Parai Resort an Johnny Sugiarto
Parai Resort dan Johnny Sugiarto

Sekelompok senior zitizens turun dari dua bus langsung check in di resepsionis Parai Beach Hotel. Jam enam sore. Kemudian tour leader terdengar berseru: “Bapak2 Ibu2, ntar jam 7.30 kumpul lagi di lobi sini. Kita berangkat jam setengah delapan ya.” Lima belas menit sebelum jam janji itu, berdatangan kembali mereka ke lobi. Dialog ramai, akrab, terbuka terdengar sekejap di antara para bapak bapak dan ibu ibu itu.. “Ya, waktu ke Pontianak tempo hari, lo mau coba-coba jalan ke Kucing ya?” salah satu mengatakan.
Yang lain bilang, :”Eh, kamu waktu ke Bromo, kok bisa nyasar. Lagunya mau jalan sendiri, padahal di situ kan gampang aja kembali ke hotel?”. Yang lucu-lucu mereka ceritakan kembali ketika rupanya pernah berdarmawisata ke Tea Walk di Puncak, jalan menuju Bandung, dan, ke Bunaken di Manado.

Dari omong-omong mereka saya ( Arifin Hutabarat )tahu, sekitar 20an orang kelompokberusia antara 55 sampai 65 tahun ini gemar bepergian bersama. They look enjoying their senior citizenship life. Dapat saya pastikan mereka juga sekali-sekali bepergian ke mancanegara, selain secara periodik, seperti kelompok arisan, mengadakan tur bersama ke berbagai destinasi dalam negeri. Ke Danau Toba juga mereka sudah pergi.

Kali ini, mereka memilih pulau Bangka. Dan di pulau Bangka, tetangga pulau Bellitong yang kini menjadi buah bibir orang berkat film sukses Laskar Pelangi, telah menjadi destinasi yang menarik orang dari pulau Jawa. Itu sebenarnya berkat ketekunan manajemen Regency Parai Beach Resort, yang memulai operasinya bermula dari sebuah hotel, di pulau Bangka ini sejak 14 tahun silam.

Menyaksikan kelompok orang-orang tua ini, terbayang mengapa bukan juga kelompok orang-orang muda, katakanlah exmud alias executive muda? Atau, kelompok keluarga-keluarga muda? Karena, di Parai Resort itu, terpencil letaknya, hanya sekitar satu jam perjalanan bus dari bandara Pangkal Pinang, namun sekali sampai di kompleks itu, pantainya yang indah, laut bersih jernih, pemandangan yang ’berseni’, membuat setiap pasangan seperti honeymoon kembali.

Sekali berada di dalam hotel Parai Beach, kalau mau menikmati stay dua malam tiga hari, di akhir pekan misalnya, banyak kegiatan intern bisa dilakukan. Tentu saja berkaitan kegiatan di laut. Mulai naik glass bottom boat, berkeliling menyaksikan kehidupan ikan-ikan di bawah laut, sampai kegiatan olahraga termasuk parasailing.

Batu-batu granit memang berserakan, tampak kukuh penuh percaya diri, dibelai-belai ombak yang menerpa pelan-pelan. Pasir dasar laut yang putih jernih pun kelihatan. Sudahkah Anda menonton film Laskar Palangi, yang konon dalam dua bulan mencapai penonton berjumlah hampir empat juta? Batu granit yang besar-besar di film itu dieksploitasi dengan kamera yang membuatnya tampak eksotik dan romantis, ditingkahi oleh wajah lugu tetapi pintar anak-anak kampung, sehingga batu tak berarti secara ekonomis itu seakan sesuatu keajaiban yang perlu disaksikan sendiri.

Di pantai Parai batu-batu itu seolah mewakili Bellitong. Maksud saya, di tengah kesohoran Bellitong dewasa ini, tentulah tak bisa diharapkan orang akan datang berbondong-bondong kalau hanya untuk melihat batu-batu besar di sisi pantai. Diperlukan sarana dan prasarana untuk mendukung membawa orang ke sana, dan akomodasi untuk tinggal di sana beberapa hari.

Nah, karena itulah saya berupaya memilih akhir pekan kemarin ke pantai Parai Tenggiri pulau Bangka. Kita yang tinggal di pulau Jawa atau pulau di luar Sumatra lainnya, khususnya pembaca blog ini, saya asumsikan sudah pernah bahkan mungkin biasa mengadakan tur liburan ke banyak destinasi. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur sampai Bali, bahkan Manado di Sulawesi Utara. Atau ke manca negara.

