Sapta Nirwandar meloncat lagi ke Korea Selatan mengambil contoh mutakhir ihwal wisata halal. Boleh juga dikatakan contoh ekstrim (dalam makna positif). Kita di sini menyebut wisata syariah. Bahwa halal bukan sekedar wisata dan makan minum belaka, Korea Selatan yang nyaris 100 persen penduduknya Budha, memandang fenomena halal dalam” konfigurasi indah”  kegiatan ekonomi dan industri di dunia. Sebagai ekonomi dari berbagai aspek, kehalalan membuka kegiatan ekonomi yang luas. Sapta Nirwandar sendiri mengutip “Muslim lifestyle” sebagai sesuatu yang akan diterima dunia dengan ramah pula.

Pada 28-30 Desember 2014 di Bangkok dilaksanakan Majelis Halal Pertama di Thailand. Sebanyak 1500 hadirin peserta lokal dan dari 47 negara, rangkaian sesi pembicara para ahli dari mancanegara, dan ekspo. Foto ini diberitakan dengan keterangan : Dr Sapta Nirwandar, (second from right) of the Indonesian Tourism Development Corporation, was one of the speakers. He also took time to visit the exhibition. (Foto:Travel Impact Newswire)

Pada 28-30 Desember 2014 di Bangkok dilaksanakan Majelis Halal Pertama di Thailand. Sebanyak 1500 hadirin peserta lokal dan dari 47 negara, rangkaian sesi pembicara para ahli dari mancanegara, dan ekspo. Foto ini diberitakan dengan keterangan : Dr Sapta Nirwandar, (second from right) of the Indonesian Tourism Development Corporation, was one of the speakers. He also took time to visit the exhibition. (Foto:Travel Impact Newswire)

Hasil-hasil riset yang dilakukan oleh Korea memberikan gambaran tegas jelas, secara kuantitatip dan kualitatip. Ada di sana Korea Institute of Halal Industry, data-datanya yang diperlihatkan oleh Sapta Nirwandar yang menunjukkan, antara lain, tegas dan jelasnya diuraikan siapa “players” di pasar halal: Produser barang-barang makanan, kosmetik, farmasi, itu antara lain di sektor supply; di sektor demand, terdiri dari penduduk lokal, wisatawan yang berkunjung, dan ke luar negeri berupa ekspor ke negara-negara OKI (Organisasi Kerjasama Islam).

Ekspor barang makanan ke negara OKI, telah dicapainya sbb. (dalam juta US$):

Tahun 2011 2012 2013
Ekspor “food halal” ke OKI 748 796 669
Total ekspor “food” Korea 5,386 5,645 5,725
Share “halal food” pada total ekspornya 13.9% 14.1% 11.7%

Sapta memperlihatkan hasil riset selanjutnya oleh Korea Institute of Halal Industry. Bahwa, konsumsi daging ayam halal asal lokal di Korea tahun 2013 diperkirakan 6,727 metricton dengan nilai sekitar Won 38,3 miliar atau ekivalen Rp 440,450 miliar.   Demand akan meningkat terus berdasarkan temuan-temuan, bahwa jumlah pengunjung Muslim ke Korea 415.223 tahun 2013. Antara tahun 2009-2013 pengunjung Muslim meningkat 21,6 % per tahun. Mereka memperhitungkan tahun 2018 akan mencapai 1 juta.

Penduduk muslim di Korea tahun 2013 mencapai 126.086. Antara tahun 2009-2013 per tahun meningkat rata-rata 10,3 %. Tahun 2019 diestimasikan melampaui angka 200.000.

Adapun ekspor, terlihat jelas di statistik perdagangan. Selain “food”seperti terurai di atas, kosmetik ke negara-negara Muslim telah diekspor oleh Korea US$ 89,2 juta tahun 2013, itu 7,0% dari total ekspor kosmetik Korea. Tahun 2013, ekspor farmaseutikal Korea ke negara-negara Muslim bahkan mencapai US$ 299,8 juta atau 14,2% dari total ekspor farmaseutikalnya.

TTI Halal Korea Statistik Penduduk n traveler to edit Jadi, kategori halal itu tak terbatas untuk bidang pariwisata atau travel, ujar Sapta. Jauh lebih luas yaitu menyebar di pelbagai industri dan kegiatan ekonomi, dan menjurus ke pelbagai aspek lifestyle. Produk halal bahkan bukan terbatas dikonsumsi hanya oleh orang Muslim semata, termasuk halal travel.

TTI Halal Korea Statistik to edit Jadi, mengapa, — atau kapankah, — Indonesia bisa mengambil peran “leader” dan bukan “follower”? Setidaknya, menjadi salah satu Halal Industry Center di dunia. Itu mengingat Indonesia berjumlah penduduk Muslim terbesar di antara semua negara di dunia.  Indonesia berpotensi alam yang luas bagi destinasi wisata halal. Indonesia berpotensi alam dan bahan mentah yang luas bagi industri produk halal, baik hewani, nabati, hingga kosmetik, farmasi, dan lainnya. Ya, mengapa tidak, bukan?

TTI Halal Korea Statistik ekspor to edit Pembaca, jangan berhenti sampai di sini. Silahkan melanjutkan bagaimana perkembangan, — ada yang cukup mencengangkan kita,— justru tengah berlangsung di Thailand, pada artikel selanjutnya. Bidang pariwisata, Malaysia telah maju mendahului. Filipina, China, Jepang, lihatlah, setiap minggu setiap bulan melalui pemasaran digital mereka kini menjejalkan informasi dan penawaran wisata Halal Travel, ke pasar dunia termasuk Indonesia.***