Pariwisata Indonesia dapat dipastikan sesuai dan akan disukai oleh semua segmen wisman, karena banyaknya variasi destinasi dan produk wisatanya. Ini wisman baru mendarat di pulau Giri Trawangan.(Foto:AH)

Pariwisata Indonesia dapat dipastikan sesuai dan akan disukai oleh semua segmen wisman, karena banyaknya variasi destinasi dan produk wisatanya. Ini wisman baru mendarat di pulau Giri Trawangan.(Foto:AH)

 (Sebelumnya: Sepuluh alasan memungkinkan terjadinya “revolusi pariwisata Indonesia” pada tiga empat tahun ke depan ini.)

4 :

Penerbangan asing dan nasional

Selama ini dimaklumi bahwa operator penerbangan asing kalau beroperasi ke Indonesia, yang utama mereka sasar adalah mengisi penerbangannya dengan penumpang yang berasal dari Indonesia. General Manager atau District Manager yang ditempatkan di Indonesia tugas utamanya meningkatkan sales di wilayah tugasnya, ya di Indonesia. Jadi, praktis memburu outbound traveler dari Indonesia. Bersamaan itu, salah satu sasaran utama mereka adalah rombongan TKI. Di samping itu, khusus bagi penerbangan rute Timur Tengah, tujuannya untuk menggarap pasar wisatawan umroh dari Indonesia. Jadi, tidaklah tugas mereka mendatangkan wisman dari luar negeri Indonesia ke destinasi Indonesia.

Kemenpar sejak tahun ini tampak melakukan pendekatan pada maskapai asing hingga ke kantor pusat mereka, dan, mengajak membuat MoU, dengan strategi dan taktik agar para maskapai asing itu juga meng-generate penumpang yang berasal dari home-base mereka menuju ke destinasi di Indonesia.

Demikianlah pula paradigma di kalangan maskapai nasional, selama ini seakan berlaku pakem bisnis: kalau penerbangan di dalam negeri saja sudah cukup bisa mengisi tempat duduk pesawat dan menghasilkan pendapatan yang tunai dalam jumlah cukup, mengapa harus terbang ke luar negeri? Terbang ke/dari luar negeri itu, selain menambah cost operasional, pun tidak menghasilkan cash flow secepat yang diperoleh di dalam negeri.

Terlihat enam penerbangan nasional beberapa tahun terakhir memegang pangsa pasar penumpang dalam negeri mencapai hingga hampir 90 %. (Lihat tabel, bersumber laporan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia). Lagi pula, jumlah penumpang penerbangan rute dalam negeri telah mencapai 76 juta per tahun (2015), tetapi tingkat pertumbuhannya telah mulai “menipis” menjadi rata-rata satu dijit, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya manakala selalu bertumbuh dengan rata-rata dua dijit setiap tahun.

Pangsa pasar penumpang penerbangan di dalam negeri ketika jumlah keseluruhan penumpang 76 juta tahun 2015, tampak begini: (dalam %)

(Klik untuk membesarkan)

(Klik untuk membesarkan). Sumber: INACA/Kemenhub

Keenam penerbangan dimaksud (Garuda, Citilink, Lion, Sriwijaya, AirAsia, Wings) sejak dua tahun lalu mulai “melirik” pada penerbangan rute luar negeri. Mulainya dengan penerbangan charter. Kemudian berangsur menjadi charter berseri. Mulainya dengan pasar wisatawan China, yang memang yang paling lucrative di dunia, di atas 120 juta outbound traveler-nya per tahun.

Momentum ini jatuh bersamaan dengan momen di mana Kemenpar memastikan, bahwa tanpa penambahan kapasitas angkutan udara langsung dari luar negeri ke destinasi di Indonesia, tak mungkin jumlah wisman ke Indonesia bisa meningkat menurut harapan dan perhitungan bisnisnya.

Perubahan paradigma bisnis penerbangan luar negeri bagi maskapai nasional, dan, mengubah paradigma maskapai asing untuk membuat Indonesia sebagai destinasi dan tidak dominan sebagai pasar. Itu sedang berlangsung saat ini. Akan berhasilkah ini?

Yang tampak menggembirakan adalah seakan gayung bersambut dari maskapai penerbangan nasional. Mereka sendiri pun mengambil inisiatif, ada yang membuka rute baru (Singapura, Malaysia, China), menambah frekuensi, ada yang schedued flights, ada yang charter flights.

Cukup mengejutkan fakta bahwa tahun 2015 tercatat 11 maskapai nasional telah melakukan operasi rute luar negeri sebagaimana dilaporkan oleh INACA, terlihat begini: ( di antaranya ada beroperasi scheduled airlines, charter, dan kargo)

(Klik unttuk membesarkan)

(Klik unttuk membesarkan)

Road show Menteri Pariwisata ke maskapai nasional seperti diceritakan di atas tadi, telah memberi indikasi kuat, jumlah penerbangan langsung dari luar negeri, khususnya dari pasar-pasar utama wisman (Singapura, Malaysia, China, Jepang, Australia) akan bertambah banyak tahun 2017. Juga bertambah banyak kota-kota destinasi Bali and beyond  yang akan dihubungkan.

Operator penerbangan dari Timur Tengah, Emirates, Ettihad, Qatar diharapkan menambah penerbangan lagi di tahun 2017.

Menpar pun berkunjung ke kantor Angkasa Pura (AP) II di Soekarno Hatta, Cengkareng. Tercatat empat kondisi krusial yang dihadapi industri perjalanan dan pariwisata di Indonesia terkait aspek aksesibilitas. Bandara dituntut bisa beroperasi selama 24 jam, atau perlu menaikkan jam operasional dari 12 jam menjadi 18 jam. Perlu mengimplementasikan teknologi informasi (TI) di semua pelayanan publik. Mengenai regulasi di bandara, yang dinilai dapat menghambat pertumbuhan industri transportasi udara agar segera ditelaah ulang dan diperbaiki. Dan, bandara-bandara yang telah beroperasi over capacity.

Kemenpar lalu menandatangani MoU dengan Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II, yang masing-masing mengelola 13 bandara di bagian barat dan 13 bandara di bagian timur Indonesia. Isi kesepahaman bersama itu hendak dijadikan kenyataan mulai tahun 2017 ini.***(bersambung)