Alice Matulessy

Alice Matulessy

 Bali, (ITN-IndonesiaTouristNews): Keseimbangan perbandingan jumlah tamu berdasarkan negara asal atau originasi, bagi manajemen hotel di Bali, adalah juga memerlukan perhatian. Dari perhatian kemudian masuk pada penerapan strategi bagaimana, misalnya, di Bali Paragon Resort HoteL  jumlah tamunya 90% berasal dari China, hendak diturunkan agar menjadi 60%. Di tengah ramainya penyediaan atau supply kamar hotel di semua klasifikasi hotel di Bali, hotel Paragon yang ini tahun ini selama semester pertama menghasilkan rata-rata okupansi 80%. Hotel ini beroperasi dengan  379 jumlah kamar.

Alice Matulessy, Manager untuk Bali Paragon Resort Hotel ini menceritakan, operasi tahun pertama yaitu periode Mei-Desember 2015, tahun itu ditutup dengan hasil rata-rata okupansi 67%, kemudian di tahun kedua 2016 rata-rata 74%, dan 2017 ini Januari-Juni rata-rata 80% tingkat hunian kamarnya.

Empat bulan yang lalu dia mulai menempati posisi manager di hotel ini, dan strateginya adalah berupaya agar dominasi jumlah tamu  yang 90% wisman dari China, hendak diturunkan hingga ke porsi 60%, bersamaan itu tamu dari kebangsaan lain hendak dinaikkannya. Juga akan menaikkan jumlah tamu domestik alias wisnus.

“Praktis hampir semua tamu  kami di-booking melalui agen lokal di Bali,” kata Alice Matulessy. Keterangannya mencerminkan situasi bisnis di Bali dengan kerjasama agen lokal bisa sedemikian produkif.

Jadi, bisnis hotel di Bali tetap prospektif, Alice pun menyatakan keyakinan brdasarkan pengamatan dan pengalamannya bahwa potensi pasar dan wisatawan domestik besar sekali.

Hotel ini dari sudut pengelolaan akan tetap independen, kata dia. “Yang penting strategi pemasaran yang tepat,” ujarnya. Diakuinya, hotel Paragon yang kini dipimpinnya itu, selama dua tahun pertama beroperasi, manajemennya menerapkan strategi mengejar volume tamu, yakni okupansi kamar yang tinggi. Setelah itu barulah dilakukan konsolidasi pasar, pemilahan dan pemilihan konsumen.

Memang termasuk hebat dengan jumlah kamar 379 bisa dicapai okupansi 80%. Hotel Resort ini bukan berlokasi di tepi pantai atau di pinggir laut, namun dengan tingkat penjualan kamar  setinggi itu, mengindikasikan pula bahwa lokasi di pinggir laut tidak lagi menjadi syarat mutlak bagi wisman yang hendak menikmati destinasi Bali. Termasuk wisman dari China. Tak sedikit kini hotel di Bali dengan kondisi yang serupa , yakni tanpa pantai sekalipun berlokasi di kawasan Kuta, Sanur, atau Nusa Dua, tetaplah mendapatkan bisnis yang baik.***