Prof Ahman Sya : akan ada D1, D2 pada akademi komunitas.(Foto: Humas)

Prof Ahman Sya : akan ada D1, D2 pada akademi komunitas. Yag sudah ada selama ini D3 dan S1 .(Foto: Humas)

Kali ini tentang SDM pariwisata di Indonesia. Untuk kalangan muda. Kelak kesenjangan SDM pariwisata akan dijembatani dengan hadirnya pendidikan setingkat D1 dan D2 pariwisata berbentuk  akademi  komunitas.  Akademi ini akan mengisi kekosongan jenjang pendidikan setelah SMK, yang saat ini baru ada jenjang D3 dan S1. Dengan demikian hadirnya akademi ini akan meningkatkan  angka parisipasi pendidikan tinggi, artinya  ada penambahan  partisipasi penduduk secara umum pada  tingkat pendidikan tinggi  di satu wilayah.

Jadi nanti akan ada D1, D2 nya pada akademi komunitas  untuk memenuhi ketersediaan pendidikan tinggi yang relevan dengan kebutuhan pariwisata, berorientasi pada  lapangan kerja pariwisata di daerah masing –masing. Misalnya di  Wakatobi akan didirikan sekolah fokus pelayanan pada wisata selam, di Jakarta sekolah khusus perhotelan, front office.

Fokus pengajaran sesuai  dengan 32 job title berdasarkan kekhasan potensi wisata masing-masing daerah. Hal tersebut  diungkapkan  Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan (Deputi BPKK) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Prof Ahman Sya  saat Rapat Rakornas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pariwisata se-Indonesia di Batam, (01/04).

Nantinya akademi  ini akan menempel pada SMK Pariwisata, yang merupakan kerja sama Kementerian Pariwisata, Menristek Dikti, dan Kemendikbud. Teknisnya Kemenristek Dikti dan Kemendikbud yang melaksanakan,  kontennya dari  Kemenpar. Rencananya bulan April ini akan dilaksanakan MoU antara 3 Kementerian terkait, untuk pendirian  Akademi Komunitas itu. Lalu harapannya tahun ini sudah ada yang berjalan.

Pilot project nya akan dimulai di  10 destinasi unggulan pariwisata, yakni Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Danau Toba (Sumatera Utara), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Tanjung Kelayang (Kepulauan Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Morotai(Maluku Utara), serta Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur).

Peningkatan SDM pariwisata sudah mutlak segera dilaksanakan,  sebab tahun 2015 daya saing SDM pariwisata Indonesia di tingkat ASEAN  masih berada di ranking 5 di bawah Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina.  Padahal target pertumbuhan pariwisata Indonesia sebesar 20% tahun ini harus dibarengi dengan peningkatan kualitas SDM untuk meningkatkan daya saingnya. Di tingkat dunia, SDM Indonesia  berada di rangking 53 dari 141 negara atau jauh tertinggal dari Singapura di ranking 3 dan Filipina di ranking 42 dunia. Ahman Sya mengungkapkan tahun 2017 targetnya SDM Indonesia masuk diurutan ke 3, dan  tahun 2019 menjadi yang terbaik di ASEAN. Semoga tercapai target itu. ***(Ekasanti)