Prangko KEK Tanjung Lesung, kawasan ini memang resor baru yang berpotensi kuat untuk pengembangan pariwisatanya.

Prangko KEK Tanjung Lesung, kawasan ini memang resor baru yang berpotensi kuat untuk pengembangan pariwisatanya.

Janganlah sama sekali lupakan berkirim surat “manual” kendati internet, medsos, digital telah mengurangi jauh adanya jarak dan beda waktu antar sesama. Berkirim surat jugalah liwat pos alias pakai prangko, maksudnya. Fungsi  prangko pun telah digeser tak hanya untuk mengirim dokumen tapi juga menjadi media promosi, cinderamata dan suvenir. Prangko jenis ini dinamakan PRISMA (Prangko Identitas Milik Anda) atau  “personalized stamp”.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, menggandeng  PT Pos Indonesia menerbitkan prangko edisi KEK Tanjung Lesung berjenis PRISMA. Prangko ini  mengikuti desain terbaru Pos Indonesia tahun 2013, dengan foto Tanjung Lesung tergabung utuh dalam satu lembar prangko, tidak terpisah perforasi.

Apa kaitannya dengan pariwisata? Direktur Utama PT BWJ (Banten West Java TDC), anak usaha PT Jababeka Tbk selaku pengelola KEK Tanjung Lesung, Hyanto Wihadhi,  berpendapat ini  membangkitkan kembali keterkaitan antara dunia pariwisata dan pos yang sebenarnya  telah terjalin lama.

Menurut Tata Sugiarta Manager Filateli PT. Pos Indonesia, dalam satu tahun biasanya diterbitkan 5 jenis prangko PRISMA dan tahun ini baru  prangko KEK Tanjung Lesung ini yang diterbitkan. Tata menceritakan bahwa dulu beberapa destinasi yang memanfaatkan prangko jenis ini menyampaikan rasa puas karena  ada visitor baru yang datang ke destinasinya dan mereka mengenalnya lewat prangko yang dikirimkan rekannya melalui kartu pos.

Prangko edisi KEK Tanjung Lesung itu diluncurkana pada (19/05/2015) di Jakarta, diterbitkan 1000 set, satu set nya terdiri dari 8 gambar fasilitas KEK Tanjung Lesung dengan nilai Rp. 3000  per pcs.

 

Bisnis Prangko Saat Ini

Kini untuk mengirim barang  melalui kantor pos di Indonesia  pembayarannya harus tunai. Otomatis prangko hanya bisa digunakan untuk mengirim dokumen saja. Itu pun di kota besar saat ini telah banyak tergantikan dengan pembayaran tunai yang dilayani perusahaan kurir selain PT. Pos Indonesia.

Menyadari kondisi tersebut  kini Pos Indonesia kembali giat mensosialisasikan  prangko.  Komunitas filateli menjadi target uama sosialisasinya. Filatelis ini banyak yang merupakan kelompok  mid class dan anak muda. Maka tema sosialisasinya dipilih “Fun and Easy melalui fasilitasi kegiatan terkait filatelis, membuat  pameran, dan  lewat aneka  even lain  agar penyebaran prangko meluas.

Tugas  Pos Indonesia mengaktifkan kembali prangko yang sempat lesu membuahkan hasil, dengan omset  Rp. 30 milyar dari Rp. 3 triliun pendapatan PT Pos Indonesia  tahun 2014. Itu menaik dari omset tahun sebelumnya yang bernilai Rp. 27 miliar tahun 2013 dan Rp. 24 miliar tahun  2012.

Pos Indonesia  biasanya membuat 15 seri prangko dalam setahun diluar prangko jenis PRISMA.  Jumlahnya 30 ribu sampai 1 juta keping. Biasanya  60% dikonsumsi sisanya dikoleksi oleh kolektor yang tergabung dalam komunitas filateli.

Meski ada penurunan jumlah produksi prangko, namun peran prangko masih tetap digunakan masyarakat. Pengguna prangko di Jakarta paling banyak dan filatelis dari Jakarta juga paling besar. Sekitar 40%  penjualan prangko berasal dari Jakarta selanjutnya Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan dan Makassar. Di daerah terpencil seperti di Ende pun  meski penjualannya 100  lembar saja sebulan, tapi tetap ada pemakaian  prangko.  Untuk Pilkada saja distribusi dokumen ke daerah terpencil menggunakan prangko untuk menjangkau tempat yang jauh dari pusat kota, karena beberapa perusahaan ekspedisi tidak sanggup  menjangkau lokasi itu.

Kini target penggunaan prangko lebih pada komunitas filateli yang jumlahnya berkisar 1500 orang dikelola oleh pengurus daerah di 13 provinsi. Jumlah filatelis ini jauh dari target 1 juta filatelis yang pernah dicanangkan  Presiden Suharto tahun 1989.

Prangko termahal diterbitkan  dengan nilai Rp 50.000 dicetak di Prancis dengan menggunakan hologram sebanyak  40 ribu pcs. Di secondary market  yang diperjualbelikan  oleh filatelis, prangko dari Indonesia bernilai hingga Rp. 20 miliar yakni prangko yang diterbitkan masa jaman Hindia Belanda tahun 1864.  ***(Ekasanti)