Perbanyak Operator, kalau perlu charter flight.

Fenomena pariwisata kita tahun depan, bagi para tour operator yang sedang beroperasi bisa membawa saingan baru, namun bagi yang ingin aktif ke kegiatan tersebut akan merupakan kesempatan yang mestinya segera dimanfaatkan. Kebijakan, strategi dan taktik yang dipaparkan oleh Dirjen Pemasaran Pariwisata  baru-baru ini, menggunakan bahasa bisnis praktis pada bagian-bagian yang perlu,sehingga tampak semakin mendekatkan link and match antara dua pihak. Yaitu antara pemerintah dan pelaku bisnis. Selama ini, disitu terasa adanya gap, bagaimana agar kebijakan dan strategi pemerintah yang sudah ‘berbahasa bisnis’ itu, sungguh menjadi workable dan applicable dalam aktifitas bisnis pariwisata.  

Misalnya dari pengalaman VIY2008. Pada brosure yang diedarkan secara luas, – kendati sebenarnya agak terlambat karena baru diedarkan akhir Desember 2007 dan awal 2008 -, tercantum 140 daftar events yang dipasarkan. Tetapi tampaknya hanya sekitar separuh di ataranya yang terlaksana, yang berkaitan langsung untuk mendukung keberhasilan VIY2008. Lainnya ada yang memang tidak dilaksanakan, ada yang tidak pasti jadualnya, ada yang sesungguhnya tidak layak jual untuk dibawa ke pasar luar negerii, dst. Bisa dimaklumi, karena daftar tersebut sebagian bersumber dari dan menampung serta memasukkan  inputs dari instansi atau pihak ketiga lain di daerah-daerah, yang kemudian ternyata tidak workable dan applicable..

Kita menangkap kemungkinan fenomena baru tahun 2009, dengan mengutip kalimat ringkas Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar  pada TTIspot ini di satu kesempatan: “ya, sekarang kita rencanakan secara terbuka, transparan saja.”  

Kita catat perlu tiga asumsi: Pertama, bila tidak ada lagi peristiwa terorisme yang menjadi berita dunia dan kedua, tidak ada peristiwa kekerasan dalam  proses pemilu yang juga menarik media luar negeri, dan ketiga, krisis ekonomi di dunia tidak memorakparandakan semua perencanaan. Maka pariwisata Indonesia yakin akan masuk di tahap situasi dan kondisi normal dari sudut bisnis. Artinya, kaidah bisnis praktis dan perhitungan-perhitungan linier input dan output akan lebih berlaku. Berapa jumlah wisman yang akan masuk dari setiap pasar di luar negeri? Itu tergantung langsung, antara lain:

1.      Berapa  jumlah kapasitas tempat duduk pesawat pengangkut.

2.      Berapa frekuensi operasinya.

3.      Berapa banyak agen-agen yang terlibat dalam penjualan.

4.      Berapa nilai dan volume kampanye pemasaran – penjualan.

5.      Seberapa tepat strategi dan taktik kampanye pemasaran – penjualan sesuai menurut karakter pasar dan segmen konsumen serta time-frame pelaksanaan.

Pemaparan RKP pariwisata dari Dirjen Pemasaran Pariwisata telah berbicara dalam bahasa bisnis sehingga program-programnya terkonsep dalam bahasa praktis bisnis. Namun konsepsi itu akhirnya memerlukan penerapan riel yang efektif.

Misalnya disebutkan mengenai  Kebijakan Pemasaran Pariwisata:

Penyebaran wisatawan ke berbagai destinasi. Pertanyaannya: Bagaimana pendekatan untuk  melaksanakan koordinasi dengan daerah? Tahun lalu misalnya terjadi, sebuah propinsi di Kalimantan mengadakan kegiatan promosi dengan mengirim rombongan misi ke Selandia Baru. Padahal dari sudut aksesibilitas dan produk, tak ada korelasi dengan pasar tersebut, sehingga praktis menjadi kesia-siaan.

Disebutkan, Peningkatan aksesibilitas. Ini memerlukan kerjasama kental dengan Departemen Perhubungan, untuk membangun ketertarikan maskapai asing mau beroperasi ke Indonesia, atau meningkatkan frekuensi penerbangan mereka.

Disebutkan, Peningkatan pelayanan bagi wisatawan di pintuk masuk utama. Ini memerlukan upaya ekstra dari Departemen Pariwisata terhadap pengelola bandara maupun pelabuhan laut, agar mendorong pemahaman dan dukungan mereka, betapa kelancaran, kenyamanan, dan standar kualitas dari fasilitas-fasiltas umum di bandara sangatlah berperan sebagai “wajah yang tersenyum menyambut tamu dengan efisien.”  Dan, konsisten berkesinambungan. Yang dialami adalah, tersohornya bandara-bandara internasional kita dengan fasilitas toilet yang jauh dari nyaman, security yang agak meragukan, dst.

Perbanyak Operator !

Dan Charter Flight ?

Wisman Malaysia ditargetkan tahun 2009 sejumlah 1.200.000. Tahun 2008 realisasinya ditaksir 750.000an. Berarti harus ditambah 450.000an. Konsekuensi logisnya adalah:

Penerbangan Garuda Indonesia, Malaysian Airlines, AirAsia, LionAir, Batavia Air, yang menghubungkan Kuala Lumpur, Penang, Johor Bahru, dengan kota-kota Indonesia, mestilah menyediakan kapasitas tempat duduk yang cukup untuk mengangkut. Dimaklumi, pada umumnya penerbangan tersebut akan mencari pasar 50 persen dari dalam negeri berupa TKI, dan 50 persen dari luar negeri. Bahkan ada yang lebih banyak mengharapkan lebih 50 persen tempat duduknya untuk diisi dengan TKI dari dalam ke luar negeri atau sebaliknya. Bukan menargetkan wisman.

