Kechak Dance di Uluwatu, di Bawah Langit, Teram temaram Senja Sunset, Rp 100 Juta Lebih Tiap Sore Berputar di situ

Persis pukul 6 sore, tarian kechak di Uluwatau ini mulai.(Foto:AH)

Persis pukul 6 sore, tarian kechak di Uluwatau ini mulai.(Foto:AH)

Setiap senja hari penampilan tarian kechak di saat matahari persis hendak tenggelam di horison. Sekitar 60 orang jumlah penari aktif tanpa alat dan bunyi-bunyian musik. Tari kechak diiringi hanya oleh suara dari sekitar lima puluhan penari laki… chak chak chak chak kchak kchak khak kchak…terdengar tak putus-putus. Sekitar 30 orang petugas bekerja melaksanakan pengelolaannya, dari penjualan tiket hingga mengatur ketertiban suasana.

Ketika tempat duduk di amphitheatre yang berbentuk setengah lingkaran itu penuh terisi, “jumlah penontonnya berarti sekitar 1.100 orang,” jawab salah satu petugas atas pertanyaan saya. Manakala lantai pelataran dimana tarian kechak dipanggungkan, juga

Beberapa saat sebelum kechak dimulai, momen hendak menjelang sunset, wisman menikmati seraya potret memotret.(Foto:AH)

Beberapa saat sebelum kechak dimulai, momen hendak menjelang sunset, wisman menikmati seraya potret memotret.(Foto:AH)

diisi oleh penonton yang membludak, duduk mengelilingi penari, berarti tambahan sekitar 300 orang penonton. Di saat demikian jumlah penonton mencapai 1400 orang, dan petugas menambah penjelasannya, “oo, itu bukan jarang terjadi”.

Momen episode terakhir menjelang tari kechak selesai, pukul 7 di ujung senja. (Foto:AH)

Momen episode terakhir menjelang tari kechak selesai, pukul 7 di ujung senja. (Foto:AH)

Dan benar. Sore itu, minggu lalu saat saya menonton, penonton penuh sampai ke lantai pertunjukan.

Dengan harga tiket masuk per kepala Rp 100.000, (anak-anak 50%) maka bayangkanlah, setiap hari di sore hari, setiap kali tarian kechak digelar, Rp 100.000 X 1400 orang = Rp 140 juta, sekitar itulah jumlah uang masuk ke pengelola pertunjukan tari kechak.

Amphitheatre itu berlokasi di pinggir pantai, di atas tebing yang langsung curam ke bawah ke laut lepas yang dalam, dan pemandangan lepas ternikmati ke horison di mana

Para wisman menuju tempat duduk hendak menyaksikan pagelaran tari kechak diUluwatu.(Foto:AH)

Para wisman menuju tempat duduk hendak menyaksikan pagelaran tari kechak di Uluwatu.(Foto:AH)

tampak jelas proses sang matahari perlahan menurun ke garis batas langit dan laut, menit demi menit berlangsungnya sunset.

Ini merupakan bagian dari kompleks Pura Uluwatu. Kompleks ini luas tampak rapih, bersih, terpelihara baik, dan para wisatawan berkeliling meninjaunya sekitar pukul 4 sore, sebelum berangsur memasuki amphitheatre untuk menyaksikan tarian kechak.

Kechak dance digelar di tengah alam, di pantai yang terbuka, di bawah langit, tentu saja efek psikologisnya akan lain terasakan bagi penonton dibandingkan misalnya jika menontonnya di dalam ruangan tertutup di panggung yang seratus persen artifisial. Aslinya, tarian-tarian Bali pada umumnya termasuk kechak, dimaklumi, penggelaran tradisionalnya di tengah alam, di tengah kehidupan alamiah. Sehingga tentulah ada keterkaitan “spiritual” antara citra dan suasana yang dihidupkan,— katakanlah sebagai efek — oleh gerak tari dengan suasana alam sekelilingnya.

Bagian dari kompleks Pura Uluwatu, bersih rapi dan dari sini menuju ke teater tempat gelaran tari kechak.(Foto:AH)

Bagian dari kompleks Pura Uluwatu, bersih rapi dan dari sini menuju ke teater tempat gelaran tari kechak.(Foto:AH)

Setiap orang ketika hendak memasuki kompleks pura, wajib mengenakan “selempang kain di pinggang”, atau ada yang ketika dikenakan seperti “setengah sarung”, pria wanita. Maka demikianlah tampak semua penonton saat duduk rapih menyaksikan kechak.

Penonton penuh sampai duduk di lantai, berarti jumlah pennonton 1400 orang.(Foto:AH)

Penonton penuh sampai duduk di lantai, berarti jumlah pennonton 1400 orang.(Foto:AH)

Mungkin khasnya keindahan itu seolah tak terasa tapi memikat, dan para penonton dari segala bangsa di situ, tekun menyaksikan pertunjukan kechak dengan cerita Ramayana, sekitar satu jam di bawah teram temaram cahaya alam, mereka duduk tak berbunyi. Menikmati. Mungkin tanpa sadar benar, juga menghayati.

Apalagikah yang bisa kita saksikan?Bali sebagai destinasi pariwisata memang sudah jauh majunya dan tak terbandingkan dengan daerah-daerah destinasi lain di negeri kita ini. Kenyataan itu bahkan dari konfigurasi pemandangan dunia, saya sendiri suka melihat dan merasakan Bali seolah satu dunia sendiri di tengah-tengah geografi bumi kita ini. Kehidupan masyarakatnya, tatanan hubungan manusia, alam, agama dan budaya tradisionalnya, tetap berimbang dan dinikmati oleh pengunjung atau wisatawan sejak mulainya didatangi sebagai destinasi wisata di awal abad 20 alias tahun 1920an.***(Arifin Hutabarat)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.