Makan hidangan laut di pantai trade merk pantai Jimbaran.(Foto:YD)

Makan hidangan laut beramai-ramai di atas pasir pantai telah jadi trade mark pantai Jimbaran, Bali.(Foto:YD)

Ya, semata keindahan alam di pantai atau di gunung, tak cukup menggerakkan pariwisata. Jika pesisir dan pantai hendak dijadikan tourist spot,  pertanyaan perlu dijawab: what to see, what to experience, what to eat, what to buy…? Selain pantainya relatif bersih, wisatawan selalu merasa ada sesuatu yang bisa dilakukan di sana. Ini salah satu contoh testimoninya. Peserta Famtrip Media Diving dan MICE dari Mesir dan Bahrain menyaksikan dan mengalaminya. Mereka adalah jurnalis yang didatangkan oleh Kemenpar awal September ini. Mulai dari bersantai sambil berjemur, bermain selancar atau baru mulai belajar, berenang di pantai-pantai yang landai, sampai melepaskan tukik, bayi penyu, di pantai Kuta serta melakukan olahraga dan permainan air menantang adrennalin di kawasan Tanjung Benoa.

Instruktur (local guide) di water sport center sedang memberi menjelaskan permainan dan memberi pengarahan kepada peserta Famtrip Media yang akan mencoba parasailing.(Foto:YD)

Instruktur (local guide) di water sport center sedang  menjelaskan permainan dan memberi pengarahan kepada peserta Famtrip Media yang akan mencoba parasailing.(Foto:YD)

Tanjung Benoa sudah lama dikenal sebagai salah satu pusat water sport terkini di Pulau Dewata. Ada sekitar 20 operator permainan dan olahraga air menantang di kawasan ini. Operator-operator menawarkan mulai dari yang low risk sampai yang high risk. Apapun permainannya, menjelaskan cara-cara melakukannya kepada wisatawan, memastikan keamanan peralatan yang dipakai, dan sigap jika terjadi insiden merupakan prosedur standar operasi  (SOP) yang wajib dilakukan oleh operator olahraga dan permainan air di sana.

Pantai Tanjung Benoa memang berwarna coklat keemasan, dibandingkan yang lain barangkali kurang menarik. Namun keinginan mencoba hal-hal baru yang menantang dan apakah kita mampu melakukannya, itulah yang menarik dari pantai ini.

Para operator itu bisa mengakses bantuan finansial melalui pengajuan proposal dengan skema bisnis yang baik dan jelas sehingga mereka dapat membuat water sport center yang menarik dan dapat menyediakan fasilitas pengunjung dengan kualitas lebih baik, layak dan berstandar pariwisata.

Wisatawan di pantai Kuta melepas 130ekor tukik,Jumat (2/9),lalu.Kegiatan ekowisata ini selalu menarik perhatian wisatawan anak-anak juga orang dewasa.(Foto:YD)

Wisatawan di pantai Kuta melepas 130 ekor tukik, Jumat (2/9),lalu.Kegiatan ekowisata ini selalu menarik perhatian wisatawan anak-anak di samping orang dewasa.(Foto:YD)

Diantara hiruk pikuk turis yang selalu meramaikan pantai Kuta, I Gusti Ngurah Tresna, atau dikenal sebagai Mr. Turtle, dari Bali Sea Turtle Society, dengan pengeras suara di tangan kanan, mengajak wisatawan melepaskan anak penyu, tukik, pada hari Jumat (2/9) lalu. Ada 130 ekor tukik dilepas pada pukul 17.00 sore hari itu. Banyak anak-anak ditemani orang tuanya juga orang-orang dewasa tampak bahagia dan bersemangat melepaskannya ke samudera luas habitatnya. Diperkirakan, hanya sekitar 1000 ekor tukik bisa bertahan hidup dan tumbuh menjadi penyu dewasa di alam liar. Bayi-bayi penyu itu tidak pernah mengenal induknya sejak pertama kali menetas. Tidak pernah ada yang tahu apakah mereka akan dapat bertemu dengan induknya di lautan luas.

Sebelum mentari memerah di ufuk, tukik-tukik sudah berenang memulai babak baru kehidupan mereka di alam liar. Sementara mereka yang melepaskannya kembali pada kegiatannya masing-masing menunggu melepas senja di pantai Kuta yang selalu ditunggu dan dirindukan.

Di Jimbaran, para pelayan dan koki di rumah-rumah makan dengan sajian utama hidangan laut, sibuk melayani turis-turis yang memenuhi meja-meja di atas pasir di tepi pantai. Sambil menunggu hidangan disajikan, wisnus dan wisman bermain-main di pantai, mengabadikan mentari yang akan segera tenggelam dan berbincang santai dengan kawan-kawan atau pasangannya masing-masing.

Karena selalu ada sesuatu bisa dilakukan di pantai yang sebenarnya membuat kita selalu merindukan dan mencintai pantai-pantai di Bali. Dan kesembilan peserta famtrip media dari Mesir dan Bahrain mengakui keindahannya. *** (Yun Damayanti)