Seseorang memilih destinasi berdasarkan dompetnya. Ini bukan berarti cheap is everything. Sudah pasti ada harga yang harus dibayar saat melakukan perjalanan. Perjalanan apa yang ingin dilakukan, ke mana tujuannya, bagaimana cara melakukannya adalah bagian dari rangkaian kegiatan perjalanan pintar yang semakin hari semakin mudah kita lakukan. Di telapak tangan, dunia dalam genggaman. Jemari kita memutuskan hendak melakukan perjalanan sebagai traveler atau turis.

Apakah Anda pernah merasa kecewa saat tiba di suatu daya tarik wisata ternyata tidak sesuai dengan harapan dan impian? Saya pernah dan terjadi berkali-kali. Memang, pengalaman dan persepsi terhadap sebuah daya tarik wisata yang dijadikan obyek kunjungan bagi setiap orang akan berbeda-beda. Meskipun daya tarik itu telah menjadi obyek wisata terkenal, dikunjungi banyak orang, mendapat ulasan yang bagus, toh tidak akan bisa mendikte seseorang untuk sama menyukainya dengan pengunjung lain. Ini seperti kita memilih makanan: ada makanan yang memang kita sukai, tidak suka, atau sekedar mencicipinya karena ingin tahu. Adakalanya makanan yang disukai itu rasanya kurang enak, sebaliknya, makanan yang baru pertama kali dimakan malah terasa enak. Untuk dapat menikmati rasa enak itu, kadangkala harga bukanlah soal utamanya.

Seorang traveler cenderung mencari tempat-tempat baru yang jarang didatangi atau bahkan belum pernah dikunjungi. Dengan demikian, mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk menikmati pengalaman yang lebih orisinal dan memandangnya dengan persepsi baru yang lebih jelas dan segar. Sedangkan turis cenderung mengunjungi yang sudah tersedia. Maka turis itu cenderung lebih cerewet dan lebih banyak permintaan dibandingkan traveler. Tetapi juga bukan berati traveler tidak punya kebutuhan dan permintaan. Traveler ibarat pionir, sang pembuka jalan. Turis sebagai penggerak kegiatan ekonomi-sosial masyarakat. Jadi, baik traveler maupun turis berperan penting dalam industri perjalanan dan pariwisata.

Informasi seperti ini akan dihargai baik oleh turis maupun traveler.(Foto:YD)

Informasi seperti ini akan dihargai baik oleh turis maupun traveler.(Foto:YD)

Ketika seorang traveler menceritakan pengalaman perjalanannya dan menyebarluaskan foto-foto obyek-obyek yang menarik baginya, apakah itu berarti itu serta merta dapat langsung menjadi obyek wisata untuk turisme?

Brosur atau laman situs resmi wisata dari luar negeri biasanya hanya memperlihatkan beberapa lansekap atau landmark yang menjadi ciri atau penanda wilayah yang dijadikan destinasi wisata. Mengambil gambar dari sudut pandang yang ingin disampaikan dan dalam kualitas beresolusi tinggi (sehingga ketika dicetak pun hasilnya sempurna). Tidak lupa petanya sehingga calon pengunjung tahu apa saja ada di mana saja. Dilanjutkan dengan berbagai informasi umum yang pasti akan dicari oleh calon pengunjung seperti aksesibilitas dan pilihan transportasinya, jarak tempuh dan lama perjalanan, fasilitas akomodasi yang ada (penginapan, restoran/kafe), pasar atau pusat perbelanjaan, pusat informasi turis, tempat layanan kesehatan dan lain-lain. Kemudian diceritakan narasi singkat mengenai wilayah itu. Jika di wilayah tersebut kaya situs sejarah, diceritakan sekelumit sejarah singkat 1 sampai 3 situs paling terkenal. Jika ada tokoh terkenal yang lahir atau dimakamkan di situ, diceritakan juga secara singkat mengenainya. Dan sisanya, mereka serahkan kepada traveler dan turis untuk mengeksplorasi dan menemukan pengalaman apa yang ingin mereka dapatkan.