Untuk target tahun 2009, jumlah agen-agen yang menjual produk wisata Indonesia di Malaysia, niscaya diperlukan lebih banyak dibandingkan jumlah yang selama ini aktif. Effeknya ke dalam negeri, diperlukan operator tour atau handling agent juga lebih banyak, berarti, sesungguhnya terbuka peluang bisnis bagi mereka yang memperhatikannya. Dan demikianlah dampak ganda seterusnya, bagi penjualan kamar hotel, terbuka peluang tambahan bagi tenaga pramuwisata, restoran dan rumah makan, dst.

Masalahnya  tentulah, bilamana supply kurang dibandingkan demand -bilamana berhasil di-generate- maka harga akan naik. Ini akan membawa problem pula di sisi lainnya.

Jadi, ketika pemerintah membuat policy dan strategi seperti dikutip di atas, menjadi kewajiban bagi para pelaku bisnis untuk merealisir perhitungan-perhitungan bisnis praktis itu. Atau, dengan kata lain, mengefektifkannya. Seperti ungkapan the trade follow the ship, di sini terasa berlaku the trade follow the government strategy. Maklumlah, government yang memegang di tangannya strategi sekaligus funds untuk melaksanakan upaya pemasaran destinasi.

Analogi dan langkah yang diperlukan seperti tersebut di atas terasa dapat diterapkan pada situasi pasar lain. Bukankah demikian ?

Yang mencolok dari pengalaman tahun 2008 adalah target Malaysia dan Singapura. Ditargetkan tahun 2008 mencapai 1.100.000 namun berdasarkan capaian Januari-Juli yang 373.208, taksiran optimistis jumlahnya tahun 2008 akan sekitar 750.000. Demikian pun dari Singapura ditargetkan 1.800.000 untuk tahun 2008, namun realisasi  Januari-Juli mencapai 554.108, berarti setahun penuh ditaksir sekitar 1.200.000.

Tak dapat diragukan kemelesetan jauh itu berkaitan langsung dengan jumlah tempat duduk di penerbangan maupun kapal laut dan ini berkaitan langsung dengan jumlah dan minat agen-agen yang menjual produk wisatanya.

Keadaan itu membawa kita pada catatan beberapa faktor di bulan yang lalu di blogspot ini, di mana kemungkinan diperlukan lebih banyak agen-agen operator di Indonesia untuk menangani wisman dari kedua negeri itu, atau sekaligus menangani  wisman dari Negara-negara ASEAN. Konsekeuensinya, diperlukan lebih banyak agen-agen operator di Negara-negara ASEAN tersebut untuk “bersedia” menjual produk destinasi Indonesia. Nah, saat menentukan destinasi pun diperlukan kepastian fokus : Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau dan Kepri , misalnya, difokuskan saja untuk pasar Malaysia Singapura, dst. Tidak usah jauh-jauh ke Jepang, Hong Kong apalagi Australia. Jarak jauh Jepang, Hong Kong dan Australia, menjadi niche-market bagi destinasi pariwisata di Sumatra.

Jadi, salah satu aspek dalam fenomena baru yang mungkin menyingsing di tahun 2009, merupakan tuntutan lebih pro-aktif pada kalangan pelaku bisnis, bersamaan itu, bagaimana pemerintah memfasilitasi bertambahnya jumlah agen-agen yang menjual produk wisata di luar negeri dan jumlah agen yang menangani tour di dalam negeri.

Aspek lain, ya itu tadi, di sektor penyediaan jumlah penerbangan dan tempat duduk. Untuk membuka operasi baru atau penambahan scheduled airlines memang memerlukan waktu persiapan yang relative lebih panjang. Mendekati airlines yang tidak langsung beroperasi ke Indonesia, misalnya sampai Singapura atau Malaysia atau Muangthai, alternative pemasaran bersama, code-sharing antar airlines, dst bisa menjadi upaya tambahan. Atau,  upaya memperbanyak charter flight untuk pariwisata, boleh jadi sebagai pengisi alternative?

Akan masuk akal bila ada yang komentar:  mudah mengatakannya, tapi tak semudah membalik telapak tangan untuk melaksanakannya. Tetapi dari anatomi bisnis pariwisata kita dibawa pada pertanyaan wajar: siapa di antara komponen atau di antara sel-sel anatomi bisnis pariwisata itu yang akan mengambil inisiatif?  Perusahaan menengah bahkan yang kecil pun mestinya oke aja menjadi initiative namer, apa lagi perusahaan besar!

Inilah gambaran statistis jumlah wisatawan ke Indonesia yang diolah dari konsep pemerintah:

FOKUS PASAR

RealisasiJan-Juli 2008

TARGET 2009

Singapura

554.108

1.850.000

Malaysia

373.208

1.200.000

Eropa

289.673

700.000

Jepang

311.920

680.000

Australia

161.100

550.000

China

166.960

520.000

Korea Selatan

207.807

480.000

Taiwan

125.307

310.000

India

66.017

210.000

TIMUR TENGAH

25.217

100.000

Amerika

 

200.000

Filipina

150.000