Tahun belum lama berganti. Sebuah kapal pesiar, Albatros, menjadi kapal pesiar pertama di tahun 2015 berlayar di perairan Maluku. Albatros memulai pelayarannya dari Cairns, Australia langsung menuju Banda dan Ambon sebelum menuju Filipina. Sebanyak 350 penumpang dari kapal pesiar itu turun ke darat mengikuti paket ekskursi, sekitar 200 penumpang lainnya berjalan santai menikmati suasana di sekitar pelabuhan, dan sisanya mereka memilih menjalani eskursi sendiri.

Sekitar dua bulan setelahnya, kapal pesiar L’Austral memulai pelayaran dari Darwin, Australia. Kapal pesiar tipe ekspedisi besar yang mewah itu sempat singgah sebentar menikmati pasir putih dan air laut jernih di Pulau Dodola, Maluku Utara dalam perjalanan menuju Pulau Halmahera.

     L’Austral, kapal pesiar sepanjang sekitar 145 meter berkapasitas total 435 pax membawa penumpang wisatawan yang sebagian besar dari Perancis, 80 orang warga negara Australia, dan sisanya dari AS dan Filipina. Saat kapal sandar di pelabuhan di Ambon, mereka menikmati suasana di sekitar Amahusu. Dari pelabuhan terakhir di Bitung, Sulawesi Utara, L’Austral melanjutkan pelayarannya menuju perairan lepas di sebelah utara Indonesia.

Hellen Sarita de Lima.(Foto:Ist.)

Hellen Sarita de Lima, Direktur P.T. Sandy Delima Tour & Travel. (Foto:Ist.)

     Hellen Sarita de Lima, ground handling agent kapal pesiar di Kepulauan Maluku membenarkan, selama musim pelayaran 2013/2014 Ambon dan Maluku disinggahi tiga kapal pesiar. Di musim pelayaran 2014/2015 tiga kapal pesiar lagi singgah. Tahun 2016, lima kapal, diantaranya Artagnia dan P & O, direncanakan akan singgah. Di awal 2015, dua kapal pesiar menyinggahi dua destinasi Banda dan Ambon di Maluku. Satu lagi direncanakan akan datang di bulan Oktober. Kapal-kapal pesiar yang berlayar di perairan Maluku rata-rata masuk melalui Banda dan Ambon.

Menurut para cruise liner, paket ekskursi Pulau Ambon jadi paket paling diminati penumpang. Di dalam paket ekskursi Pulau Ambon, wisatawan diajak ke perkebunan rempah, melihat dari dekat pohon cengkeh dan pala. Kemudian, mereka diajak melihat proses pembuatan sagu mulai dari pengambilan dari batang pohon sampai dibakar menjadi tepung dan dimasak jadi kue. Wisatawan pun dapat mencicipinya. Atau, mereka diajak melihat pembuatan sopi, minuman beralkohol khas Maluku yang dibuat dari penyulingan air enau. Dari sana mereka diajak melihat kehidupan sehari-hari warga, bersantai di pantai Huaha sembari melihat pertunjukan bambu gila, mengunjungi taman pemakaman Perang Dunia II, dan berhenti di Tugu Christina Marta Tiahahu untuk menikmati dan mengabadikan Teluk Ambon dari ketinggian.

Menurut pengamatan Hellen, kapal yang singgah ke Ambon rata-rata berukuran menengah ke atas mulai dari kapasitas total 400 pax. Kapal terkecil berukuran kapasitas total 300 pax. Sebagian besar merupakan kapal pesiar kelas butik dan leisure. Rata-rata, 50% dari total penumpang turun ekskursi ke darat. Rata-rata kapal singgah di Ambon selama 7-10 jam. Uang yang dibelanjakan pun cukup besar. Dia contohkan, waktu kapal Albatros singgah selama 10 jam di awal tahun ini, transaksinya mencapai sekitar Rp 3 M. Kapal-kapal pesiar yang singgah di Ambon dan Maluku pada umumnya rata-rata memulai pelayaran dari down under, dari Australia terutama.

Taman Makam Pahlawan di Sirimau,Ambon.(Foto:Disbudpar Kota Ambon)

Taman Makam Pahlawan di Sirimau,Ambon.(Foto:Disbudpar Kota Ambon)

Potensi Kepulauan Maluku menjadi destinasi kapal pesiar sangat besar. Namun infrastrukturnya baik secara kuantitas dan kualitas belum memadai. Di beberapa tempat, di Pulau Banda misalnya, diperlukan floating jetty sebab panjang dermaga belum bisa mengakomodasi kapal-kapal pesiar yang singgah. Ketersediaan bis-bis wisata dengan standar pariwisata jumlahnya belum mencukupi saat ratusan sampai ribuan wisatawan kapal pesiar singgah di Ambon. Obyek-obyek wisata yang ada masih memerlukan pengemasan sehingga menarik. Pemkot Ambon sudah merencanakan untuk menyiapkan perkebunan rempah-rempah di sekitar kota sehingga wisatawan yang datang dapat melihat ikon yang membuat Kepulauan Maluku dikenal oleh dunia.

Kapal pesiar pernah menyinggahi Ambon secara rutin sekitar awal tahun 1990-an. Sempat mati suri pasca-kerusuhan. Pernah satu kapal pesiar singgah tahun 2005. Sejak itu, kapal-kapal pesiar kembali menyinggahi Maluku secara rutin mulai tahun 2011.

Hellen berharap, pemerintah dapat melakukan promosi bersama untuk destinasi Maluku di Australia. Peminat wisata pesiar di Australia cukup besar. Apalagi jaraknya juga lebih dekat. Selain itu, diharapkan pemda dapat membantu pelaku industri melakukan survei di daerah-daerah yang punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi cruise seperti di Kisat, Maluku Barat Daya dan Kepulauan Aru. Kapal-kapal pesiar kecil sudah menyinggahi Saumlaki dan Tual. Jika di sana dibangun floating jetty maka akan menarik lebih banyak kapal berukuran lebih besar mau menyinggahinya karena peminatnya sudah ada. *** (Yun Damayanti)