(Logo:Disbudpar Kota Pangkalpinang)

(Logo:Disbudpar Kota Pangkalpinang)

Ya, pepatah lama berbunyi begitu: lain lubuk, tentu lain ikannya. Sejak lebih dari 300 tahun lalu, hok lok pan atau martabak bangka pada umumnya dibuat dan dijual mulai dari sore hingga malam hari. Kebiasaan itu bertahan hingga sekarang. Karena itu berkaitan dengan kebiasaan makan dan jadwal kerja pada umumnya di Pulau Bangka.

Meskipun ada pula yang tidak menjadikannya kebiasaan, umumnya beginilah jam makan bagi orang Bangka. Pagi hari sekitar pukul 6 atau setelah sholat subuh, adalah waktu sarapan. Biasanya minum kopi. Di komunitas Tionghoa  roti peranakan sebagai ciri khas pendamping minuman hangat.

Antara pukul 7 hingga 9 pagi ketika mulai terasa lapar, te fu cau, laksa dan mi yang umumnya dicari sebagai penganan diantara makan pagi dan makan siang. Sekitar pukul 12 adalah jam makan siang. Mulai dari pukul 3 sore, waktunya mengudap camilan. Otak-otak, bakpau, es kacang merah, kembang tahu merupakan contoh camilan untuk mengatasi lapar sebelum waktu makan malam. Jam makan malam dimulai dari sekitar pukul 6 sore. Mulai dari sekitar pukul 9 malam, saat rasa lapar mulai muncul kembali, hok lok pan sebagai pilihan favorit camilan selain singkong rebus.

Hok lok pan,martabak bangka dengan toping bervariasi coklat-kacang-keju.(Foto:YD)

Hok lok pan,martabak bangka dengan toping bervariasi coklat-kacang-keju.(Foto:YD)

Mingki Listiyadi, pemilik La Trasee Bistro di Pangkalpinang, menerangkan, hok lok pan atau martabak manis sebagai camilan malam bukan berarti sebagai pengganti makan malam.

“Camilan malam itu dalam arti kata setelah makan malam. Bukan sebagai makan malam. Kalau saat berkumpul, apalagi sama kawan-kawan itu kan pasti ada camilan. Nah, dulu kan tidak ada camilan pisang goreng. Singkong goreng tidak ada. Yang ada singkong rebus. Bagi komunitas Chinese di Bangka, makan hok lok pan itu sebagai temannya ngobrol dan minum kopi waktu malam,” ujar Mingki.

Selain dari kebiasaan makan, adonan martabak hanya tahan selama satu hari. Adonan tidak bisa diinapkan. Lewat sehari adonan sudah tidak bisa digunakan lagi karena akan berasa asam dan keras. Itulah mengapa penjual martabak akan menunggu sampai habis. Kalaupun sampai tidak habis pada hari itu maka dia harus membuang adonan.

Pada umumnya keahlian membuat martabak itu diwariskan. Penjual martabak di Bangka, di Pangkalpinang misalnya, ialah generasi baru. Menjual martabak bukan bisnis murninya. Biasanya ada pekerjaan lain yang dikerjakan pada pagi sampai siang hari barulah kemudian menjual martabak mulai dari sore hingga malam.

Martabak di Pangkalpinang dikenal dengan nama penjualnya.Nama sang penjual ibarat merek dagangnya.(Foto:YD)

Martabak di Pangkalpinang dikenal dengan nama penjualnya.Nama sang penjual ibarat merek dagangnya.(Foto:YD)

Jam operasional penjualan martabak itu juga bagian dari kebiasaan yang telah dilakukan sejak dahulu. Pekerjaan menambang menggunakan sistem target. Maka selama 9 hingga 10 jam bekerja dari pagi, setelah ada waktu mulai dari sore hingga malam hari barulah hok lok pan dibuat, ada juga yang menjualnya.

Mulai dari sekitar tahun 1980-an ada juga yang menjual hok lok pan pada pagi hari. Sampai sekarang, penjual di pagi hari tidak banyak. Penjual hok lok pan atau martabak bangka pagi biasanya berada di pasar atau tidak jauh dari pusat keramaian. Selalu cepat habis. Dan masih ada penjual hok lok pan yang menggunakan arang.

“Penjual martabak awal di Pangkalpinang sudah tidak ada lagi. Iya, memang ada penjual martabak yang turun-temurun. Ada juga yang tidak. Soalnya, menjual martabak ini bukan usaha yang menjanjikan,” kata Koh Amen.

Apabila di luar Pulau Bangka disebut martabak bangka saat mencari martabak manis maka jangan mencari martabak bangka saat berada di sana. Di tempat asalnya satu hok lok pan atau martabak manis dikenal dengan nama penjualnya. Misal, Martabak Amen, Martabak Acau dan lain-lain. Penjualnya tidak hanya dari etnis Tionghoa, penjual etnis Melayu pun ada.

Setiap penjual hok lok pan punya ciri khas dan rasa yang berbeda-beda. Mereka juga punya pelanggan setia. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang Akhmad Elvian, bahkan di satu keluarga bisa terjadi setiap anggota punya martabak favorit yang berbeda-beda.

Kalau begitu, apakah martabak bangka telah dimanfaatkan guna mempromosikan pariwisata di Bangka khususnya di kota Pangkalpinang?*** (Bagian III)-Bersambung (Yun Damayanti)