Maskapai pesawat Garuda Indonesia yang terparkir di terminal II Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, Jumat (12/12). Usai dilaksanakannya RUPSLB Garuda Indonesia dan pelaksanaan pergantian manajemen, disebutkan bahwa kinerja keuangan Garuda dalam kondisi yang mengkhawatirkan sepanjang sembilan bulan belakangan. Menurut manajemen perseroan, Garuda Indonesia merugi 219,51 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,55 triliun dengan kurs Rp 12.336 per dollar AS. Angka tersebut meroket lebih dari enam kali lipat dari kerugian pada periode sama tahun lalu senilai 32,5 juta dollar AS. [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Maskapai penerbangan nasional kita mengesankan sedang menghadapi masa-masa “perjuangan” bukan ringan untuk mengembangkan atau bahkan untuk mempertahankan kinerja yang menguntungkan. Contohnya, Garuda Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar yaitu sekitar Rp 1,31 triliun, pada tiga bulan pertama 2017. Itu terbaca sore ini dikabarkan oleh “Info Penerbangan” (07062017 jam 15.06 WIB), yang juga menyebutkan, bahwa sebelumnya Garuda Indonesia (Persero) mencatatkan laba bersih pada 2016 sebesar Rp 124,5 miliar atau 9,36 juta dollar AS. Jumlah laba ini turun 88 persen dibandingkan penghasilan laba bersih tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1,03 triliun atau 78 juta dollar AS.

Dikutipnya juga informasi yang menyatakan, sejak tahun 2015, utang Garuda Indonesia mencapai Rp. 32,5 Triliun. Itu meningkat kembali di tahun 2016 menjadi Rp. 36,6 Triliun dan terus meningkat di tahun 2017 menjadi Rp. 39,6 Triliun.

Garuda Indonesia harus melakukan pembenahan, kata satu pernyataan yang dikutipnya.

Tapi, memang, ada juga pendapat yang menyatakan, sebagian maskapai penerbangan nasional akan cenderung utangna membesar, itu logis dan wajar mengingat tengah berlangsungnya tiap tahun penambahan jumlah pesawat pada armada masing-masisng. Pesawat-pesawat itu tentulah membawa utang.

Hanya saja, kalau terjadi rugi finansial dari operasional, itu ceritanya akan lebih panjang dan di situlah terletak tantangan sesungguhnya yang dihadapi dan harus diatasi oleh operator penerbangan sendiri. Kalau sebagai konsumen, kita, bisanya berempati. ***