Arief Yahya, Menteri Pariwisata Kabinet Kerja, (kiri) dan Mari Elka Pangestu (tengah) dan Sapta Nirwandar (kanan).(Foto: Humas)

Arief Yahya, Menteri Pariwisata Kabinet Kerja, (kiri) dan Mari Elka Pangestu (tengah) dan Sapta Nirwandar (kanan).(Foto: Humas)

Mari kita melakukan “outward looking”, melihat standar-standar yang berlaku di bidang pariwisata di dunia internasional. Itulah inti ajakan pertama yang dijelaskan oleh Menteri Pariwisata yang baru, Arief Yahya, di hadapan hadirin  dari jajaran internal dan eksternal Kementerian Pariwisata. Saat itu acara serah terima jabatan antara Menteri Pariwisata yang baru dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, serta Wamen Parekraf Sapta Nirwandar, padaa Selasa 28 Oktober 2014 di Kementerian Pariwisata, Jakarta.

Menteri Arief Yahya kemudian berbicara tentang beberapa fokus perhatian. Yaitu, tentang produk wisata, yang berarti destinasi wisata Indonesia. Dia mengisyaratkan diperlukan adanya penentuan prioritas, dalam rangka yang mana dan bagaimana memasarkannya. Terkait itu, disesuaikan dengan “hard and soft infrastructure”. Hard infrastructure dimaksudkannya antara lain sarana dan prasarana fisik seperti jalan-jalan, penerbangan, pelabuhan, elektrisiti. Ketika menyinggung sof infrastructure dimaksudkannya antara lain memanfaatkan lebih luas teknologi digital dan teknologi informasi dan komunikasi.

Dinyatakannya pula, dengan pandangan Indonesia sebagai negeri yang besar, potensi pariwisata yang demikian besar, maka jika hendak mencapai hasil yang  luar biasa, perlu upaya yang luar biasa pula.

Untuk keseluruhan upaya-upaya, haruslah memperhatikan prinsip pemeliharaan dan pengembangan eco system.

Akhirnya Menteri Arief Yahya mengajak memperhatikan aspek regulasi di bidang pariwsata, dan yang terkait dengan pariwisata. Akan dilihat dari sudut availability, accord ability, affordability.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mulai menjalankan kegiatan di Kementerian yang berkantor di gedung Sapta Pesona, Jakarta, yang setelah pelantikannya, menjadi khusus membidangi Pariwisata pada Kabinet Kerja yang telah dibentuk oleh Presiden Joko Widodo. Sebelumnya, kementerian ini adalah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Acara serah terima jabatan Menteri itu dihadiri selain jajaran internal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, juga para pimpinan dari Asosiasi Industri Pariwisata.

Sebagai dimaklumi, dalam visi dan misi Presiden Joko Widodo yang telah banyak diberitakan, dipasang target tercapainya jumlah 20 juta wisman yang berkunjung ke Indonesia di tahun 2019. Tahun 2014 diyakini akan tercapai jumlah kunjungan sekitar 9,5 juta wisman. Maka Direktorat Pengembangan Pasar di kementerian ini telah menghitung diperlukannya peningkatan rata-rata per tahun sekitar 16% jumlah wisman selama periode lima tahun mendatang.***