I Gde Pitana

I Gde Pitana

Kementerian Pariwisata cepat melangkah dengan mengadakan workshop di Manado, demi menyongsong “ombak besar” yang sedang membawa jumlah banyak wisman dari Tiongkok ke kota itu khususnya, destinasi Sulawesi Utara umumnya. “Ketika Manado dan laut sulawesi menggeliat ada suatu shock di antara kita. Ada ombak datang. Kalau kita tidak antisipasi dengan baik ini bisa menjadi backfire bagi kita semua. Itu yang melatarbelakangi kami membuat acara ini,” kata I Gde Pitana, Deputi Menteri Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara saat membuka workshop “Pengembangan Kepariwisataan Manado-Sulawesi Utara” di Manado pada 9-11 Agustus 2016.

“Kita harus mengantisipasi ombak yang besar ini agar dapat kita manfaatkan dengan baik,” kata Pitana selanjutnya, ” jangan ombak berlalu tanpa ada ikan yang bisa kita panen. Hari ini saya ingin mendapat masukan kemudian jadi komitmen bersama apa yang harus kita lakukan ke depan.”

Wagub Sulawesi Utara, Steven Kandouw, menguraikan “perjuangan” pimpinan Pemda dalam upaya membangun pariwisata daerahnya; nara sumber lainnya adalah Frans Teguh, Asdep Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata, Judi Rifajantoro,  Staf Khusus Menpar Bidang Konektifitas, Robert Waloni, Staf Ahli Menpar bidang Aksesibiltas, Ratna Suranti, Asdep Strategi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar, dan Happy Korah Kepala Disparda provinsi Sulut.

 

Hery Sudiarto, Herman, Eddy Sunyoto dari operator tur di Bali anggota Komite China DPP ASITA (kanan-kiri), Ibu Adella dari Kemenpar (tengah) dan Arifin Hutabarat (kiri) di workshop tersebut.

Hery Sudiarto, Herman, Eddy Sunyoto dari operator tur di Bali anggota Komite China DPP ASITA (kanan-kiri), Ibu Adella dari Kemenpar (tengah) dan Arifin Hutabarat (kiri) di workshop tersebut.

Tiga dari empat anggota Komite China DPP ASITA datang ikut serta. Mereka pun di destinasi Bali, dewasa ini tengah menghadapi dan “mengurusi” penataan bisnis terkait membajirnya jumlah wisman dari China. Di satu sisi kita telah berhasil dan mulai memetik hasil kampanye pemasaran pariwisata mancanegara dari pasar China, di sisi lain bersamaan dengan itu rupanya ada timbul masalah-masalah. Masalah-masalah dimaksud tercatat antara lain utamanya, kekurangan SDM (pramuwisata berbahasa Mandarin), masalah behavior para agen-agen tur dari China, behavior para wisatawannya juga, dan, sampai pada masalah praktik bisnis yang dinyatakan illegal. Di Manado, gejala yang sama nanti bisa timbul di lapangan, sementara pimpinan Pemda, didukung Kemenpar, menunjukkan tekad membangun dan mengembangkan pariwisata di destinasi Manado-Sulawesi Utara ini dengan segera.

Mengapa dengan segera? Bulan Juli sampai Desember 2016 ini lebih dari 50 penerbangan charter telah terjadwal akan membawa wisman China. Setidaknya tiga operator penerbangan nasional melaksanakannya: Lion Air, Citilink dan Sriwijaya Air. Kita maklum, jika airlines telah “mau” membuka rute penerbangan, berarti potensi pasarnya telah bisa diefektifkan dengan kegiatan “penjualan” (selling). Bahkan lebih jauh dari itu, jika scheduled charter flight seperti dilaksanakan sekarang menghasilkan jumlah penumpang yang menguntungkan bagi airlines, maka terbuka kemungkinan besar bagi peningkatannya menjadi pengoperasian penerbangan berjadual atau scheduled regular flights. Ketika itu terjadi, maka pariwisata di Manado-Sulawesi Utara akan berkembang mulus, ibarat pesawat terbang berada pada cruising altitude sehingga jalannya pengembangan pariwisata pada rute tersebut akan tersistem dengan baik. Tetapi kita tentu maklum juga, jika sebaliknya  yakni para agen-agen yang beroperasi dan para wisatawan tidak mendapatkan “customer and consumer satisfaction”, maka risikonya adalah operasi penerbangan charter pun bisa jadi akan berkurang. Pada keadaan ekstrim, operator penerbangan akan menghentikan operasi, manakala jumlah penumpang atau passenger load factor tidak mencukupi untuk menghasilkan keuntungan komersial.

Para anggota Komite China DPP ASITA itu memberikan kontribusi pandangan dan saran. Sebagai nara sumber dibawakan oleh Hery Sudiarto. Intinya, memang sudah umum diwacanakan, tetapi mereka mengajukannya dengan bersumber dari pengalaman faktual di lapangan.  Dan itu memang diharapkan oleh pihak Kemenpar, ketika Deputi Menteri Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara (BP3M). I Gde Pitana mengatakan: “Workshop ini harus menghasilkan sesuatu,  kita tidak berhenti pada identifikasi permasalahan tetapi solusi-solusi yang bisa kita kerjakan. Baik jangka pendek maupun jangka panjang.”

Pitana mengingatkan: “Setelah tamu sampai di sini, berapa malam kita targetkan mereka menginap? Kemana kita bawa? Dan apa yang bisa mereka lakukan? bagaimana melakukannya? Pada akhirnya kita semua tahu pemasaran pariwisata dalam bentuk apapun harus berakhir pada customer satisfaction.”

Hery Sudiarto pada intinya meminta perlunya segera diterapkan:  Sinergi antara Pemerintah (Pusat & Daerah) dengan Industri (Asosiasi), itu mengenai perlunya pelaksanaan Promosi, Regulasi, Pengawasan. Dan, penerapan konsep menjaga Keseimbangan Kualitas & Kuantitas.

Dikutipnya lagi statistik yang menunjukkan betapa “raksasa” ukuran besarnya pasar wisatawan China, sebagai berikut: Hery Sudiarto manado workshop wisman outbound China spendingHery Sudiarto manado workshop wisman outbound China