Dari Watertoren ini dialirkan air bersih bagi warga kota Pangkalpinang.Hingga saat ini.(Foto:YD)

Dari Watertoren ini dialirkan air bersih bagi warga kota Pangkalpinang.Hingga saat ini.(Foto:YD)

Yang ingin menjadi kota wisata mestinya punya yang “semacam” ini. Mari kita ceritakan lagi! Bis Pownis beroperasi kembali tetapi tidak melayani rute kota Pangkalpinang-Sungailiat. Bukan pula untuk melayani masyarakat umum. Tetapi melayani para pelancong lokal yang ingin bernostalgia, dan wisatawan, pun pejalan bisnis, yang sedang berada di ibu kota Provinsi Bangka Belitung itu,— berkeliling kota.

Bis kayu ini sekarang telah mempunyai jadwal tur keliling kota dan itinerary tetap. Lama tur sekitar 60 menit saja. Jadwal turnya setiap hari Sabtu dan Minggu mulai dari pukul 10.00 hingga pukul 16.00.

Bis Pownis mengawali dan mengakhiri tur keliling kota Pangkalpinang di Museum Timah. PT Timah mempunyai beberapa museum, salah satunya di kota ini. Dari museum bis diarahkan menuju Menara Air (watertoren) di dalam kompleks perumahan lama PT Timah. Menara Air dibangun pada tahun 1932. Menampung mata air yang nyaris tak pernah kering sejak dahulu kemudian mengalirkannya ke pusat kota. Lokasinya memang sedikit lebih tinggi daripada tempat-tempat lain di kota.

Keluar dari kompleks perumahan lama dengan rumah-rumah bergaya art deco yang masih terpelihara, bis menuju pusat perniagaan di Jalan Jenderal Sudirman. Sebelumnya, bis melintasi jalan di mana pusat kesehatan pertama di kota Rumah Sakit Bakti Timah (Hoofgebow van het Ziekenhuis van de Bangka tin Winning te Pangkalpinang) berada. Tak jauh dari bangunan lama rumah sakit yang tak digunakan lagi adalah titik dimana warga Pangkalpinang biasanya mulai naik bis Pownis menuju Sungailiat.

Di lantai 2 House of Lay di Jalan Sudirman.Keturunan keluarga Lay masih menempati rumah ini.(Foto:YD)

Di lantai 2 House of Lay di Jalan Sudirman.Keturunan keluarga Lay masih menempati rumah ini.(Foto:YD)

Kecuali sungai-sungai kecil yang masih bisa dilihat, sudah hilang jejak bahwa kawasan yang sekarang menjelma menjadi pusat perniagaan Jalan Jenderal Sudirman dahulu adalah rawa-rawa dan pelabuhan perantara yang menghubungkan laut dengan daerah yang lebih dalam di Pulau Bangka. Tujuan ke jalan itu adalah Rumah Kapitan Lay Nam Sen, atau sekarang dikenal dengan nama House of Lay Nam Sen. Rumah kapitan dari Tionghoa pertama di pulau ini berada di Kampung Katak. Entah apakah sekarang masih banyak katak atau tidak di kawasan itu. Sebelum sampai di rumah tersebut, masih tampak bangunan-bangunan lama berasitektur art deco yang sekarang dimafaatkan menjadi tempat usaha.

Dari sana menuju Masjid Jamik, mesjid besar dan bersejarah di kota Pangkalpinang. Lokasinya berada di kawasan pemukiman orang Melayu. Dari sana bis menuju Residentshuis te Pangkalpinang op Bangka atau Rumah Residen yang sekarang lebih sering digunakan untuk acara-acara formal Pemkot Pangkalpinang. Di depan Rumah Residen adalah alun-alun kota. Setiap malam diramaikan oleh para penjaja makanan dan camilan.

MEsjid Jamik Pangkalpinnang.(Foto:YD)

Mesjid Jamik Pangkalpinnang.(Foto:YD)

Kemudian bis menuju Tamansari, atau orang Belanda dahulu menyebutnya Wilhelmina Park. Sebuah patung monumen masih berdiri tegak di tengah taman. Taman ini cukup terpelihara dengan baik sehingga keasriannya masih bisa dilihat dan dirasakan hingga saat ini. Dan tak jauh dari Taman Wilhelmina terdapat pemakaman Belanda (Kerkof).

Selain itu, Bis Pownis juga melewati ruas-ruas jalan di mana kami masih menyaksikan gedung Panti Wangka (Societeit Concordia), Europeesce Lagere School-Hollandisch Chineesche School-GPIB Maranatha (Kerkeraa der Protestansche Gemente to Pangkalpinang), Gereja Katedral Santo Yosef-Wisma Timah Satoe (Woonhuis te Pangkalpinang) dan Resident Kantoor. Semua itu masih berdiri di sana.

Bis Pownis yang dijadikan alat transportasi wisata kota ini unik. Dua unit Bis Pownis yang sekarang dimiliki dan dioperasikan oleh PT Timah ini sungguh-sungguh bis yang dahulu digunakan oleh warga kota Pangkalpinang dan Sungailiat. Unit bis yang masih bisa diselamatkan dari kepunahan. Sentuhan untuk merapikan kondisi bis yang didominasi material kayu itu tidak menghilangkan bentuk aslinya. Termasuk tangga dan tempat bagasi di atas atap bis.

Bis Pownis yang dijadikan bis wisata kota ini bis asli yang pernah mengangkut warga Pangkalpinang dan Sungailiat.(Foto:YD)

Bis Pownis yang dijadikan bis wisata kota ini bis asli yang pernah sehari-hari mengangkut warga Pangkalpinang dan Sungailiat.(Foto:YD)

Pownis merupakan singkatan dari Persatuan Oto-oto Warga Negara Indonesia Sungailiat. Usaha jasa transportasi ini rata-rata dijalankan oleh keturunan Tionghoa di Pulau Bangka. Maka untuk menandakan usaha tersebut legal waktu itu, ditambahkan “Warga Negara Indonesia” dalam penamaannya.

Wisata keliling kota Pangkalpinang dengan Bis Pownis tidak bayar. Karena ini merupakan salah satu program CSR PT Timah. Kapasitas bis ini 24 penumpang ditambah seorang sopir dan seorang pemandu.

Tatkala bis sedang berkeliling kota dan pemandu menjelaskan mengenai kota Pangkalpinang, jangan lupa, perhatikan ada makanan apa saja di sepanjang jalan-jalan yang dilewati. Karena kota ini adalah surga wisata kuliner dan gastronomi yang masih tersembunyi. Dan mengajak makan merupakan hospitality khas Pulau Bangka.***(Yun Damayanti)