Cobalah ke pantai Parai Beach Hotel. Memang, menurut owner resort ini, Johnny Sugiarto, sejak dua bulan ini pada hari-hari biasa – weekdays – , cukup banyak kelompok-kelompok tamu dari perusahaan swasta atau instansi pemerintah, yang datang untuk mengadakan rapat. Mereka datang dengan biaya Rp 2,4 juta per orang, sudah termasuk biaya tiket pergi pulang dari Jakarta atau Palembang, airport tax, transfer bolak balik antara bandara dan hotel, dua malam tiga hari menginap dan seluruh makan pagi, siang, malam dan yang disediakan untuk suatu acara konperensi.

Selama ini, akhir pekan cenderung penuh. Ada 40 kamar deluxe yang langsung berada sekitar 100 meter jaraknya dari bibir pantai, lima kamar suit, dan 15 kamar standar.

”Maka saya anjurkan memesan kamar sedini mungkin, sebelum datang,” kata Johnny Sugiarto.

Itinerary

Saya sendiri berangkat dari Jakarta dengan penerbangan Sriwijaya Air pukul 06.45 hari Jumat. Jam 08.00 tiba di bandara Pangkal Pinang, mobil penjemput dari hotel Parai telah menunggu. Bagi kelompok yang hendak berakhir pekan, saya rasa idealnya berangkat dengan Sriwijaya Air yang jam 09.30 dari Cengkareng. Atau, seperti kelompok para orang tua tadi, berangkat jam 3.30 sore dari Cengkareng, ternyata tiba pukul enam di hotel.

Sriwijaya Air melayani penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang lima kali sehari pergi pulang. Frekuensi penerbangan yang sungguh ideal untuk menjadi pilihan.

Malamnya, acara makan ke luar hotel, salah satu restoran di kota Sungailiat. Esoknya hari Sabtu, nikmatilah sehari penuh di dalam area resort ini. Ibarat tinggal di hotel gaya Club Mediterranee, berbagai kegiatan laut atau di pantai disediakan di sini. Pantainya pun bukan laut lepas yang membosankan, melainkan disuguhi lekuk-lekuk teluk dan pantai, hijau dengan pepohonan, di kejauhan terlihat pulau-pulau, dan tentu saja, angin segar laut terasa menyehatkan paru-paru. Makan siang atau makan malam, kalau tak keluar hotel, di restoran yang bernama Pelangi, terbuka juga memandang ke laut lepas.

Saya berseloroh pada Pak Johnny Sugiarto, yang kebetulan sedang berada di Parai. Ingatkah, kita yang tinggal di ibukota Jakarta, sempatkah melihat langit dengan bintang gemintang? Bahkan ketika sedang libur atau beraktifitas di pulau Bali, pun, kita terasa lupa ketika malam tiba sudah diliputi oleh cahaya lampu yang marak, sepanjang jalan, di hotel, restoran, dan seterusnya. Di sini, semalam saya menikmati keindahan langit bermandikan cahaya bintang penuh santai.

Bila siang hari mau tur, sampai sekarang umumnya yang dikunjungi adalah apa yang dikenal sebagai Gua Maria. Di gua itu terdapat patung Maria. Menjadi semacam ziarah religi, sekitar satu jam dengan bus dari Parai Hotel. Mau makan seafood yang khas Bangka, di luar suasana hotel, tamu biasanya dibawa ke kota Sungailiat, dan bahkan sampai pantai Pasir Padi di pinggir kota Pangkal Piang. Namanya saja pantai Parai Tenggiri, pastikan menikmati ikan tenggiri.

Di hari ketiga, atau hari Minggu kalau akhir pekan, setelah santai di pagi hari di pantai berpasir putih bersih, chek out dari hotel, biasanya anda disediakan waktu berjalan-jalan di kota Sungailiat atau di Panghkal Pinang. Apa lagi kalau bukan shopping, ya suvenir Bangka, ya makanan khas Bangka, dan makan siang sebelum akhirnya menuju bandara. Bandara Depati Amir itu pun hanya limabelas menit perjalanan dari kota Pangkal Pinang. Dan satu jam setelah take off kemudian sudah tiba kembali di kota Jakarta.