Tidak terlalu banyak yang ditampilkan tetapi dengan informasi yang selektif, padat, akurat dan berguna akan lebih efektif menggugah keinginan berkunjung ke sebuah destinasi. Banyak brosur maupun laman situs wisata resmi daerah belum memperlihatkan hal-hal semacam itu. Mereka terlihat membosankan. Jikapun ada informasi, nomor telepon atau alamat surat elektronik (email) misalnya, banyak yang out-of-date. Ada komunitas-komunitas perjalanan di media sosial sekarang meminta kepada para pengikutnya untuk mencantumkan informasi umum seperti nama tempat, bagaimana ke sana, biayanya berapa sehingga foto-foto yang diunggah dapat lebih interaktif. Situs-situs perjalanan utama seperti TripAdvisor cukup dapat membantu memberi gambaran terhadap suatu destinasi atau obyek meskipun ulasan-ulasan itu cenderung bersifat subyektif.

Apakah destinasi Anda berada di remote area yang belum terjangkau sarana komunikasi?Keakuratan informasi mutlak diperlukan dalam materi promosi semacam ini.(Foto:YD)

Apakah destinasi Anda berada di remote area yang belum terjangkau sarana komunikasi?Keakuratan informasi mutlak diperlukan dalam materi promosi semacam ini.(Foto:YD)

Saya baru saja menemukan beberapa hal menarik dari brosur-brosur wisata penyelaman dari sebuah pameran wisata dan perjalanan minat khusus. Hampir semua brosur itu dilengkapi dengan peta. Informasi aksesibilitas dan pilihan transportasi serta akomodasi cukup mudah ditemui. Harga paket beserta syarat dan ketentuannya cukup mempermudah calon pengunjung menilainya. Di bilik Provinsi Gorontalo, sebuah peta besar dilengkapi informasi bulan-bulan terbaik untuk menyelam, suhu udara rata-rata dan suhu air laut, dan beberapa informasi teknis umum lainnya. Di dalam brosurnya pun ada informasi itu.

Semua daerah menampilkan daya tarik wisata selain titik penyelaman. Ada pantai, danau, situs sejarah, festival dan lain sebagainya. Setelah bermain di dalam laut dari pagi sampai sore, atau berhari-hari di atas liveaboard, bagaimana daya tarik wisata lain ini bisa ‘menggoda’ wisatawan penyelam mau mengunjunginya jika tidak ditampilkan seinformatif dan seatraktif obyek wisata penyelaman? Mereka mau bersusah payah untuk menyelam di titik-titik terbaik, tetapi mereka mungkin tidak mau melakukan hal yang sama untuk daya tarik lain di daratan.

Meskipun, daya tarik lainnya itu sangat berguna untuk menarik wisatawan pantai dan wisatawan yang menikmati perjalanan pesiar laut dengan kapal-kapal wisata. Jumlahnya memang masih sedikit, potensinya sangat besar. Tetapi, agar mereka tertarik dibutuhkan daya tarik atau obyek yang benar-benar siap secara fisik dan pengelolaan untuk menerima pengunjung.

Tertarikah Anda mengunjunginya? (Foto:YD)

Tertarikah Anda mengunjunginya? (Foto:YD)

Saya sangat terkejut ketika menemukan dalam sebuah brosur pariwisata salah satu kabupaten di Maluku Utara yang ‘sangat jujur’ mengatakan kondisi salah satu situs sejarah di sana. Berani jujur butuh keberanian! Tetapi dalam konteks mempromosikan destinasi, apalagi mau menjualnya, dengan informasi yang minim, saya sebagai calon pengunjung jadi bertanya-tanya, untuk apa berkunjung ke obyek yang rusak dan tidak terawat? Sebagai calon pembeli, bagaimana Anda bisa menawarkan sebuah produk yang belum jadi kepada saya? Atau, apakah Anda mau saya yang membiayai restorasi situs sejarah itu?

Pengunjung dan pembeli akan merasa senang jika punya banyak pilihan daya tarik atau obyek untuk dikunjungi. Bagi destinasi, akan lebih baik Anda membuat prioritas, mempersiapkan secara serius dan profesional beberapa obyek untuk dijadikan highlight. Pilihlah yang betul-betul menggambarkan karakter wilayah. Minimal, jika saya ber-selfie, latar belakang foto sudah pasti menunjukkan itu destinasi Anda, tiada lain di belahan dunia manapun. Bagaimana dengan daftar panjang di dalam keranjang? Bukan dilupakan. Saat obyek-obyek highlight itu sudah mantap, buat lagi prioritas dari daftar di dalam keranjang untuk dikerjakan. Anda punya waktu untuk melakukannya. Sebab saya juga perlu waktu untuk menabung agar dapat jalan-jalan ke destinasi-destinasi yang saya impikan, dan siapa tahu destinasi Anda berada di dalam keranjang saya. *** (Yun Damayanti)