Pembaca yang budiman, bidang penerbangan kita hari-hari ini di satu sisi tampak seperti pasien yang sedang menjalani “operasi di kamar bedah”. Berita-beritanya selain terkait ihwal izin dan prosedur, juga dengan tarif tiket, kaitan faktor keselamatan, dan seterusnya. Dan tentu saja terkait apa yang disebut penerbangan berbiaya rendah atau populernya, LCC, Low Cost Carrier. Nah, apa LCC ini? Sejarahnya inspiratif.

Pertama kali mengenalkan LCC, tahun 1971 di Amerika Serikat, dirut Southwest Airlines, Rollin King (almarhum), yang dia sendiri adalah pilot, waktu itu ditulis banyak media, setiap kali hendak terbang, dia sendiri berdiri berbicara ke kabin menghadap penumpang. Dia sapa. Lebih kurang percakapannya begini: Bapak-bapak Ibu-bu yang saya hormati, selamat datang di pesawat kami, anggaplah anda di rumah sendiri (please feel at home), karena itulah kami tidak menentukan nomor tempat duduk Anda, anda bebas memilih, dan para awak kabin kami siap membantu di mana anda memerlukan mereka, sit back and relax, karena itu seragam pramugari kami pun casual ( seragam awak kabin ada yang mengenakan celana jean, bluse atau kaos warna warni)…

Sejak penerbangan perdananya Juni 1971, awak kabin perempuan bahkan mengenakan celana pendek berwarna “jeruk”, terkenallah waktu itu disebut hot-pants nya Southwest dengan sepatu tinggi warna putih. Harga tiket yang murah kendati dengan pengurangan berbagai “kesenangan” alias comfort, seperti tak ada layanan makanan minuman gratis, tanpa perlu mencetak tiket alias ticketless, hingga tanpa pengaturan nomor seat, prosedur penjualan tiket dan check in yang diefisienkan, lalu berdampak pada peningkatan jumlah penumpang penerbangan yang “hebat”, menurut catatat di website Southwest Airlines: kementerian Transportasi Amerika Serikat menjuluki fenomena itu sebagai “The Southwest Effect.” Jumlah penumpang meningkat terus kemanapun mereka membuka rute. Budaya Perusahaan yang menghidupi karyawannya dalam melayani konsumen, waktu itu pun menjadi buah bibir, sebagai salah satu kekuatan yang mendukung pemasaran dan branding yang dibangunnya.

Saat pertama kali beroperasi 18 Juni 1971 hanya dengan 3 pesawat B-737-200. Harga tiketnya US$ 20 one way, dan mereka menyebut “Love airline is born”.   Kini, 43 tahun kemudian, armadanya total 683 pesawat terdiri dari tipe B-737 seri 200, 300, 500, 700 dan 800.  Jadi memang ukuran kecil, itulah salah satu ciri LCC, terbang point-to-point dengan jarak relatif pendek.

Ada yang merumuskan di Lyonair.blogspot.com, Apa itu LCC (Low Cost Carrier), yaitu penerbangan dengan biaya rendah atau sebuah maskapai penerbangan yang menyediakan harga tiket pesawat dengan harga terjangkau dengan mengurangi beberapa layanan umum bagi penumpang pesawat seperti layanan catering, minimalis reservasi sehingga menekan biaya cost penerbangan dan harga nya dapat dijangkau oleh masyarakat luas.

   LCC melakukan eliminasi layanan maskapai tradisional pada umumnya dengan tidak memberikan fasilitas catering, meminimalisasi reservasi dengan bantuan teknologi IT sehingga layanan lebih sederhana dan semakin lebih cepat. Pelayanan yang di minimize ini berakibat dalam hal penurunan cost, namun factor safety tetap diutamakan demi keselamatan penumpang sampai pada tujuan.

Di Wikipeda, ditulis : A low-cost carrier or low-cost airline (also known as a no-frillsdiscount or budget carrier or airline or cheap flight) is an airline that generally has lower fares and fewer comforts. To make up for revenue lost in decreased ticket prices, the airline may charge for extras like food, priority boarding, seat allocating, and baggage etc. Currently the world’s largest low-cost carrier is Southwest Airlines, which operates in the United States and some surrounding areas.

Nah, pembaca, kini faktanya di Indonesia LCC diterapkan oleh nyaris hampir semua operator penerbangan, kecuali beberapa yang menyelenggarakan penerbangan sebagai full service airlines yaitu Garuda Indonesia dan Batik Air.

Seperti dikutip di atas, LCC dengan penjualan harga tiket yang relatif murah, bukan berarti secara internal  mengurangi pembiayaan yang diharuskan dalam memelihara kondisi teknis pesawat dan faktor keselamatan. Low cost bagi airline berbiaya murah, dalam pengertian tadi tentulah dimungkinkan melalui pengurangan cost pada struktur biaya lainnya: misal tanpa cetak tiket (kupon tiket penerbangan pernah dihitung ongkos cetaknya US$ 2), tanpa makanan minuman gratis di dalam penerbangan, efisiensi di berbagai kegiatan back office, biaya pada mata rantai penjualan dan pemasaran, overhead cost di kantor-kantor,  dan seterusnya. Tapi keharusan seperti misalnya, ban pesawat setiap kali sudah mencapai batas sekian kali pendaratan, maka haruslah diganti dan tidak ditunda, peralatan radar yang sudah mencapai batas life cycle, haruslah diganti dan tidak ditunda, dan semacamnya, bahkan batasan jam terbang dan jam istirahat bagi kru pesawat pun jangan sampai dilanggar kalau semata demi penghematan biaya. Itu memang jangan sampai terjadi.

Ketika di awal tahun 2000-an bermunculan satu demi satu maskapai penerbangan nasional kita yang tampak menerapkan operasi LCC, sebenarnya terbayang akan tumbuhnya serupa Southwest Airlines di Indonesia. Apakah Lion, Wings, Citilink, Indonesia AirAsia, Sriwijaya, dan seterusnya. Ya, mengapa tidak?***