Jalan Asia Afrika dan Hotel Savoy Homan.(Foto:YD)

Jalan Asia Afrika dan Hotel Savoy Homan.(Foto:YD)

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo bersama para pemimpin negara dari Asia dan Afrika berjalan kaki di Bandung dari Hotel Savoy Homan menuju Gedung Merdeka. Itu pada 24 April lalu. Dunia seakan menyaksikan kembali perjalanan bersejarah (historic walk) yang pernah dilakukan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno bersama para pemimpin negara-negara Asia dan Afrika di tahun 1955. Tapi bagi kita orang Indonesia, perjalanan bersejarah itu bermakna lebih panjang dari sekedar berjalan kaki sepanjang sekitar 500 meter di Jalan Asia Afrika.

Setelah pembangunan Jembatan Cikapundung selesai sekitar tahun 1810, H.W. Daendels bersama dengan Bupati Bandung saat itu, R.A.A. Wiranatakusumah II, berjalan kaki dari jembatan hingga ke titik yang sekarang berada persis di depan Hotel Savoy Homan. Di tempat itu, Daendels menancapkan sebuah tongkat kayu dan berkata,”Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd.” (Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota). Sejak saat itu, titik penancapan tongkat Daendels yang sekarang berada di depan Kantor Bina Marga Jawa Barat ditetapkan menjadi titik Nol Kilometer Bandung.

Di sinilah titik Nol Kilometer Bandung.(Foto:YD)

Di sinilah titik Nol Kilometer Bandung.(Foto:YD)

Menyusuri pedestrian Jalan Asia Afrika kini terasa nyaman. Bukan hanya warga lokal, wisatawan domestik dan asing pun menikmatinya. Jalan Asia Afrika di tengah kota Bandung merupakan bagian dari Jalan Pos yang dibangun semasa Daendels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Setelah Gedung Merdeka, kita bisa menyeberangi jalan menuju Alun-alun yang kini menjadi melting pot bagi warga kota kembang. Anak-anak tampak riang gembira sebab banyak permainan disediakan dan bisa berlarian bebas di lapangan yang kini dilapisi karet sintetis. Pagi atau sore hari adalah waktu yang tepat untuk datang ke Alun-alun. Selain itu, di sana pengunjung bisa naik ke menara Mesjid Agung di sebelah selatan, melihat lansekap kota. Bagi Anda yang muslim bisa sekalian menunaikan ibadah.

Dari sana, menyeberangi jalan lagi dan menyusuri pedestrian di samping Kantor Pos Besar Bandung. Kompleks pertokoan kedua dengan warna cat biru mendominasi, di sana dulu berdiri sebuah penjara yang dikenal dengan nama Penjara Banceuy. Di belakang pertokoan itu, ada sebuah bangunan mungil berukuran sekitar 2,4 x 1,8 meter persegi. Itulah sel nomor 5, bangunan penjara yang tersisa selain menara pengawas. Belanda menjebloskan Ir. Soekarno ke penjara tersebut dan menempati sel nomor 5 mulai dari 29 Desember 1929 sampai Desember 1930. Di tempat inilah beliau menulis naskah pidato pembelaannya yang terkenal, Indonesia Menggugat. Situs bersejarah ini sekarang masih dalam tahap dibenahi. Direncanakan selesai dalam beberapa bulan ke depan dan akan diresmikan oleh presiden.

Taman di Air Mancur Bernyanyi.(Foto:YD)

Taman di Air Mancur Bernyanyi.(Foto:YD)

Keluar dari situs, menyusuri kembali pedestrian di Jalan Cikapundung Timur. Warung Ce’ Mar menjadi tempat untuk mengganjal perut yang lapar. Kendaraan diparkir di pinggir jalan tidak jauh dari warung makan jadul yang telah melewati masa beberapa generasi. Sebelum meninggalkan kawasan di sekitar Museum Konperensi Asia Afrika, singgah dulu untuk berfoto ria di jajaran bangku berwarna merah menyala di depan sebuah kolam dengan air-air yang memancur. Sayang, Air Mancur Bernyanyi (singing fountain) sedang dalam perbaikan ketika kami datang sekitar sebulan setelah perhelatan peringatan KAA ke-60. This is my historical walk. (Yun Damayanti)