Muchlis Muchus Nasution

Muchlis Muchus Nasution

Jangan Anda berharap lebih saat ini, Medan sedang “menjadi” kota transit saja. Apalagi kalau nanti setelah selesai jalan tol Medan-Tebingtinggi, maka akan lebih ringan perjalanan darat menuju ke Danau Toba. Begitu mendarat di bandara Kuala Namu, orang cenderung akan langsung menuju Danau Toba. Bisa juga langsung ke kota kecil Berastagi yang sejuk pemandangan dan hawanya. Kalaupun hendak melihat-lihat kota Medan, kebanyakan grup wisatawan diarahkan oleh agen yang menangani untuk menginap satu malam terakhir di Sumatera Utara, tak lain agar “terjamin” bisa tepat waktu  mencapai bandara Kuala Namu untuk check-in penerbangan.

FITs (free individual traveler) atau kelompok kecil 2-3 orang pun bisa langsung dengan “biaya lebih murah” menuju Danau Toba. Seorang cukup membayar Rp 100.000 untuk naik taksi bernama “Nice Taxi” ke kota Siantar, lalu dari sana menyambung taksi itu lagi ke kota Parapat di Danau Toba, 50 ribu rupiah per orang. Alhasil dengan 150 ribu rupiah sudah sampai di Danau Toba mengendarai mobil Toyota Kijang.

Bandara Medan, Kuala Namu itu "cakap, nyaman dan efisien" kok.(Foto:AH)

Bandara Medan, Kuala Namu itu “cakap, nyaman dan efisien” kok.(Foto:AH)

Antara bandara dan kota Medan layanan kereta api (KA) sebenarnya sudah dalam kondisi bagus sekali. Setiap jam ada keberangkatan, kabin penumpang pun “rasanya sudah seperti naik KA di Jepang atau di Eropa, pastilah tak kalah dari KA antara bandara Kuala Lumpur International Airport dan kota KL. Jarak tempuhnya cukup 45 menit dari Kuala Namu ke Medan, sebaliknya, perjalanannya 30 menit saja.

Keretapi Kuala Namu-Medan pun wah mengesankan, wisatawan pasti senang dan nyaman.(Foto:Ist)

Keretapi Kuala Namu-Medan pun wah mengesankan, wisatawan pasti senang dan nyaman.(Foto:Ist)

Untuk industri pariwisata, ini amat disenangi lantaran bisa pesan tiket online sejak jauh hari sehingga memudahkan memastikan agen-agen dapat memesan tiket grup yang akan berwisata ke Sumatera Utara.

   Cerita di atas dibenarkan dan digaris bawahi oleh Muchlis Muchus Nasution, Kabid Bina Pemasaran Disbudpar Sumatera Utara, namun dia akhirnya mengakui: “Kota Medan itu akan menjadi kota transit saja”. Maksudnya, bukan lagi kota destinasi seperti yang pernah disandang oleh kota Medan.

Terkait Paket tur Sumatera Utara

Menurut Muchlis, paket tradisional tur ke Sumatera Utara umumnya masuk melalui bandara KNO (Kuala Namu). Kalau tiba dengan penerbangan pagi, langsungnya menuju ke Parapat, tiba penerbangannya sore hari, maka akan langsung ke Berastagi. Menginap semalam di kota dingin sejuk itu, berikutnya menginap satu malam di Parapat atau pulau Samosir, barulah kemudian malam terakhir di kota Medan. Jadi, itu program 4 hari tga malam. Ada paket 6d5n (6days4nights), dengan pilihan tambahan hari menginap di Danau Toba, atau malahan ke obyek lain di Tangkahan, Bukit Lawang. Antara lain melihat orangutan.

“Belum ada pola baru selain mengunjungi obyek wisata yang itu-itu saja,” ujar Muchlis.

Kembali bicara kota Medan, kuliner yang berkembang di sini. Medan sekarang ini sebenarnya kota budaya, sejarah, kuliner dan MICE, obyek daya tarik wisatanya praktis tidak ada. Untuk city tour hanya bisa half day tour. Setelah makan siang, bubar.

Itu pun, “Kota Medan ini kota transit kalau tidak cepat berbenah,” ulangnya.

Apa yang menarik di medan? Belanja, kuliner, sejarah. Belanjanya apa yang spesifik? Kalau di Bandung lebih jelas, produk pakaian dan sepatu. Di kota Medan, tempat-tempat buat selfie yang menarik nyaris tidak ada. “Kalau ditemui tempat bagus tapi susah mengambil angle-nya,” demikian detil, Muchlis mengamati keadaan itu.

Bagaimana bisa orang mau berfoto dengan latar bangunan tua? Di pinggir jalan, bisa tertabrak kendaraan. Di mana ada pedestrian di kota ini?

Fakta lainnya, ada Istana Maimun yang dari sana bisa melintas masuk ke lokasi Merdeka Walk. Pedestrian sudah ada tapi dipenuhi oleh para penjual. Itu baiknya dibenahi, antara lain. Dari situ mestinya bisa jalan kaki tembus ke Merdeka Walk, di sana banyak hotel beroperasi. Jadi,  tamu-tamu hotel aman (dan semoga nyaman) berjalan.

Dia membayangkan seraya membandingkan dengan  jalan Malioboro di Yogyakarta. Trotoarnya bisa digunakan untuk  berjalan dan melihat-lihat orang berjualan. Dibuatlah beberapa ratus meter di mana orang bisa duduk-duduk. Atau sediakan mesin-mesin minuman. Restoran sudah ada di sana. Orang berjalan sekian ratus meter ada tempat duduk yang dibuat nyaman. Tidak harus mahal.***