(Foto:Ist.)

(Foto:Ist.)

Semakin gencarnya ekspos kegiatan jalan-jalan dan atraksi-atraksi wisata melalui berbagai media, berwisata semakin terjangkau dan jadi kebutuhan. Akhir tahun kemarin di sebagian tempat terjadi kemacetan saat libur panjang memperingati hari raya Natal dan diikuti selebrasi Tahun Baru. Tetapi yang tidak pernah dibayangkan akan terjebak di antrian panjang menuju keluar kota, khususnya dari Ibukota Jakarta. Sebagian besar yang terjebak mengatakan, kemacetan luar biasa di libur akhir pekan panjang minggu lalu melebihi kemacetan saat mudik Lebaran lalu. Sebagian besar yang terjebak itu keluar kota bertujuan berlibur, sebagiannya lagi mudik sambil jalan-jalan.

Bagaimana tahun 2016 ini?

Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2016 telah ditetapkan sejak Juni 2015.Ada waktu persiapan selama setahun.Di negeri tetangga,asosiasi travel agentnya langsung bersidang setelah jadwal libur dan cuti nasional dikeluarkan pemerintah.

Tahun lalu erupsi Gunung Bromo memang menurunkan angka kunjungan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tapi tidak menyurutkan kunjungan ke kota Malang. Sekitar 10 ribu wisnus mengunjungi sejumlah atraksi wisata di Kabupaten Banyuwangi dalam sepekan terakhir.

Dari Bandung, salah satu destinasi terfavorit wisnus, Ketua PHRI Jawa Barat Herman Muchtar mengatakan, perputaran uang di sektor perhotelan dan wisata kuliner di Kota Kembang sekitar Rp 119,6 miliar sepanjang libur Natal dan Tahun Baru 2015. Nilai tersebut dihitung dari 23.000 kamar hotel berbintang dengan asumsi tarif rata-rata Rp 450 ribu per malam per kamar.

Diberitakan, menurut data Bank Indonesia, penarikan uang tunai selama bulan Desember ini meningkat mencapai Rp 80 triliun. Penarikan tunai terbesar ada di Jakarta sebesar Rp 40 triliun, di Pulau Jawa di luar Jakarta Rp 22 triliun dan sisanya tersebar di luar Jawa.

Fenomena ini sebenarnya terjadi bukan hanya pada saat musim libur di akhir tahun saja tetapi juga terjadi di musim libur lainnya, pada musim libur Lebaran dan liburan sekolah. Itu juga menunjukkan daerah-daerah memiliki potensi wisata yang besar. Lana Soelistianingsih, seorang pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, melihat, jumlah kelas menengah di Indonesia terus meningkat, mereka rela mengeluarkan uang banyak asalkan sebanding dengan yang diperolehnya. Apalagi dengan nilai tukar rupiah masih lebih dari Rp 13 ribu saat ini, banyak turis domestik mengalihkan rencana dari berlibur ke luar negeri dengan berwisata di dalam negeri. Menurutnya, mereka ini yang menggerakkan ekonomi berbasis wisata di daerah-daerah terutama di musim-musim liburan.

Para pengamat ekonomi memandang fenomena itu sifatnya masih musiman, berlangsung sekitar satu bulan saja. Bagaimanapun, fenomena tersebut tetap berperan penting dalam menggerakkan perekonomian daerah dan mendorong perekonomian nasional.

Neraca perdagangan jasa nasional defisit 1,952 miliar dollar AS pada triwulan III-2015. Termasuk dalam neraca jasa diantaranya, jasa manufaktur, jasa transportasi, jasa perjalanan, jasa konstruksi, dan jasa keuangan. Perjalanan wisatawan termasuk di dalam neraca jasa perjalanan. Nilai jasa dari kedatangan wisman pada triwulan III-2015 sebesar 2,75 miliar dollar AS dan nilai jasa perjalanan wisatawan domestik ke luar negeri 1,969 miliar dollar AS. Wisman berkunjung ke Indonesia sebanyak 2,55 juta orang, jumlah tersebut masih sedikit lebih banyak daripada 2,22 juta wisatawan domestik bepergian ke luar negeri selama triwulan III-2015.

Dibandingkan dengan triwulan II-2015, jumlah wisatawan domestik ke luar negeri meningkat 8,3% dan pengeluaran belanjanya tumbuh 19 persen. Pada periode yang sama, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia meningkat 7,6% dengan pengeluaran belanja tumbuh 21,7 persen.

