Kalau Liburan Akhir Pekan Panjang, Lagi, akan pilih mana antara “Staycation” atau “Digital Detox” ?

Carilah petunjuk ini saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor.Untuk menemukannya sebaiknya dengan berjalan kaki.Di sekitar petunjuk ini ada papan informasi berisi tanaman berkhasiat obat.Diantaranya tanaman liar atau tanaman yang telah dikenal.(Foto:YD)

Carilah petunjuk ini saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor.Untuk menemukannya sebaiknya dengan berjalan kaki.Di sekitar petunjuk ini ada papan informasi berisi tanaman berkhasiat obat.Diantaranya tanaman liar atau tanaman yang telah dikenal.(Foto:YD)

Selama dua bulan terakhir ini, April dan Mei, banyak “hari terjepit” di dalam kalendar. Ini memberi kesempatan masyarakat “berhenti sementara” dari rutinitas sehari-hari. Namun, libur akhir pekan yang panjang berarti kemacetan di mana-mana. Sederhana saja, banyak orang berpikiran sama, menikmati hari libur yang cukup panjang di akhir pekan yang tidak bisa didapatkan setiap minggunya.

Pernah mencoba “Staycation” untuk mengisi libur akhir pekan panjang? Staycation, gabungan dua kegiatan yakni “stay”, berada di rumah atau tempat yang tidak jauh dari rumah, dan “vacation”, berlibur atau menikmati waktu bersantai dan tidak melakukan aktivitas rutin. Dengan demikian, kita tetap merasa seperti sedang liburan meskipun dilakukan di rumah atau di kota tempat tinggal.

Lakukan aktivitas yang kita inginkan namun tidak pernah bisa dilakukan. Kembali membaca buku. Aktivitas ini ibarat menekan pedal rem dalam-dalam sebab kita semakin terbiasa membaca secara cepat di layar selebar 5-inchi hingga 14-inchi kalimat-kalimat yang ditulis dalam beberapa ratus karakter saja dalam paragraf-paragraf pendek. Atau, bermain bersama dengan anak-anak, mencoba memasak resep-resep baru dan dinikmati bersama-sama.

Mencoba tempat-tempat makan baru di kota yang kita tinggali, berkunjung ke museum atau kebun raya atau kebun binatang, menonton pertunjukan atau even lokal merupakan beberapa contoh aktivitas staycation lainnya.

Staycation pertama kali muncul di Amerika Serikat sekitar tahun 2008 lalu. Cara berlibur ini berkembang bersamaan dengan resesi ekonomi yang melanda negeri itu sehingga membuat rencana liburan keluar negeri dilihat semakin mahal dan tidak terjangkau. Staycation juga berkembang di Eropa terutama di Inggris. Mereka bersantai di halaman belakang rumah dengan berenang atau berjemur di tepi kolam, tiduran sambil membaca buku di hammock, menonton pertunjukan seni, mendatangi museum, makan malam di restoran yang belum pernah disambangi dan kegiatan lainnya. Selama staycation, mereka menciptakan suasana liburan di dalam rumah atau liburan di kota sendiri. Benar-benar tidak melakukan aktivitas harian yang menjemukan.

Kemajuan staycation ditengarai turut mengembangkan bisnis lokal. Karena warga membelanjakan uangnya di kotanya sendiri. Gaya staycation ini sebenarnya telah kita lakukan sejak lama. Dengan liburan telah semakin jadi gaya hidup dan kebutuhan terutama bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, sudah semestinya pemda dan sektor swasta semakin kreatif menciptakan kondisi kota yang nyaman untuk dinikmati bersama.

Zen Hut di Pulau Macan,Kepulauan Seribu Jakarta.(Foto:pulaumacan.com)

Zen Hut di Pulau Macan,Kepulauan Seribu Jakarta.(Foto:pulaumacan.com)

Pilihan lain menikmati libur akhir pekan panjang adalah “digital detox”. Gaya liburan yang satu ini mendiskoneksikan kita dengan segala perangkat gawai dan koneksi komunikasi. Gaya liburan semacam ini muncul setelah penetrasi koneksi jaringan komunikasi nirkabel, teknologi gawai yang semakin canggih, dan perkembangan media sosial amat pesat dengan ekses gelombang informasi masif yang mendera kita selama 24/7.

Anda yang sudah merasa lelah dan membutuhkan jeda waktu tidak selalu terhubung patut mencoba gaya liburan ini. Salah satunya dengan memilih akomodasi yang menjunjung tinggi konsep kembali ke alam. Umumnya, akomodasi seperti itu dirancang dengan menggunakan material bangunan alami, jarang sekali menyediakan TV di dalam kamar, berada di daerah yang agak terpencil atau susah dijangkau sinyal (tak sedikit yang berada di area blank spot). Kita yang sudah amat terbiasa dengan gawai dan selalu merasa perlu terhubung hampir bisa dipastikan itu sebuah tantangan besar. Ada juga akomodasi-akomodasi seperti itu yang menyediakan pilihan paket retreat atau wellness seperti yoga dan spa.

Tantangan dari digital detox bukan pada minimnya fasilitas yang disediakan di dalam kamar tetapi bagaimana menyesuaikan diri untuk memutuskan hubungan (disconnect) agar kita bisa terhubung kembali (reconnect). Ketiadaan TV, pesawat telepon, sedikitnya saklar untuk mengisi ulang daya batere, susah atau tidak ada sinyal bukan berarti amenitas dan pelayanan di akomodasi tidak bagus. Ada akomodasi yang “minim fasilitas” di dalam kamar tapi disewakan dengan harga yang menurut kita “tidak masuk akal”, bukan? Karena disconnect itulah kemewahan yang ditawarkan.

Menjalani digital detox berarti kita memberi kesempatan lain kepada diri sendiri terhubung kembali secara alamiah dengan lingkungan dan alam sekitar. Tidak kalah penting adalah kita bersosialisasi kembali dengan berinteraksi langsung dengan orang lain. Digital detox memanusiakan kembali diri kita sebagai manusia.***(Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.