Lalu Abdul Hadi Faishal,Ketua PHRI NTB.(Foto:YD)

Lalu Abdul Hadi Faishal,Ketua PHRI NTB.(Foto:YD)

“Ini di luar dugaan saya. Begitu gencarnya investor membangun fasilitas perhotelan di Lombok. Infrastruktur di sini sekarang sudah memadai. Jalan, jaringan internet dan telepon, ketersediaan air bersih sudah OK. Dan karakter infrastruktur di Lombok saat ini, hingga jalan dan gang-gang kecil sudah diaspal,” ujar Lalu Abdul Hadi Faishal, Ketua PHRI Nusa Tenggara Barat

Hotel berjaringan, internasional maupun nasional, sudah masuk ke Lombok cukup lama. Diantaranya, grup Accor dengan Novotel, grup Starwood dengan Sheraton, grup Aston Internasional dengan merek Aston Hotel dan Fave Hotel, grup Santika dengan Santika Hotel, dan grup Aman yang mempunyai sebuah resor di Pulau Moyo dan pernah menjadi tempat menginap mendiang Putri Diana dari Inggris. Bahkan grup Aman sedang mempertimbangkan untuk membuka resor baru di Pulau Lombok.

Di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, merek-merek ternama dari jaringan hotel internasional sudah mengkonfirmasi akan membuka propertinya dalam rentang waktu akhir tahun 2017 hingga tahun 2019. Pullman Hotel dari grup Accor sedang dalam tahap konstruksi. Hotel ini akan menjadi pilihan lain selain Novotel terutama bagi anggota loyalis grup Accor.

Selain itu, Club Med juga sudah mengkonfirmasi akan membuka resor ketiganya di Indonesia di dalam kawasan Mandalika, Lombok. Saat ini, jaringan resor all-inclusive asal Perancis ini telah mempunyai dua resor di Bali dan Bintan.

TINGKAT PENGHUNIAN KAMAR (TPK) & LAMA MENGINAP di PROVINSI NTB TAHUN 2012-2016

Sumber : Diolah dari publikasi Statistik Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB 

 

Akan menyusul adalah JW Marriott dan Royal Tulip yang menggantikan Mandalika Resort. Pun telah ada pembicaraan akan ada investor dari Korea Selatan yang berminat untuk membuka fasilitas akomodasi di dalam kawasan Mandalika.

Di luar KEK Mandalika, investor dari Qatar sedang melirik untuk membangun fasilitas turisme halal di Pulau Lombok. Di dalam kawasan Mandalika sendiri telah disiapkan lahan seluas sekitar 300 hektar yang akan diperuntukkan bagi pariwisata halal.

“Jadi, siapa saja investor yang tertarik dan mau berinvestasi di sana, silahkan. Dari Arab Saudi, Dubai, Qatar, Malaysia, silahkan. Siapa cepat dia dapat,” kata Faishal.

Sekarang, sedang digalakkan program membangun 200 homestay di dusun-dusun dan kampung-kampung di sekitar KEK Mandalika. Itu masyarakat yang akan membangunnya sendiri dan diproyeksikan juga menjadi penopang kawasan.

“Kan tidak semua kan orang masuk ke bintang 5,” Faishal menambahkan.

Holiday Resort di pantai Mangsit,Lombok,NTB.(Foto:YD)

Holiday Resort di pantai Mangsit,Lombok,NTB.(Foto:YD)

Tingkat okupansi di kawasan resor di Lombok lebih stabil

Tingkat okupansi hotel di kawasan resor di Pulau Lombok lebih stabil dibandingkan tingkat okupansi hotel di kota, Mataram misalnya. Menurut catatan PHRI NTB, tingkat okupansi rata-rata hotel di kota antara 45% hingga 50%. Sedangkan di kawasan resor tingkat okupansi rata-ratanya di atas 60%. Di kota Mataram, Faishal menjelaskan, ada tiga tipikal tamu-tamu yang mengisi hotel yakni untuk urusan bisnis, menghadiri acara-acara pemerintahan, dan untuk liburan. Yang menginap di kawasan resor itu paling banyak untuk liburan.

Adapun rata-rata lama menginap menurun dari 4 hari menjadi 2 hari dalam dua tahun terakhir disebabkan banyak sarana akomodasi penginapan tumbuh di Pulau Lombok dan gili-gili di sekitarnya.

“Tadinya wisatawan berlibur di sini seminggu, ya di satu tempat saja menginapnya. Waktu itu kan hanya kawasan Senggigi yang menopang. Jadi tinggal di Senggigi ya di Senggigi saja. Dia tidak mau ke daerah lain. Nah, sekarang polanya, misalnya, dia ada pertemuan di Mataram dengan pemerintah daerah sini. Kemudian, nanti dia pindah ke kawasan Senggigi, semalam di sana,” kata Faishal menggambarkan.

Di kawasan resor di Lombok sekarang pun cenderung tidak bisa diprediksi kapan low season atau high season. Saat yang biasanya low season turis dari Cina datang ke pulau yang bertetangga langsung dengan Pulau Bali ini dan mengisi hotel-hotel di kawasan resor. Jadi, selain wisatawan halal, turis dari Cina juga menjadi target sasaran pariwisata Nusa Tenggara Barat.

Rencana berikutnya, menggenjot Sumbawa. Sekarang di Pulau Moyo, sudah dibangun satu resor lagi oleh investor dari Italia. Di Pulau Sumbawa, ke depannya akan dipromosikan untuk tujuan yacht yang disebut Sakosa, singkatan dari Sanghyang, Komodo, dan Sape.

Dengan telah dibukanya Labuan Bajo sebagai destinasi prioritas, Sape yang berada di ujung timur Pulau Sumbawa dan kota Bima, merupakan kawasan strategis menghubungkan dua destinasi wisata prioritas di Mandalika, NTB dan Komodo di NTT.*** (Yun Damayanti)

PENYEBARAN SARANA AKOMODASI PENGINAPAN di PROVINSI NTB per TAHUN 2015 (Sumber : Diolah dari publikasi Statistik Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB)