Tak sedikit turis asing dalam perjalanan mengelilingi Jawa (Java overland) menyukai naik kereta. Rute yang terkenal di antara mereka adalah dari Bandung ke Yogyakarta dengan kereta Lodaya. Dan penulis pun mencobanya jelang akhir Agustus lalu.

Stasiun Bandung sekarang.(Foto:YD)

Stasiun Bandung sekarang.(Foto:YD)

Pukul 6.30 pagi saya sudah siap di Stasiun Bandung. Stasiun ini tampak sangat berbeda dari terakhir saya berada di stasiun yang sama lebih dari satu dekade yang lalu. Bukan hanya terlihat lebih terang; ruang tunggu, loket penjualan tiket langsung, loket pelayanan pelanggan sampai ke mesin penjualan tiket membuat stasiun ini sungguh hidup.

Dua anak muda bule keluar dari sebuah minimarket dengan tas ransel besar di pundak masing-masing, berjalan menuju ke tempat check-in tetapi mereka belum diperbolehkan masuk karena kereta tujuannya belum datang. Memang, sekarang petugas hanya melayani check-in bagi para penumpang dengan kereta yang akan berangkat. Pukul tujuh, petugas di loket check-in mengumumkan kereta Lodaya menuju Yogyakarta sudah siap dan mempersilakan para penumpang untuk masuk. Kedua anak muda bule tadi, saya, dan penumpang lainnya satu per satu melewati counter check-in dan para pramugari kereta yang cantik-cantik, berdiri di samping kereta menyapa kami dengan ramah. Mereka mengecek dan meyakinkan para penumpang menaiki kereta yang benar.

Saya selalu suka melihat petugas stasiun dengan topi tingginya berdiri di peron sambil membunyikan pluit bersuara melengking yang menandakan kereta segera diberangkatkan. Di saat itulah saya lihat petunjuk arah (utara-timur-selatan-barat) di Stasiun Bandung ditulis dalam lima bahasa internasional. Kereta Lodaya yang saya naiki bergerak perlahan meninggalkan stasiun menuju ke arah timur.

Selepas kereta meninggalkan Bandung dan mulai memasuki Garut.(Foto:YD)

Selepas kereta meninggalkan Bandung dan mulai memasuki Garut.(Foto:YD)

Kereta Lodaya memasuki kawasan perbukitan, sekali-sekali kereta melalui terowongan-terowongan gelap. Rerumputan di lereng-lereng terjal yang mengapit rel kereta berwarna coklat kehitam-hitaman seperti habis terbakar, serasa tampak menyedihkan, rerumputan itu seeolah merana diterpa musim kemarau yang tahun ini mungkin akan lebih panjang. Perbukitan, rangkaian gunung, sawah-sawah yang menghijau menguning, serta titik-titik perkampungan di atas bukit atau di dasar lembah, semua masih berselimutkan kabut tipis pagi hari. Suhu udara lumayan dingin di dalam kereta meskipun sinar matahari pagi yang hangat telah menembus kaca jendela.

Bandung sudah jauh ditinggalkan di belakang. Mata mulai mengantuk tetapi belum bisa dipejamkan, atau saya akan menyesal tidak melihat keindahan pemandangan di antara Garut dan Tasikmalaya. Saya menyantap sup zuppa saat kereta berada di titik tertinggi. Menyantap semangkuk sup krim jagung dengan potongan jamur yang ditutupi dengan kulit pastri gurih yang renyah dan hangat sambil mata nyaris tak berkedip melihat dereta pegunungan biru berselimutkan kabut tipis di tengah udara dingin. Saya pikir kini saya dapat menangkap maksud Belanda dahulu menyebut Garut sebagai “Switzerland van Java”. Tentu saja itu adalah dua pengalaman yang berbeda tetapi rasanya seperti sebuah ledakan pengalaman yang akan diingat selamanya. Kebanyakan penumpang di kereta yang saya naiki telah terlelap, dengan perut kenyang, saya pun tertidur.

Terbangun karena merasa kereta berhenti. Kereta tiba di sebuah stasiun kecil. Selintas mendengar percakapan dari penumpang yang turun di stasiun itu yang akan melanjutkan perjalanan ke Cilacap, tahulah kereta Lodaya telah memasuki selatan Jawa, mestinya garis pantai berada tidak jauh lagi.

Stasiun Yogyakarta.(Foto:YD)

Stasiun Yogyakarta.(Foto:YD)

Sisa perjalanan sampai stasiun akhir di Stasiun Balapan di Solo berada di dataran rendah. Dibandingkan dengan rute kereta di sebelah utara yang bersisian dengan jalur pantura, di sebelah selatan ini dataran rendahnya lebih hijau dengan hamparan sawah dan perkampungan khas Jawa yang membuatnya tampak lebih hidup. Penulis turun di Stasiun Yogyakarta, atau dikenal dengan Stasiun Tugu. Keramaian Jalan Malioboro segera menyambut begitu keluar dari gerbang stasiun.

Perjalanan tidak selalu berarti mengunjungi keindahan ataupun keunikan suatu tempat. Ya, itu memang tujuan utama para traveler. Lebih jauh lagi, termasuk di dalam suatu perjalanan adalah proses mencapai destinasi.

Suatu perjalanan berawal dari moda transportasi yang kita gunakan untuk mencapai destinasi. Sebuah pengalaman dimulai dari bandar udara, stasiun kereta, terminal bis, atau pelabuhan laut. Sekarang ini Anda dapat menambahkan gerbang tol dan tempat peristirahatan bagi traveler yang menggunakan kendaraan pribadi dan memilih perjalanan darat (road trip).

Sebagai orang yang cukup sering melakukan perjalanan, secepat mungkin tiba di tujuan itu bagus, tapi tidak selalu. Biarlah koneksi internet berkompetisi dengan mesin jet pesawat dalam hal kecepatan, tetapi kita ini manusia di mana ada saat-saat tidak perlu terburu-buru dan perlu menikmati kehidupan yang hanya sekali ini.

Kereta adalah salah satu moda transportasi yang sebaiknya Anda coba gunakan untuk berwisata. Sejarah perkeretaapian di Indonesia lebih tua daripada umur kemerdekaan bangsa Indonesia. Belanda pernah merencanakan untuk membangun jaringan rel kereta di seluruh pulau meskipun yang benar-benar terealisasi sebagian besar di Pulau Jawa dan di beberapa daerah di Sumatera. Naik kereta saat traveling, Anda bisa duduk diam menikmati pemandangan di luar jendela yang terlihat akan berbeda saat melihatnya dari atas jalan raya. Atau, mengobrol santai dengan teman seperjalanan yang duduk persis di sebelah Anda.

Sekarang kita bisa lebih memahami alasan “A” pertama dalam rumus 3A pariwisata adalah Akses. Ini bukan hanya mengenai alat transportasi apa yang kita gunakan untuk mencapai tujuan. Ini semua mengenai menciptakan kesan pertama, menciptakan mood traveler, baik kepada mereka yang melakukan perjalanan untuk bersenang-senang dan melarikan diri sesaat dari perjuangan kehidupan keseharian, atau sebuah perjalanan bisnis untuk membuat keputusan-keputusan usaha yang penting, atau sebuah perjalanan dalam rangka mencari jati diri. Dan untuk menciptakan sebuah pengalaman bulat sempurna, selebihnya akan ditanggung oleh Akomodasi dan Atraksi di destinasi. *** (Yun Damayanti)