(Logo:Disbudpar Kota Pangkalpinang)

(Logo:Disbudpar Kota Pangkalpinang)

Bagi orang Bangka, etnis Tionghoa maupun Melayu, menjamu atau mengajak makan tamu merupakan hospitality-nya yang telah membudaya. Menolaknya bisa disalahpahami tamu tidak menghormati tuan rumah. Tampaknya ini ada pengaruh dari kebiasaan dan pola makan masyarakat pada umumnya di Pulau Bangka, Bangka Belitung. Ada kalanya bagi yang baru pertama kali datang terkesan di sana makan melulu.

Ada saran dari Mingki Listiyadi, pemilik La Trassee Bistro di Pangkalpinang, yang patut dicoba.

Kuliner yang mesti Dicoba saat pertama kali di Bangka

Ini otak-otak bangka.Terdiri dari pempek dari ikan,sekarang ada yang membuatnya dari cumi dan udang,umumnya dikukus.Pempek kulit ikan dan sayur yang digoreng.Dan otak-otak dibungkus daun pisang yang dibakar di atas arang.(Foto:YD)

Ini otak-otak bangka.Terdiri dari pempek dari ikan,sekarang ada yang membuatnya dari cumi dan udang,umumnya dikukus.Pempek kulit ikan dan sayur digoreng.Dan otak-otak yang dibungkus daun pisang dibakar di atas arang.(Foto:YD)

  1. Otak-otak.

Makanan olahan terbuat dari ikan laut dan sagu disebut oleh orang Bangka otak-otak. Terdiri dari pempek dengan ukuran lebih kecil dari pempek palembang dan otak-otak yang dibungkus daun pisang seperti yang ada di Makassar. Sebagian besar dikukus kecuali, yang dibuat dari kulit ikan dan sayuran digoreng dan otak-otak yang dibungkus daun dibakar di atas arang. Cara makannya, semua dicocolkan ke tiga pilihan sambal.

  1. Mi

Bagi pengunjung non-muslim mesti mencoba bakmi bangka atau mi yan. ‘Bak’ berarti babi. Kuah kaldu dan baso mi bangka asli dibuat dari daging babi. Jika ada pengunjung muslim yang ingin mencicipi mi bangka pasti tidak akan dianjurkan, atau dicarikan tempat makan halal yang menyediakannya.

Mi koba dengan kuah kaldu ikan.Rasanya gurih dan sedikit manis.(Foto:YD)

Mi koba dengan kuah kaldu ikan.Rasanya gurih dan sedikit manis. Dan ini halal.(Foto:YD)

Pengunjung muslim mesti mencicipi mi koba dan mi kuah ikan. Kedua makanan mi ini menggunakan daging dan kaldu ikan laut segar. Bisa dikatakan, makanan mi tersebut langka bisa ditemukan di daerah lain di luar Bangka.

  1. Hok lok pan atau martabak manis bangka
  2. Es kacang merah
  3. Lempah.Kuahnya bening mirip kuah sayur asem. Bisa berisi sayur-sayuran, ikan atau daging sapi. Ini masakan melayu dengan bumbu dasar yang tidak kompleks namun cita rasanya luar biasa. Masakan ini sudah dibuatkan standardisasi oleh pemda sehingga mulai dari warung makan hingga restoran hotel menyediakannya di dalam pilihan menu.
  4. Te fu cauw, tahu pong (tahu kosong) yang dimakan bersama kuah cuka yang terbuat dari tauco. Kuah cukanya mirip sambal cocolan untuk makan pempek bangka. Tauco yang digunakan di sini umumnya menggunakan hasil laut.
  5. Rujak tahu
  6. Te fu kok, semacam baso tahu. Terdiri dari tahu yang di tengahnya dimasukkan baso ikan dan baso babi. Kuahnya juga dibuat dari kaldu babi. Meskipun tidak banyak, ada juga tempat makan halal yang menyediakan te fu kok
Ini lempah darat.Menggunakan daun dan batang keladi.Mirip sayur asem dengan rasa kuah lebih segar dan ringan.(Foto:YD)

Ini lempah darat.Menggunakan daun dan batang keladi.Mirip sayur asem dengan rasa kuah lebih segar dan ringan.(Foto:YD)

Kawasan Kampung Bintang merupakan pemukiman komunitas keturunan Tionghoa di Pangkalpinang. Di sepanjang ruas jalan di kampung itu banyak tempat makan yang menawarkan makanan khas Bangka. Tetapi, kawasan ini tidak dianjurkan bagi pengunjung muslim.

