Syahbandar Unit Penyelenggara Pelabuhan Labuan Bajo menunjukkan, penumpang asing yang naik dan turun di Labuan Bajo lebih dari 30 ribu orang dalam tiga tahun terakhir. Mereka ada yang fly & cruise, datang dan kembali melalui Labuan Bajo untuk berlayar. Ada juga mereka datang ke Labuan Bajo, berlayar dengan phinisi dan turun di daerah lain. Atau sebaliknya, mereka mulai berlayar dari Bali atau Lombok dan turun di Labuan Bajo.

Setiap hari Syahbandar Unit Penyelenggara Pelabuhan Labuan Bajo mengeluarkan sekitar 50 izin berlayar (Surat Persetujuan Berlayar/SPB). Pada waktu-waktu tertentu pernah mencapai 100 izin berlayar dikeluarkan dalam sehari. Ini terutama saat peak season.

“Dari 50 SPB yang diterbitkan, untuk kapal di luar kapal wisata jumlahnya di bawah 10. Jadi bisa dikatakan, sekitar 90% izin berlayar untuk pelayaran wisata,” ujar Jasra Irawan, Kepala Syahbandar Unit Penyelenggara Pelabuhan Labuan Bajo.

Sedangkan untuk yacht, Syahbandar tidak menerbitkan SPB, hanya memberikan stamp. Sejak Sail Bunaken dan Sail Morotai ada kebijakan, yacht yang datang ke Labuan Bajo dianggap singgah sehingga tidak diperlukan izin berlayar. Karena kapal digunakan untuk kepentingan pribadi dan tidak bersifat komersil.

Dengan 90% pelayaran di Labuan Bajo adalah pelayaran wisata, seperti juga di tempat-tempat lain di mana wisata bahari, khususnya pelayaran wisata, telah berkembang, infrastruktur di dermaga-dermaga yang ada di Labuan Bajo belum memberikan kemudahan, keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan. Misalnya di dermaga, belum ada shelter tempat wisatawan menunggu, belum ada tangga atau sarana yang membuat setiap orang lebih mudah dan aman naik-turun dari kapal, tidak ada fasilitas toilet umum, dan minim penerangan pada malam hari di sekitar dermaga.

Belum ada standar tarif penyewaan kapal kadang-kadang membuat wisatawan bingung dan merasa terjebak. Karena tidak semua wisatawan mengikuti perjalanan melalui trip organizer atau agen perjalanan.

Menurut seorang pelaku usaha wisata di Labuan Bajo, standar keamanan kapal-kapal kecil yang beroperasi di Labuan Bajo masih perlu ditingkatkan dan diawasi oleh otoritas pelabuhan/dermaga. Karena keselamatan wisatawan tidak bisa ditawar-tawar. Sedangkan Syahbandar berharap agar para pelaku usaha pelayaran wisata melaporkan manifes penumpang yang sesuai demi keselamatan pelayaran dan penumpang.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.