Senja di Kaledupa.(Foto:YD)

Senja di Kaledupa.(Foto:YD)

Sinar matahari sudah mulai menyilaukan pada pukul tujuh pagi ketika saya mengelilingi dek lima di atas kapal Kelimutu. Di satu sisi tampak sebuah pulau kecil dan dermaganya yang menjorok ke laut. Pulau dengan garis tipis pantai berpasir putih itu sepi, sepertinya tidak berpenghuni. Di sisi lainnya, tampak sebuah perkampungan dengan pemukiman di atas permukaan laut di pulau yang lebih besar. KM Kelimutu buang jangkar (anchor) di perairan dalam di antara Pulau Kaledupa yang besar dan Pulau Hoga, pulau kecil yang terlihat sepi itu.

Begini cara kami turun dari kapal dan naik ke perahu saat berlabuh (anchor). (Foto:YD)

Begini cara kami turun dari kapal dan naik ke perahu saat berlabuh (anchor). (Foto:YD)

Pukul 08.00 kami turun dari kapal. Tangga (gangway) sudah dirapatkan dengan bagian haluan (depan) perahu kayu untuk menyelam/snorkeling. Seorang kru kapal bersiap di ujung tangga dan dua orang kru dari operator selam menunggu di atas perahu. Mereka membantu kami berpindah dari kapal ke perahu.

Di hari kedua, peserta yang hendak menyelam dan snorkeling lebih banyak dibandingkan hari pertama. Yang hendak menyelam naik ke perahu kayu sedangkan yang akan snorkeling naik ke sampan kayu bermotor. Sekitar lima menit menyeberang, kami sampai di dermaga Pulau Hoga. Mulai snorkeling lebih awal hari itu. Dua jam setengah kami habiskan bermain di perairan di depan Pulau Hoga. Kapal itu di tengah laut tampak serasa seorang ibu tengh menunggui anak-anaknya bermain.

Saat makan siang di kapal, ruang salon (ruang makan makan di kapal) dipenuhi celoteh peserta perempuan, sebagiannya ibu-ibu, yang baru pertama kali merasakan berenang dan snorkeling di laut. Beberapa diantara mereka mengaku mulai ketagihan aktivitas bahari yang satu ini dan tampak lebih semangat ketika diberitahukan di titik selam/snorkeling di Tomia adalah yang paling bagus.

Menyelam dan snorkeling di depan Pulau Hoga di Kecamatan Kaledupa (kiri).Mencoba mengendalikan perahu serta melihat dan mengenakan bedak dingin dari beras, beberapa rutinitas yang dapat dialami oleh wisatawan saat berkunjung ke kampung Bajo (kanan) (Foto:YD)

Menyelam dan snorkeling di depan Pulau Hoga di Kecamatan Kaledupa (kiri).Mencoba mengendalikan perahu serta melihat dan mengenakan bedak dingin dari beras, beberapa rutinitas yang dapat dialami oleh wisatawan saat berkunjung ke kampung Bajo (kanan) (Foto:YD)

Di siang hari itu memang beberapa orang saja yang meneruskan menyelam , peserta lainnya memilih berkunjung ke kampung Bajo di Kaledupa. Sekitar 15 menit berperahu menyeberangi laut dari kapal, kami memasuki permukiman orang-orang Bajo. Rumah-rumah berdiri di atas permukaan air laut. Orang tua, perempuan dan anak-anak cekatan mengayuh di atas sampan kayu menyeberangi laut, bermanuver di kanal-kanal sempit, dan melintas di bawah tiang-tiang penyangga rumah dan gang.

Orang Bajo memang orang laut. Meskipun modernisasi ‘menggempur’, kehidupan mereka bagai tak akan pernah bisa dilepaskan dari laut. Kearifan lokal dipertahankan. Ini dapat dilihat dari air laut yang relatif bersih di lingkungan sekitar pemukiman mereka. Perempuan-perempuan Bajo tetap mempertahankan tradisi membuat bedak dingin dari beras dan menggunakannya setiap hari. Di antara kru operator selam yang menangani kami sejak hari pertama ada orang-orang Bajo. Salah seorang di antara mereka mengajari beberapa peserta mengendalikan sampan kayu yang ‘diparkir’ di bawah rumah-rumah mereka.

Yang paling saya ingat dari orang Bajo adalah kacamata selam dari kayu. Kacamata ini mereka gunakan untuk menyelam di kedalaman 3-5 meter saat mencari ikan. Tentu saja menyelamnya tidak menggunakan tabung oksigen seperti kami. Kacamata kayu, carungmeng menurut penuturan Bajo Mola, terbuat dari kayu kalimpapah yang biasa juga digunakan untuk membuat perahu di Pulau Buton. Seorang kru membawakannya ketika saya mengatakan mencarinya. Beberapa peserta lain juga turut membeli carungmeng sebagai suvenir dari kampung Bajo.

Melilhat dan mengalami serta berinteraksi dengan komunitas Bajo di Desa Sama Bahari Kaledupa.(Foto:YD)

Melilhat dan mengalami serta berinteraksi dengan komunitas Bajo di Desa Sama Bahari Kaledupa.(Foto:YD)

Kami menunggu senja di pantai di Pulau Hoga. Sambil menunggu, kami pesta ikan bakar. Ikan-ikan kami taruh di atas bara api di tungku dari dahan, ranting dan daun-daun kelapa yang berserakan di pantai. Para peserta perempuan melupakan diet ketatnya untuk sesaat. Sore itu senja tidak sempurna. Mentari bersembunyi di balik awan. Barangkali dia ‘ngambek’ tidak diajak makan ikan bakar bersama kami.

Malam itu di atas kapal, setelah makan malam, ada yang langsung beristirahat di dalam kabin, ada yang menikmati langit malam, dan ada yang membuat acara di salon. Kami semua gembira dan tak sabar menuju tujuan terakhir, Tomia. *** (Yun Damayanti)