Antusiasme berbelanja dan berwisata selama musim libur akhir tahun ini menggambarkan mulai tumbuh kembali keyakinan terhadap kondisi perekonomian nasional sehingga masyarakat tidak lagi menahan pengeluaran untuk berbelanja dan berwisata. Ini mengingat perekonomian nasional tumbuh 4,72% pada triwulan pertama, melambat 4,67% pada triwulan kedua, dan sedikit meningkat sebesar 4,73% pada triwulan ketiga. Proyeksi dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,2%-5,5% pada tahun 2016, paling tidak memberi harapan pergerakan wisnus di dalam negeri akan lebih meningkat lagi.

Namun, masih terlalu dini mengindikasikan merek (brand) ‘Pesona Indonesia’ sudah berhasil. Destinasi dan atraksi yang dipadati pengunjung masih terkonsentrasi di destinasi dan atraksi “tradisional”, yang sudah dikenal dan diakrabi oleh wisatawan. Memang ada atraksi-atraksi baru dan sedang hangat diperbincangkan juga dipadati pengunjung.

Destinasi-destinasi yang jadi tujuan tradisional seperti Bandung dan Jogja juga menghadapi dilema. Warganya mengalami ketidaknyamanan setiap kali akhir pekan atau masa liburan tiba. Belum ada studi apakah warga di destinasi favorit keluar dari kotanya untuk berkunjung ke daerah lain selama waktu libur sebab mereka tidak bisa menikmati kotanya sendiri.

Di obyek-obyek wisata yang diserbu oleh turis domestik dan pelancong lokal menunjukkan masih rendahnya pemahaman wisatawan nusantara terhadap ‘Sadar Wisata’ dan etiket bepergian yangmana itu sebenarnya tidak terlepas dari makna brand ‘Pesona Indonesia’. Bukan karena jumlah tempat sampah yang disediakan di obyek wisata minim. Bukan pula karena minimnya peringatan dan himbauan dari pengelola obyek wisata agar pengunjung menaati peraturan di dalam obyek wisata.

Dengan ‘Pesona Indonesia’, pemerintah ingin menggerakkan aktivitas perjalanan orang Indonesia, baik untuk bisnis maupun wisata, di dalam negerinya sendiri. Bagi negara-negara lain, Indonesia pasar yang besar baik jumlah maupun pengeluaran belanjanya. Pengeluaran belanja wisnus rata-rata tidak sampai 1000 dollar AS dalam sekali perjalanan di dalam negeri namun volumenya besar dan belanja mereka langsung ke akar rumput sehingga disukai oleh semua pemerintah daerah. Sayangnya, ini malah mengesankan cukup puas dengan kedatangan turis domestik dan pelancong lokal saja. Inovasi dan kreativitas berjalan lambat di destinasi di luar destinasi wisata utama. Dengan ekpansi dan penetrasi TIK seperti sekarang, wisnus pun akan semakin cerdas. Dalam waktu tidak lama lagi, mereka akan menjadi savvy tourist karena internet savvy.

Turis itu semua bawel dengan fasilitas-fasilitas, meskipun dia menyandang ransel di punggungnya. Mereka juga sensitif terhadap pelayanan, apalagi turis domestik yang sudah berpengalaman keluar negeri. Turis dan pelancong juga terkadang sok tahu, mereka merasa lebih tahu atraksi-atraksi di destinasi seperti mereka hafal telapak tangannya.

Daerah-daerah, tempat Pesona Indonesia berada, mesti seimbang menyikapi jumlah kunjungan wisatawan yang akan semakin meningkat. Sebagai tuan rumah, destinasi berkewajiban menyediakan segala sesuatu yang akan membuat pengunjung merasa nyaman dan aman. Mudah mengakses ke mana pun dia mau pergi dan beraktivitas di destinasi. Destiniasi pun berhak membuat peraturan agar ‘rumah dan halaman’nya tidak berantakan dan rusak karena kedatangan mereka, juga untuk menjaga keamanan dan keselamatannya. Semua itu dapat dilakukan bersamaan ketika memperkenalkan dan mempromosikan diri kepada sasaran calon pengunjung destinasi.

Jika tahun 2016 pergerakan wisnus mengalir sepanjang tahun, kemacetan pada musim-musim liburan tidak hanya terjadi di Jawa saja tetapi juga di pulau-pulau lain, tidak ada lagi bunga-bunga diinjak-injak, tidak ada lagi status-status di media sosial berisi kejengkelan ‘sudah bayar kok masih harus bawa sampah sendiri’, atau swafoto bangga membuat penanda kedatangannya di sebuah atraksi wisata yang indah nan permai, merek ‘Pesona Indonesia’ baru dapat dikatakan berhasil. Apalah makna Indonesia penuh pesona jika bisa dinikmati sekali saja? *** (Yun Damayanti)