Di sekitar ruas Jalan Ahmad Yani terdapat komunitas Melayu, mayoritas beragama Islam. Di sini mudah menemukan makanan halal. Cara termudahnya, memilih tempat makan yang dimiliki dan dikelola oleh orang Melayu. Atau, yang menawarkan makanan yang dibuat dari bahan ikan. Contoh, rata-rata penjual otak-otak ialah keturunan Tionghoa tetapi otak-otak bangka pasti dibuat dari ikan laut.

Begitupun dengan hok lok pan. Loyang yang digunakan untuk martabak manis dan martabak telur berbeda. Umumnya menggunakan daging sapi untuk isian martabak telur. Tidak akan dimarahi oleh penjualnya jika masih menanyakan daging apa yang dipakai dalam isian martabak telur.

Es kacang merah.(Foto:YD)

Es kacang merah.(Foto:YD)

Bagi pengunjung yang tak bisa lepas dari makanan di tempat asalnya, kawasan di sekitar Pasar Mambo dan di sekitar alun-alun dapat menemukan makanan yang banyak ditemukan di Pulau Jawa. Beberapa diantaranya juga menjual makanan khas Pangkalpinang.

“Saya, kalau mau menjamu, tanya dulu agama dia apa. Dari situ saya tahu mesti mengajaknya ke mana,” ujar Mingki. Dan pertanyaan itu diajukan guna menghormati tamu-tamu semata.

Hok Lok Pan, Warisan Budaya Tak Benda

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang Akhmad Elvian, sudah dilakukan beberapa kegiatan mengarah pada memanfaatkan merek ‘martabak bangka’ dalam memasarkan pariwisata khususnya di kota Pangkalpinang.

Ada Festival Martabak. Menurut rencana akan digelar setiap tahun. Festival pertama diselenggarakan pada April 2015 lalu. Memecahkan rekor nasional MURI dengan membuat hok lok pan terpanjang di Kabupaten Bangka dan hok lok pan terbesar di Kota Pangkalpinang. Tahun depan akan mulai mengajukan hok lok pan/martabak bangka untuk diakui sebagi Warisan Budaya Tak Benda Nasional.

Hok lok pan.Begini martabak bangka asli,hanya bertoping wijen.(Foto:YD)

Hok lok pan.Begini martabak bangka asli,hanya bertoping wijen.(Foto:YD)

“Salah satu upaya mematenkan martabak bangka (hok lok pan), kami mau mengajukannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional, rencananya tahun depan. Mulai tahun 2018, kami juga merencanakan melakukan kajian martabak bangka asli agar dapat menetapkan standardisasi martabak bangka itu yang bagaimana. Martabak bangka asli itu yang hanya berisi wijen saja ya,” ujar Elvian.

Hok lok pan atau martabak bangka ini masih terkait erat dengan tradisi. Mulai dari pembuatannya hingga cara mengkonsumsinya. Sampai saat ini, hok lok pan/martabak bangka bukan penganan yang dimakan di tempat (dine-in) tetapi untuk dibawa pulang (take away) agar bisa dimakan bersama keluarga atau teman-teman. Mengubah tradisi itu tidak mudah. Namun, pemda mulai mendorong hok lok pan/martabak bangka untuk pariwisata.

Wendo Irwanto, Ketua PHRI Bangka Belitung, menerangkan, hotel dan restoran di Bangka belum berani menawarkan hok lok pan atau martabak bangka dalam menunya. Salah satu sebabnya, belum ada standardisasi atas hok lok pan/ martabak bangka. Selain itu, selera individu dan fanatisme pelanggan/konsumen masih amat lekat dalam memilih martabak.*** Bagian IV-Selesai (Yun Damayanti)